SURPRISE WEDDING

SURPRISE WEDDING
Episode 30 : Aku merindukanmu



"Sepertinya ini cocok untukku." Ucap nadia sambil menatap dirinya di cermin.


"Aku ambil ini saja" dia membawa dua mantel yang sudah dia pilih lalu dia berjalan ke arah sofa dimana alan menunggunya tadi.


"Kemana dia? Kenapa tidak ada?" Nadia tidak melihat sosok alan disana.


"Ahk.. mungkin saja dia sedang ke toilet lebih baik aku menunggunya saja" dia duduk sambil meletakan mantel itu.


********


Hampir satu jam berlalu dan hari sepertinya sudah semakin gelap.


"Maaf nona, apakah anda jadi mengambil mantel itu?" Tanya pelayan toko tersebut (Dalan bahasa prancis tentunya)


Nadia tidak mengerti apa yang pelayan itu ucapkan. Tapi sepertinya dia menanyakan apakah nadia akan membeli mantel tersebut atau tidak.


"Ya ampun aku harus bagaimana? Aku tidak mengerti apa yang dia katakan..!" Ucap nya lirih.


"Aku sedang menunggu laki-laki yang tadi duduk disini. Sepertinya dia sedang pergi ke suatu tempat. Apakah boleh aku menunggunya dulu.?" Nadia bertanya menggunakan bahasa inggris.


Walaupun nadia tidak bisa berbahasa prancis tapi dia sedikiti fasih berbahasa inggris,maklum saja dia murid pintar saat sekolah dulu.


Sepertinya pelayan itu juga mengerti bahasa inggris dan dia menjawab ucapan nadia.


"Baiklah nona..!" Dia lalu pergi meninggalkan nadia.


"Kemana perginya pak alan.? Sudah hampir satu jam aku menunggunya. Aku juga tidak punya uang untuk membayar belanjaan ini. Kalau dia tidak kembali lagi bagaimana?" Nadia mulai khawatir.


*******


Di sebuah hotel mewah. Alan dan celine baru saja tiba.


"Ahk.. akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku." Ucap nya sambil menuju sofa.


Alan menaruh koper celine lalu dia menghampiri celine.


"Kemarilah aku sangat merindukanmu.!" Celine merajuk. Saat alan duduk di samping nya dia langsung memeluk alan dengan mesra dan erat.


Dia menatap wajah alan.


"Kamu tidak merindukanku?" Tanya nya dengan wajah yang menggoda.


"Tentu saja aku merindukanmu.!" Balas alan.


Lalu dengan cepat dia men**cium bi*bir celine. Mereka larut dalam cium**an yang penuh gair**ah.


Semakin lama semakin memperdalam cium*an nya. Lalu tangan celine perlahan meraba dada bidang alan. Dan jari-jemari nya mulai membuka mantel dan kancing kemeja alan.


Dengan cepat alan menghentikannya, dia juga melepaskan cium*an nya.


"No..! celine.!" Tolak nya keras.


"Sial..!! Lagi-lagi dia menolak.!" Gumam celine dalam hatinya.


"Dengar sayang. Aku tentu saja menginginkanmu tapi untuk melakukan hal itu aku tidak bisa.! Sebelum kita menikah aku tidak ingin melakukannya. Percayalah bukan berarti aku tidak menyayangimu. Kamu mengerti maksudku kan.?" Jelas nya pada celine sambil membelai rambut celine.


"Tapi bukankah kamu sudah menikah dengan gadis itu? Apa kamu sudah menyentuhnya dan melakukannya..!" Celine bicara dengan nada emosi. Dia juga beranjak dari duduk nya.


"Heii.. dengarlah..! Bukankah aku sudah mengatakan nya padamu kalau aku tidak mencintai gadis itu. Aku tidak mungkin tergoda olehnya apa lagi sampai menyentuhnya.!" Alan coba melerai emosi celine.


"Lalu kenapa kamu menikah dengannya.! Ceraikan saja dia, sekarangpun kalian malah pergi berbulan madu."


"Ini semua rencana ibuku. Kamu tenang saja suatu saat nanti aku juga pasti akan menceraikan gadis itu. Kalau sekarang tentu saja akan menjadi pertanyaan bagi keluargaku.!"


"Lalu apakah kamu akan menikahiku.!"


"Tentu saja.! Aku akan menikahimu, aku akan berbicara kepada keluargaku untuk merestui hubungan kita, jadi untuk saat ini aku mohon kamu bersabar dulu."


"Baiklah.!"


Alan lalu memeluk celine dengan lembut.


******


Nadia masih menunggu di pusat perbelanjaan. Dia sudah menyerahkan kembali mantel yang ingin dia beli, karena alan tak kunjung datang.


"Maaf nona. Toko kami akan segera tutup..!" (Dalam bahasa inggris) Pelayan yang tadi menghampirinya lagi.


"Oh, Baiklah kalau begitu aku akan keluar.!" Nadia menjawab nya juga (Dalam bahasa inggris)


Dia berjalan keluar dari toko. Dengan bingung dan tak tahu harus kemana. Haruskan dia menunggu alan lagi atau dia pulang ke hotel. Tapi dia tidak tahu alamat hotel dirgantara.


Sambil berjalan dia coba menghubungi alan. Namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Kenapa dia tidak bisa di hubungi, aku harus bagaimana?" Nadia khawatir.


Nadia terus berjalan. Dia menyusuri jalanan kota paris di tengah cuaca dingin. Tanpa mengenakan baju hangat.


Semakin dia berjalan semakin tak ada orang yang dia temui. Hatinya sudah tak karuan dia sangat takut pada saat itu. Namun karena nadia tidak tahu dia malah masuk ke jalanan yang semakin sepi.


Dia coba terus menghubungi alan, mencoba lagi dan lagi namun tiba-tiba dia di kagetkan oleh kedatangan dua orang laki-laki yang muncul secara tiba-tiba di depan nya.


"Halo nona.. Kau mau kemana?" Dia mendekati nadia. Nadia masih coba berjalan dan kedua laki-laki itu memepet nya.


"Kau mau kemana? Kami akan mengantarnya.!"


"Tolong jangan ganggu aku.!" Ucap nadia dalam bahasa inggris. Namun kedua laki-laki itu malah tertawa.


"Apa yang kau katakan.!! Ayo ikut saja dengan kami.!" Dia menarik tangan nadia. Nadia menolak dengan keras.


"Tidak..! Lepaskan aku.. lepaskan..!" Teriak nadia.


"Tolong.!!" Dia semakin berteriak.


"Tolog apakah ada orang? Tolong aku.!"