
"Bagaimana aku bisa melakukan itu pada nadia? Bodoh sekali.!" Alan mengutuk dirinya.
Dia baru saja melihat lagi video cctv di kamar nya.
"Aku tidak bisa bertemu dengannya" batin nadia sambil duduk di tempat tidur nya.
Ia kemudian berjalan mendekati cermin.
Membuka sedikit kerah baju nya dan melihat tanda merah yang alan berikan disana.
"Ck. ya ampun.!" Gumam nya sambil mengusap wajah.
Di sela rasa kesal nya. Nadia terbayang wajah alan dan juga bagaimana saat dia membuka baju nya di hadapan nadia. Tubuh nya yang kekar dan dada nya yang bidang masih terbayang jelas di benak nya.
"Ssssssh.. kenapa hatiku berdesir seperti ini?" Gumam nya lalu nadia masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan nya.
Di saat air membasahi seluruh tubuh nya. Dan nadia mengusap lembut leher nya menggunakan sabun. Ia terbayang lagi saat alan memebelai lembut leher mulusnya.
"Apa jadwalku selanjutnya?" Tanya alan pada sekretarisnya.
"Tidak ada pak, untuk hari ini sudah selesai namun untuk besok-" belum ia selesai berucap.
"Aku tidak menanyakan jadwalku besok.! Aku akan pulang sekarang jika ada apa-apa hubungi aku.!" Titah nya lalu dia menyambar tas kerjanya dan keluar dari ruangan kerjanya.
Saat berjalan alan berpapasan dengan fran. Dari jauh ia sudah menampakan tatapan tak sukanya pada koki hotel itu.
"Apa kamu mau pulang?" Tanya fran sopan.
"Apa itu penting bagimu?" Sahut alan ketus.
"Aku hanya bertanya,apakah itu salah kenapa jawabanmu seperti tidak suka.!" Fran menyeringai
Alan menatap wahah fran.
"Aku tidak ada waktu meladenimu.!" Ia hendak melangkah namun ucapan fran membuatnya terhenti.
"Oh iya, bagaimana kabar nadia. Apakah dia baik-baik saja?" Lanjutnya.
"Apakah penting bagimu menanyakan kabar orang lain? Atau itu memang hobimu mencampuri urusan orang lain?" Sindir alan.
"Hey, ayolah aku hanya bertanya kenapa kamu sepertinya sangat tidak suka padaku. Apalagi jika aku menanyakan kabar nadia" sambung fran.
"Dari dulu aku memang tidak suka padamu.! Dan satu hal lagi jangan pernah menanyakan lagi tentang nadia,karena itu bukan urusanmu.!" Tegas nya.
"Ciiih.. aku harap kamu menjaganya dengan baik. Jangan sampai menyakiti perasaan nya. Dan satu hal lagi.!" Fran mendekat ke arah alan. Netra mereka bertatap tajam.
"Jangan sering meninggalkan dia pergi ke luar negeri hanya untuk menemui pacarmu. Jika kamu menyia-nyiakan dia, aku akan mengambilnya darimu.!" Ancam fran.
Setelah itu dia berjalan meninggalkan alan.
"Sial..aaaaargh." gerutunya sambil menatap punggung fran yang sudah menjauh.
Alan merasa sangat tidak suka mendengar ucapan fran. Saat dia mengatakan kalau dia akan mengambil nadia.
Tibalah di apartemen.
Terlihat nadia sedang sibuk di dapur. Bahkan dia tidak menyadari kepulangan alan. Karena memang alan pulang lebih awal.
"Ehem.." suara deheman alan mengejutkan nadia.
"Ya ampun. Pa-pak alan kenapa sudah pulang?" Tanya nadia canggung.
"Aku sengaja pulang lebih awal. Karena-" ucapan nya terhenti.
Nadia juga terdiam walapun dia membelakangi alan.
"Karena aku ingin berbicara padamu. Tentang tadi malam" ucap nya pelan.
Nadia berbalik. "Aku-"
"Aku tahu kamu pasti marah padaku. Aku sungguh minta maaf karena telah melakukan hal itu. Saat itu aku benar-benar sedang mabuk sehingga aku kira kalau kamu itu adalah-"
"Kalau aku adalah celine. Wanita yang pak alan sebut tadi malam.!" Sambung nadia sambil menatap kecewa pada alan.
"Iya.." sahut alan. Dia menatap nadia, dari pakaian nya sepertinya dia coba menutupi leher nya. "Apa kamu sangat marah padaku?"
"Aku memang sangat marah dan benci. Karena pak alan menjadikanku pelampisan kemarahan pak alan" jawab nadia tegas.
"Tidak nadia. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku benar-benar tidak sadar aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya"
"Semua sudah terjadi.!" Lirih nadia. Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca teringat hal semalam dimana alan menjelajahi hampir setengah tubuh nya.
Jika dipikirkan walaupun itu sudah menjadi hak alan karena mereka suami istri tapi nadia tidak bisa menerimanya karena itu hanyalah seperti sebuah paksaan.
"Hiksss..." Suara tangisan terdengar dari mulut nadia.
Alan terkejut karena melihat nadia menangis. Dia coba mendekati nadia.
"Nadia. Kenapa kamu menangis, aku minta maaf" ucap nya.
Perlahan tangan nya menjulur untuk meraih pundak nadia. Dengan ragu akhirnya alan menyentuh nadia.
"Maafkan aku. Telah berbuat seperti itu.!"
Alan mengira nadia akan menepis tangan nya. Karena dia pikir kalau nadia tidak akan mau bersentuhan dengan alan. Namun dia tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya menangis sendu.
"Sudahlah jangan menangis maafkan aku" alan berucap lagi. Kali ini dia merangkul nadia dia coba menenangkan nadia dengan memeluk nya.
Nadiapun terkejut dengan sikap alan. Baru kali ini dia berkata dan bersikap lembut padanya. Di hatinya masih ada rasa benci nadia kenapa dia malah merasa hangat saat alan memeluk nya.
Tak ingin terlalut dalam suasana. Nadia melepaskan tubuhnya dengan tiba-tiba lalu dia berjalan masuk ke kamar nya.
Alan menghela nafas berat. "Pasti dia masih marah padaku.!" Batin nya.