
Malam hari nadia sudah masuk ke kamar nya. Hari ini dia merasa sangat lelah.
Setelah membersihkan badan nya dia langsung merebahkan tubuh nya dan berbaring di tempat tidur.
"Aku lupa memberikan kartu pada gadis bodoh itu.!" Ucap alan. Dia lalu keluar kamar dan berjalan menuju kamar nadia.
Tok...tok.. dia mengetuk pintu. Namun tidak ada sautan dari dalam. Alan menunggu beberapa saat.
"Apa dia sudah tidur? Tapi ini baru jam segini.!" Gerutunya.
Ceklekkk.. tanpa menunggu perintah alan langsung masuk ke kamar nadia. Lampu kamar nya masih menyala namun gadis itu sudah berbaring di tempat tidur nya.
"Apa kamu-" alan tidak melanjutkan ucapannya karena melihat nadia sepertinya sudah tertidur lelap.
Melihat nadia yang meringkuk membuat alan sedikit iba. Walaupun dia tidak punya rasa apapun pada nadia. Tapi dia juga manusia biasa. Dia mendekati nadia.
Alan meluruskan kaki nadia. Dan membenarkan posisi tidur nya. Lalu dia menyelimuti tubuh nadia. Alan menatap wajah nadia sesaat. Entah kenapa setiap menatap wajah nadia membuatnya seketika tidak tersadar dan terhanyut.
Tak ingin berlama-lama Lalu alan berjalan keluar dan mematikan lampu kamar nadia.
"Apa yang aku pikirkan. Sadarlah alan dia hanyalah gadis bodoh dan ceroboh yang hanya akan menemanimu selama satu tahun. Setelah itu kamu akan menceraikannya.!" Gumam alan sambil berjalan ke kamar nya.
********
Pagi hari alan sudah rapi dengan setelan jas nya. Dia berjalan ke meja makan untuk sarapan. Sambil menenteng tas kerjanya.
Disana nadia tengah sibuk menyiapkan sarapan. Dengan mencepol rambutnya dan setia menggunakan afron yang menempel di tubuh nya.
"Sarapan nya sudah siap." Ucap nadia sambil berjalan ke dapur. Alan hanya menghela nafas sambil menatap nadia. Betapa sibuk nya dia setiap hari mengurus pekerjaan rumah.
"Duduklah apa kamu tidak akan sarapan.!" Perintah alan.
"Aku masih ada pekerjaan. Aku bisa sarapan nanti" ucap nya sambil hendak melangkah.
"Aku bilang duduk.!!"
Membuat nadia terheran. Mau tidak mau dia menuruti alan.
Jarang sekali mereka sarapan berdua. Karena biasanya setelah selesai menyiapkan sarapan nadia akan sibuk dengan pekerjaan rumah lainnya. Alanpun terbiasa sarapan sendiri. Saat makan siang alan tidak ada di apartemen dan saat makan malam dia bahkan belum pulang bekerja. Alan tidak melarang nadia untuk makan bersama itu tidak ada dalam surat perjanjian mereka. Karena biar bagaimanapun alan masih punya perikemanusiaan.
Bukannya makan nadia malah memandangi alan. Entah kenapa dia lebih suka melihat alan sedang terdiam tak banyak bicara seperti itu.
"Apa aku tidak salah dengar.!" Sahut nadia dengan suara pelan namun bisa di dengar oleh alan.
"Kenapa kamu tidak sarapan.? Apa kamu tidak suka makan bersama denganku?"
"Bukan begitu. Aku akan sarapan setelah pak alan pergi saja."
"Lalu untuk apa kamu duduk disana?"
Nadia mengerutkan kedua alisnya.
"Bukankah pak alan yang menyuruhku untuk duduk"
"Ya, aku memang menyuruhmu, tapi kalau kamu tidak mau sarapan, yah untuk apa kamu disini.!" Lagi-lagi ucapan alan pedas seperti itu.
Nadia hendak berdiri lagi. Namun karena alan sudah selesai sarapan diapun tidak jadi melangkah.
"Aku sudah selesai. Ini" alan menyerahkan sebuah Black card.
"Apa itu?"
"Tentu saja kartu.."
"Maksudku untuk apa?"
"Untukmu belanja.!"
"Bukankah aku sudah memegang kartu untuk berbelanja keperluan rumah. Apakah kartu itu sudah di blokir?" Tanya nadia terheran.
"Ini untuk kamu pergi membeli baju dan kebutuhan lainnya untuk ke acara besok. Kamu bisa menggunakan nya untuk apa saja terserah kamu.!"
"Tapi-"
"Sudahlah ambil saja cepat, aku harus berangkat.!"
Nadia mengambilnya. Namun dia masih heran. Untuk apa alan memberikan lagi kartu. Sedangkan kartu yang dia berikan untuk berbelaja bulananpun saldo nya masih sangat cukup. Nadia tidak pernah menggunakannya selain untuk keperluan rumah.
Nadia memandangi pintu apartemen dimana alan baru saja keluar.
Alan keluar Sebelum melangkah pergi dia memandangi pintu apartemen dari luar.