The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 7 - Selalu Mengejar



Eldritch itu membawa Vania masuk ke dalam lubang yang cukup dalam, itu adalah kandang bagi para Eldritch dan tidak ada satupun makhluk hidup yang dapat keluar dengan selamat dari dalam lubang itu. Seperti labirin dipenuhi dengan ruangan dimana para Eldritch itu menunggu dan beristirahat, saat ini Vania merasa kesal sampai ia tidak bisa melakukan apapun karena Eldritch itu menahan dirinya cukup erat dan kasar.


"Lepaskan aku... Sialan..."


Vania memikirkan segala cara untuk menyerang tetapi kedua tapak kegelapan-nya itu selalu saja melesat ketika mencoba untuk menyerang Eldritch atau memutuskan lengan-lengannya itu. Kedua iris-nya memancarkan cahaya merah lalu ia bersiul keras sehingga suara siul itu memanggil beberapa kelelawar yang mencoba untuk menyelamatkan dirinya, Vania menatap salah satu kelelawar itu lalu ia melebarkan matanya sehingga ia merasuki kelelawar itu.


Sekarang Vania dapat mengendalikan kelelawar yang ia rasuk, ia mulai menggunakan pikirannya untuk mengontrol tubuh dari kelelawar tersebut, kelelawar itu bergerak menuju arah Eldritch lalu melebarkan sayapnya. Vania memberikan beberapa kekuatan karena ia dapat merasuki kelelawar lalu memberikan hewan itu kekuatan yang cukup besar, hampir sama seperti Vampir. Kelelawar itu memotong lengan dan tentakel Eldritch itu lalu Vania berhasil lepas,


"Bloodlust Rage!" Vania menggerakkan kedua tapak hitam di belakangnya lalu ia bisa melihat Eldritch itu menyemburkan api tetapi ia berhasil menahan serangan itu sehingga menggenggam erat Eldritch itu menggunakan tapak kanannya lalu menghantam-nya di atas daratan beberapa kali, darah mengalir keluar dari tubuh makhluk itu sehingga Vania tergoda dengan darah yang mengalir deras itu.


Vania mendengar pergerakan dari lidah Eldritch itu, Eldritch itu mencoba untuk mengikat tubuh Vania dengan lidah lalu menariknya hanya untuk dimakan tetapi Vania berhasil memotong semua lidah itu menggunakan jari-jarinya yang tajam karena bantuan dari [Bloodlust]. Vania menggerakkan kedua tapaknya lalu ia menggenggam Eldritch itu dengan sangat erat, setelah itu ia mulai menghancurkan tubuhnya seperti merobek kertas menjadi kepingan kecil.


Vania berhasil mengalahkan Eldritch itu karena bantuan dari kekuatan hebat Vampir-nya itu, kedua tapak hitamnya mulai menghilang dan meninggalkan tato hitam yang tertera di kedua bahunya. Menggunakan kemampuan seperti itu entah kenapa membuat dirinya lelah, Vania mencoba untuk tidak menggunakannya dalam keadaan biasa tetapi ia kebingungan dengan bagaimana cara agar ia bisa bertarung dan bertahan hidup di dalam lubang tersebut.


Bloodlust Vania membawa dirinya untuk mendekati Eldritch yang sudah terbunuh itu, ia mulai memakan dan mencicipi semua darah yang tersisa sampai bersih karena ia tidak mau semua darah segar itu terbuang dengan sia-sia. Bloodlust-nya terus terpenuhi sampai kemampuan Vampir yang memperkuat kekuatan serta kecepatannya terus bertambah sehingga seluruh atributnya meningkat, ia menatap kedua tapaknya yang dipenuhi darah lalu tersenyum.


"Jadi ini 'kah... mereka memperlakukan seseorang yang sudah mencoba untuk menyelamatkan mereka. Sakit sekali... sangat sakit, rasa sakit yang diberikan oleh Eldritch itu tidak ada artinya."


Vania mencoba untuk keluar dari lubang itu sebelum terlambat karena lubang ini terlihat luas dan besar sampai ia melihat beberapa ruangan kosong yang dipenuhi dengan tengkorak serta mayat sisa yang belum dihabiskan oleh para Eldritch itu. Ia tidak mengetahui dimana letak jalan keluar jadi ia memeriksa setiap ruangan dengan ekspresi datar-nya itu, ia mencoba untuk tidak berurusan dengan Eldritch karena ia takut salah satu dari Eldritch itu memiliki kemampuan yang mengerikan.


Vania melewati jalur kanan karena penciuman-nya merasakan sesuatu yang mengerikan di jalur kanan, terdengar suara Eldritch yang sedang memakan mangsa dan teriakan para Vampir yang terkena culik itu bisa ia dengar dengan jelas. Semua indra yang dimiliki Vania sangat tajam sampai ia bisa merasakan apapun yang mencoba untuk mendekati dirinya, ia juga dapat memprediksi pergerakan karena penglihatan dan pendengaran-nya.


Vania masuk ke dalam salah satu ruangan karena di hadapannya ia bisa melihat beberapa Eldritch mulai lewat, ia juga harus berhati-hati untuk tidak membuat sebuah pergerakan karena Eldritch juga terkadang memiliki pendengaran yang sangat sensitif serta penciuman yang dapat mencari mangsa seperti Vampir atau ras lain contohnya. Eldritch itu melewati ruangan yang ditempati oleh Vania tetapi untungnya  mereka melewati ruangan itu tanpa merasa curiga.


