SURPRISE WEDDING

SURPRISE WEDDING
Episode 49 : Pria jahat



Alan semakin liar. Dia masih menikmati bi*bir nadia yang. Namun tangan nya bergerak menurun.


Dia menyibakkan kaos yang nadia kenakan. Dengan penuh pakasaan dia berhasil melepaskan pakain nadia. Hingga kini hanya tinggal br*a yang nadia kenakan. Alan berhenti sejenak dia memandangi nadia.


Di tengah rasa takutnya. Nadia masih menangis sambil menutup bagian dadanya.


"Tolong jangan lakukan itu pak. Lepaskan saya. Saya ini nadia. Bukan pacar pak alan.!" Ucap nya


"Cihh..." Desis alan "Nadia.!! Tubuhmu sangat indah" rancau nya menatap nadia.


Dengan paksa lagi dia membuka kedua tangan nadia yang menghalangi pemandangan nya.


"Akhhh.." teriak nadia. Saat alan membenamkan wajah nya dia kedua gundukaan kenyal nya.


Kepala alan seperti bayi yang bergerak ke kanan dan kiri. Nadia tidak bisa berkutik sama sekali. Kedua tangan nya di pegang oleh tangan kekar alan.


Rasa kesal, takut dan marah di dalam hatinya bergantian dengan desiran yang dia rasakan di dadanya saat alan mulai mencium*i dadanya yang ken***yal.


Dia meninggalkan tanda merah di dada nadia beberapa kali bahkan tangan alan mulai mengerlia menyusuri punggung nadia mencai pengait untuk melepaskan br*a nadia.


Saat jarinya menemukannya dengan cepat dia melepasnya. Dan meleparnya ke sembarang arah.


"Tidakkkkk....!!!" Teriak nadia dengan sisa tenaga nya.


**********


Pagi hari..


Jam sudah menunjukan pukul 07:53 handphone alan terus berdering.


Namun dia belum bergeming sama sekali. Dengan bertelanjang dada alan masih tertidur.


Drrrrrt......drrrrrt.....drrrrt...


Suara deringan terus terdengar. Hingga akhirnya dia tersadar dan dengan berat membuka matanya.


Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamarnya membuat nya merasa silah.


"Uuuuuhhhh.. kenapa handphone itu terus berbunyi, mengganggu saja.!" Ucap nya sambil memijat pelipis jidat nya.


Dengan kepala yang masih berat alan coba beranjak. "Ssssssshh.. kenapa pusing sekali.!" Rintih nya.


Kini dia telah bersandar ke hulu ranjang tempat tidur nya.


Dengan malas alan meraih handphone nya di nakas.


"Halo, ada apa kenapa kamu terus menghubungiku.!" Tegas nya begitu dia menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Maaf pak jika saya mengganggu. Saya hanya mengingatkan kalau hari ini ada pertemuan penting"


"Memang nya jam berapa pertemuan nya?"


"Jam 9 pagi pak. Dan sekarang sudah jam 8 namun pak alan belum datang ke hotel.!" Ternyata sekretarisnya yang menghubungi nya.


"Baiklah aku akan tiba disana dalam 30 menit,jika terlambat maka kau urus saja dulu gantikan aku.!" dia langsung mematikan sambungan telepon nya.


"Mengganggu orang saja.!" Gerutunya.


Dia melihat jam di handphone nya. Benar saja sudah jam 8 pagi. Kenapa dia tertidur sangat lelap sampai lupa waktu. Bahkan nadia pun tidak membangunkan nya.


"Kemana dia? Kenapa dia tidak membangunkanku.!" Umpatnya.


Dengan mata yang masih sulit terbuka lebar. Alan mengambil benda itu.


Dia menatap nya "apa ini? Bukankah ini-" dia tidak melanjutkan ucapan nya.


Dia melihat sekeliling kamar nya. Dan di lantai ada baju prempuan. Diapun melangkah lagi untuk mengambil nya. Disisi lain juga ada kemeja nya yang tergeletak.


"Kenapa bisa ada pakaian perempuan di kamarku?" Tanya nya heran. Dia menatap tempat tidur nya yang sangat berantakan.


"Apa yang terjadi semalam di kamarku.! Dan ini pakaian siapa?" Tanya nya.


Dia coba mengingat nya namun kepalanya malah terasa pusing.


"Sebaiknya aku mandi dulu" ucap alan


Dia melempar pakaian itu ke tempat tidurnya. Lalu masuk ke kamar mandi. Setelah melepas celananya. Alan menyalakan shower dan menyiram tubuh nya dengan air dingin sehingga dia merasa sangat segar.


Setelah mandi dan berpakaian rapi. Alan menatap lagi pakaian dalam itu. Dia duduk di tempat tidur.


"Apa yang terjadi semalam.?" Tanya nya.


Dia coba mengingatnya. Yang dia ingat semalam dia pergi ke sebuah clu*b malam. Disana alan menenggak beberapa botol minum dan akhirnya dia kehilangan kesadaran nya.


"Siapa yang mengantarku pulang? Apakah aku membawa perempuan?" Dia masih berpikir. Akhirnya alan mengeluarkan handphone. Lalu dia melihat rekaman cctv di apartemen nya melalu handphone.


Semya terlihat biasa-biasa saja. Saat dia di antarkan oleh seseorang dari clu**b itu. Nadia membuka pintu apartemen mereka berdua membawa alan ke kamar nya.


Dengan baikknya nadia melepaskan sepatu alan dan jas yang ia kenakan dan susah payah menggeser tubuh alan agar naik ke atas ranjang.


Dia masih melihat semua kejadian itu. Hingga akhirnya sebuah kejadian membuat mata alan membulat sempurna dan dia langsung beranjak dari duduk nya.


"Tidak.!!! Tidak mungkin aku melakukan itu" ucap nya sangat terkejut.


Alan bergegas keluar dari kamar nya. Kini dia sudah berdiri depan pintu kamar nadia.


Tok...tok..


Dengan ragu alan mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan dari sang penghuni.


Nadia terperangah saat mendengar pintu kamar nya di ketuk. Dia yang sedang duduk dengan mata yang sembab karena menangis atas kejadian semalam.


"Nadia, apa kamu di dalam?" Tanya alan dari luar.


Nadia masih diam.


"Aku ingin berbicara denganmu, apakah kamu didalam?" Teriak alan lagi.


Sepertinya nadia tidak bersedia membukakan pintu untuknya. Alan menghela nafas berat.


Ia lalu melihat jam pada arlojinya. Sudah sangat terlambat dia harus secepatnya ke hotel.


"Aku akan berangkat kerja. Aku ingin berbicara denganmu. Tentang-" dia terdiam.


"Tentang kejadian semalam" lanjutnya.


Setelah mendengar langkah alan menjauh dan sepertinya dia sudah keluar dari apartemen. Nadiapun turun dari tempat tidurnya. Dan menempelkan telinganya pada pintu kamar.


"Sepertinya dia sudah pergi.! Dasar pria jahat aku tidak mau melihat wajah nya" umpat nadia dengan kesal.