
Nadia meletakan dua cangkir teh manis di meja. Lalu dia ikut duduk di samping pak husien.
Di tatap nya alan yang berada di hadapan nya. Dengan wajah bingung.
"Mari. Silahkan di minum" ucap pak husein sambil mendekatkan cangir teh kepada alan.
"Emm..iya terimakasih" Dengan segera alan meraih nya. Lalu perlahan meminum teh itu.
Suasana menjadi cangungg lagi. Dan pak husein pun ikut bingung kenapa mereka tidak ada yang memulai pembicaraan satupun.
"Apakah bapak membuat kalian tidak nyaman? Kalau begitu silahkan kalian mengobrol saja bapak akan kekamar" ucap pak husein dan hendak berdiri namun nadia menghentikan nya.
"Bapak jangan pergi disini saja. Eum... Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan" jelasnya sambil menatap alan.
"Ada apa?" Taya pak husein. Namun lagi-lagi mereka hanya saling tatap.
"Pak alan mau mengatakn sesuatu pada bapak" ucap nadia menekan alan agar mau berbicara.
"Oh begitu. Baiklah ada apa?" Lagi-lagi pak husein bertanya dengan penasaran.
Melihat alan yang masih mengunci mulutnya membuat nadia memberikan kode agar alan mau berbicara.
"Be-begini pak. Saya berencana mengundang bapak dan nadia untuk makan malam besok.!" Ucap nya dengan sok tenang.
"Makan malam.!" Sahut pak husein.
"Iyah." Jawab alan.
"Memang nya dalam rangka apa bapak dan nadia di undang untuk makan malam? Apakah di tempat kerja kamu ada acara lagi?" Dia kini bertanya pada nadia.
"Eh.. itu.-" nadia gugup
"Ini bukan acara di tempat kerja tapi. Acara yang di adakan oleh pak alan langsung pak" jelas nya.
"Ohh..jadi boss kamu ini mengundang kita.
Wah..baru kali ini bapak di undang ke acara oleh boss di tempat kamu kerja" ucap nya dengan nada suara bahagia.
"Jadi. Bapak bersedia datang?" Alan bertanya lagi.
"Tentu saja.! Bapak bersedia iya kan nak.!" Dia meyakinkan nadia.
Nadia hanya mengganguk dan tersenyum kecut.
********
Ke esokan harinya. Alan sudah berada di dalam mobil nya untuk menjemput nadia. Dia berangkat dari apartemen. Sedangkan keluarganya sudah di beritahu tentang jam dan tempat pertemuan itu. Mereka akan bertemu disana.
Pak husein sudah sangat rapih dia mengenakan celana panjang hitam dan baju kemeja lengan panjang yang terlihat sangat sederhana. Sedangkan nadia, dia kali ini mengenakan sebuah rok yang tak terlalu pendek di bawah lututnya, itu adalah rok satu-satunya yang dia punya. dan baju kemeja lengan panjang rambutnya di urai sedangkan wajahnya hanya di poles lipstick saja. Tanpa beriaspun nadia sudah sangat cantik.
"Sepertinya nak alan sudah datang ayok kita keluar" ajak pak husein begitu nadia keluar dari kamar.
"Tunggu pak. Naufal tidak ikut?" Tanya nya mencari adik laki-laki nya itu.
"Tidak. Dia tidak mau ikut. Katanya dia mau ke rumah teman nya untuk meminjam buku" jelas pak husein.
Setelah keluar dan menghampiri alan. Akhirnya mereka berangkat. Alan memacu kendaraan nya dengan kecepatan standar. Hingga mobil nya tiba di sebuah restoran mewah.
Melihat tempat yang mereka datangi pak husein sedikit minder.
"Apa tidak salah kita akan makan malam disini?" Tanya nya
"Tidak pak. Ini memang tempat nya" jawab nadia.
Dia lalu menatap sendal yang di kenalan nya sudah sangat usang. Dan merasa sedikit malu. Namun nadia bersikap biasa saja mau bagaimana lagi itu adalah keadaan mereka.
*******
Alan nadia dan pak husein memasuk lestoran mewah itu. Saat sudah di dalam keluarganya bisa melihat kedatangan alan.
"Maaf aku sedikit terlambat" ucap alan saat tiba di sebuah meja. Ayah,ibu dan eyang nya lalu berdiri.
Pak husein terlihat kebingungan, siapa mereka. Pakaian nya begitu rapih.
"Perkenalkan ini kedua orang tua saya dan ini eyang saya" ucap nya kepada pak husein.
"Oh iya. Selamat malam. Saya bapak nya nadia." Ucap nya dia coba menyalami mereka. Keluarga alan membalas nya.
"Silahkan duduk" ajak pak prabu.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan buku menu. Namun eyang nya meminta menu makanan yang spesial. Mereka nampak terdiam canggung sambil menunggu makanan.
"Apakah kalian hanya datang berdua?" Tanya ibu alan secara tiba-tiba.
"Iy-iyah. Kami haya berdua, di rumah ada anak laki-laki saya tapi dia tidak ikut" jawab pak husein.
"Lalu istri bapak tidak ikut.?" Tanya nya lagi.
"Eh, anu.. kalau istri saya sudah lama meninggal" jawab pak husein dengan sedikit tersenyum.
"Oh.. ya ampun maaf saya tidak tahu"
"Tidak apa-apa bu" sahut pak husein.
Keluarga alan merasa tidak enak, dan meminta maaf. Lalu tak lama makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Lebih baik kita makan saja dulu. Silahkan" ucap pak prabu.
"Iya terimakasih pak" sahut nadia.
Selang beberapa saat akhirnya mereka selesai. Alan meminta pelayan untuk membereskan meja. Lalu memesan beberapa kudapan.
"Pak alan. Terimakasih atas ajakan makan malam nya. Makanan nya sangat enak dan saya juga tidak menyangka kalau pak alan juga mengajak keluarga nya untuk makan malam bersama" ucap pak husein
Merasa canggung dengan sebutan "pak" alan menjadi salah tingkah.
"Bukankah memang seharus nya kita bertemu malam ini pak" sahut eyang nya.
Merasa ambigu dengan pernyataan eyang nya. Pak husein melirik nadia.
"Sebenarnya alan sudah merencanakan pertemuan keluarga ini" sambung pak prabu
"Pertemuan keluarga.!" Pak husein semakin kebingungan. Melihat sikap pak husein sudah bisa di pastikan kalau alan belum menceritakan maksud dan tujuan nya. Alan memalingkan wajah nya saat ayah nya mentap nya dengan tajam.
"Iyah pak. Pertemuan keluarga ini sudah di rencanakan apakah alan tidak mengatakan nya. Sekaligus kita akan membahas rencana pertunagan alan dan nadia"
Deggg... Mendengar ucapan pak prabu membuat nya terkejut dan gugup.
"Tu-tunangan" sahut pak husein. "Maaf pak saya belum mengerti ucapan bapak. Maksudnya pertunangan nadia dan pak alan.!"
Ketiga orang tua di hadapan alan menatap nya tajam. Sepertinya anak nya tidak bisa di andalkan.
Karena mendapat tatapan yang sangat mengintimidasi dari ayah,ibu dan eyang nya akhirnya alan memberanikan diri membuka suara.
"Begini pak. Sebenarnya tujuan saya mengajak makan malam adalah untuk bertemu dengan keluarga saya dan sekaligus saya-" ucapan nya terhenti dia menatap orang-orang yang ada di hadapan nya secara bergantian.
"Saya ingin melamar Nadia" ucap nya lantang .