Vania menoleh ke belakang dan ia melihat ruangan itu dipenuhi dengan tengkorak serta Eldritch kecil yang tertidur, ia menghampiri semua Eldritch kecil itu lalu memakannya karena pengaruh dari Bloodlust yang masih aktif di kedua lengannya. Lantai mulai bergerak secara tiba-tiba sampai pendengar Vania bertambah sensitif karena ia bisa merasakan beberapa Eldritch yang mencoba untuk mencari mangsa yang baru saja kabur.


Vania menyiram dirinya dengan darah Eldritch lalu ia berubah menjadi kelelawar dan terbang ke arah pojok ruangan untuk bersembunyi disana. Eldritch yang berjumlah tiga itu masuk ke dalam ruangan karena mereka mencium bau Vampire tetapi sekarang tidak karena Vania mengotori tubuhnya dengan darah Eldritch untuk bisa melarikan diri, ia pergi meninggalkan ruangan itu lalu terbang cepat dan memasuki semua ruangan itu untuk mencari celah keluar dari lubang itu.


Lubang itu benar-benar dipenuhi dengan Eldritch, mungkin perang di desanya telah usai karena bisa melihat mereka semua terluka cukup parah. Darah itu menggoda dirinya sampai memejamkan kedua matanya karena ia tidak mau bersikap gegabah melawan mereka semua di kandang yang bisa saja menjadi kuburan untuk dirinya, ia terbang cepat dan terus masuk ke dalam ruangan yang ia lewati.


Indra penciuman Vania merasakan aroma yang terasa tidak asing, tidak mungkin ia baru saja mencium aroma Lavia yang tiba-tiba datang ke dalam sarang Eldritch. Ia tidak mempercayai apa yang baru saja ia cium karena ini benar-benar aroma Lavia, ia terbang menghampiri aroma itu untuk mencari Lavia tetapi ia hanya menemukan Eldritch yang berjumlah lebih banyak lagi. Tidak lama kemudian Vania baru saja merasakan perangkap karena ia melihat Eldritch yang memiliki penampilan seperti tengkorak itu menatap dirinya.


"Jangan-jangan dia memiliki kemampuan untuk mengubah aroma... tidak mungkin, bagaimana bisa ia mengenal Lavia---"


Lavia tersenyum dan merasa bersyukur untuk melihat Vania yang selamat, untungnya ia bisa merasakan aroma Vania dari jauh berkat penciuman-nya. Ia menghampiri dirinya lalu memeluk Vania erat, Vania tersenyum kecil karena teman satunya ini selalu saja mengikuti dan mengejarnya kemana-pun ia pergi.


"Kamu bau, Vania, ahahaha... kamu menyamar dengan baik ya."


"Begitulah, apakah kamu sudah menemukan jalur keluar dari lubang neraka ini? Kita tidak bisa diam di sini karena aku melihat beberapa lubang lainnya, lubang itu dipenuhi dengan Eldritch kuat dan mereka bisa keluar kapanpun."


Lavia mengangguk lalu ia pergi menghampiri jalan yang membawa dirinya masuk ke dalam lubang itu, Vania hanya mengikutinya dari belakang sehingga ia merasakan sesuatu yang cukup menyengat dari dalam ruangan yang baru saja ia lewati tadi. Vania menarik lengan Lavia sehingga ia berhenti berlari lalu menoleh ke belakang untuk menanyakan keadaan, ia mencoba untuk mengajak Lavia masuk ke dalam ruangan di belakangnya itu.


"Lavia, ikut aku sebentar." Vania menarik lengan Lavia lalu mereka berdua menghampiri ruangan di belakang mereka yang cukup luas, mereka bisa melihat Eldritch yang sudah terbunuh serta darah kering, melihat semua mayat dan darah kering itu sepertinya semua Eldritch itu sudah mati dalam waktu yang cukup lama.


"Memang-nya ada apa dengan ruangan ini?"


"Darah."


"Sudah jelas sih..."


"Tidak-tidak, aku bercanda. Aku merasakan sesuatu yang lebih menarik dari darah, intinya kamu ubah semua darah kering dan daging-daging Eldritch ini menjadi segar kembali, Lavia. Menggunakan kemampuan Vampir-mu yang dapat meningkatkan kualitas darah."


"Kamu ini... bukannya kita sudah makan beberapa menit yang lalu?"


"Darah adalah darah, aku Vampir yang sudah kecanduan dengan darah apapun itu." Vania melihat ruangan itu dipenuhi dengan darah kering bahkan tembok itu juga sebagian bergabung dengan daging yang sudah kering, ia menatap ke depan dan melihat beberapa tengkorak yang sudah hitam karena warna dari tengkorak itu hitam serta mengeluarkan bau yang kurang sedap.


Vania melebarkan kedua matanya ketika ia melihat beberapa logam yang terlihat masih baru, "Logam ini terlihat baru walaupun sudah hancur menjadi beberapa kepingan kecil..."


"...Lavia."


Lavia menghampiri dirinya, "Kenapa?"


"Darahnya?"


"Tunggu sebentar ya..."