
"kamu sudah bangun?" Tanya seseorang yang membuatnya terkejut.
Suara khas yang sudah sangat di hapal oleh nadia. Siapa lagi kalau bukan suara alan.
"Pak alan.!" Sahut nya.
"Aku heran padamu. Kenapa setiap kamu melihatku, ekspresimu selalu saja seperti itu. Apakah aku terlihat seperti hantu.!" Ungkap nya heran.
"Bahkan kamu lebih menyeramkan dari hantu.!" Batin nadia.
"Kenapa kamu terdiam. Kamu sedang mengumpatiku?" Tuduh nya.
"Eum..tidak.!" Jawab nadia.
"Cepatlah mandi. Kita harus turun dan sarapan" perintahnya.
"Ba-baiklah.." nadia berdiri dan dia berjalan. Baru saja beberapa langkah nadia membalikan badan nya dan menatap alan.
"Ada apa lagi?"
"Apakah.. pak alan akan menunggu disini?" Tanya nya ragu.
Alan menatap nadia.
"Memang nya kenapa kalau aku menunggu disini? Apakah ada yang melarangnya.?" Dia balik bertanya
"Ta-tapi kan.." nadia tidak melanjutkan ucapan nya.
Alan mendekat ke arah nadia. Dia berdiri tegap di hadapan nadia. Tangan kekarnya mencengkram erat pundak nadia.
"Dengar ya gadis bodoh.! Aku ingatkan sekali lagi aku tidak akan pernah tergoda olehmu. Dan kalaupun kita sudah menikah aku tidak akan pernah menyentuhmu.!" Tegasnya
"Ja di cepatlah man di.!" Ucap alan sambil menunjuk jidat nadia menggunakan jari telunjuk nya. Lalu dia membalikan tubuh nadia agar berjalan ke arah kamar mandi. Setelah itu alan bergegas keluar.
******
25 menit berlalu akhirnya nadia sudah selesai membersihkan diri dia juga memakai baju yang tempo hari alan berikan.
Tampilan nya kini sangat berbeda. Walaupun hanya dari segi pakaian saja.
Rambut nya yang lumayan panjang hanya ia gerai karena nadia baru saja mencuci rambut nya dan masih setengah basah.
"Apakah aku harus turun untuk sarapan dengannya?" Gumam nya di depan pintu hotel.
Namun mau tidak mau nadia harus melakukan itu. Dia akhirnya turun.
*******
Alan sudah duduk di sebuah kursi dan di meja makan nya sudah terhidang beberapa menu makanan untuk mereka sarapan.
"Kenapa kamu lama sekali.!" Gerutu nya.
"Cepatlah makan. Aku sudah lapar" ucap alan.
Nadia tidak menjawab hanya diam sambil mengambil piring nya.
"Kalau lapar kenapa tidak makan duluan saja. Lagi pula kenapa harus sarapan berasama seperti ini" gumam nya dalam hati.
"Setelah ini kemasi barang-barangmu yang ada di kamar"
"Baiklah" jawab nadia. Namun seketika dia menatap alan.
"Apakah kita akan pulang?" Tanya nya terkejut.
"Tentu saja. Memang nya kamu mau sampai kapan tinggal di hotel ini.!"
"Apakah pak alan akan mengantarkanku ke rumah?" Tanya nya. Dia terlihat senang karena akhirnya dia bisa kembali ke rumah nya.
"Kamu ini benar-benar bodoh.! Untuk apa aku mengantarkanmu pulang ke rumah orang tuamu.!" Tegas nya.
"Lalu.. aku akan pulang kemana?"
"Ke apartemenku.!"
"Apa.!" Dia terkejut dan bola matanya membulat sempurna.
"Ke-kenapa aku harus pulang ke apartemen pak alan. Apakah aku juga akan tinggal disana?"
"Kamu ini amnesia atau apa? Kita itu sudah menikah. Tentu saja kamu harus pulang ke apartemenku. Kalau tidak memang nya mau pulang kemana lagi. Orang tuaku juga pasti akan menanyakan nya. Jadi jangan banyak bicara ikuti saja.!" Jelasnya panjang lebar.
"Aku sudah selesai.. cepatlah habiskan sarapanmu. Aku tunggu di lobi.!" Setelah itu alan beranjak dan meninggalkan nadia.
Awalnya dia sangat menikmati makanan nya. Karena dia merasa sangat lapar. Semalaman dia tidak sempat mengisi perut karena langsung tidur. Namun karena ucapan alan tentangnya yang harus pulang ke apartemen dan tinggal disana membuat selera makan nadia hilang. Banyak hal berkecamuk di kepalanya sekarang.
*******
Nadia sudah selesai mengemasi baju-bajunya. Namun dia masih berdiri di samping tempat tidur.
Alan selalu mengatakan kalau dia tidak akan pernah tergoda oleh nadia. Namun siapa yang mengganti baju nya semalam. Dan apakah semalam alan tidur bersamanya, karena terlalu lelah dia tidur sangat pulas hingga tak ingat apapun.
"Mungkinkah dia yang mengganti pakaianku. Dan semalam dia tidur dimana? Apakah dia tidur bersamaku, tapi saat bangun tidak ada siapaun di kamar ini.!" Nadia terus bergumam hingga dia tak menyadari kedatangan alan.
"Kenapa kamu malah melamun.!"
"Ya ampun.. bikin kaget saja.!" Celetuk nadia.
"Kamu ini kenapa banyak sekali melamun. Memang nya apa yang kamu pikirkan menggunakan otak bodohmu itu.!" Celah nya.
"Cepat kita harus keluar sekarang. Aku banyak urusan.!" Alan berjalan keluar dari kamar hotel itu.
Tak lama nadia menyusulnya dengan membawa tas yang tidak terlalu besar.