
Celine berada di depan cermin riasnya, dia memandangi leher nya yang penuh tanda merah bahkan sampai ke dada bagian atasnya.
Tidak biasanya alan berbuat seperti ini saat mereka berc**uman. Bahkan selama tiga tahun lebih baru kali ini alan melakukannya.
Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Alan keluar dari kamar mandi.
"Kamu sudah selesai?" Tanya celine lembut.
"Sudah." Jawab alan singkat.
Dia lalu mengambil pakaiannya dan bersiap. Sedangkan celine hanya duduk menatap alan.
Tak lama dia sudah rapih dan mengemas barang nya.
"Apakah yakin aku tidak perlu mengantarkanmu ke airport?" Tanya celine sambil menghampiri alan.
"Tidak perlu. Sudah ada orang yang menjemputku"
"Hmmm... Baiklah"
Akhirnya alan berjalan keluar dari apartemen di dampingi celine.
"Aku berangkat sekarang"
"Hati-hati" celine dengan cepat mengec**up bibir alan. Setelah itu alan berlalu tanpa membalasnya dia berjalan memasuki lift.
Setelah di dalam lift, alan merogoh saku celana nya dan mengambil handphone nya. Dia akan menghubungi seseorang.
"Halo, Lakukan pekerjaanmu" ucapnya begitu sambungan telepon itu terjawab.
"Baik pak" sahut suara laki-laki di seberang sana.
[Mereka bercakap menggunakan bahasa inggris]
Setelah menutup panggilan telepon nya. Alan tersenyum licik dengan tatapan tajam. Seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu.
************
Setelah penerbangan beberapa jam menggunakan jet pribadi nya.
Alan sampai di apartemen nya pada sore hari waktu indonesia.
Dia membuka pintu,lalu melihat sekitar apartemen.
"Kemana dia? Apakah dia sedang mengunjungi orang tuanya?" Gumam alan sambil berjalan masuk. Saat dia hendak menuju kamar nya dia menatap pintu kamar nadia. Akhirnya dia berjalan mendekat dan membuka pintu itu.
"Tidak di kunci.! Kemana gadis bodoh itu?"
Setelah membersihkan badan nya. Alan menatap jam tangan nya. Sudah hampir gelap tapi nadia belum juga kembali. Biasanya jika mengunjungi orang tuanya. Dia sudah kembali pada jam-jam itu.
Alan lalu menghubunginya. Deringan pertama belum ada jawaban dari nadia. Hingga alan kesal dibuat nya.
"Gadis bodoh.! Kemana dia pergi.!!"
Dia bergumam sambil berjalan menuju sofa. Niat hati ingin mengirim pesan pada nadia. Namun ada pesan dua hari lalu dari sang ibu yang mengabarkan kalau dia membawa nadia menginap di rumah utama.
Dengan secepat kilat. Alan berjalan memasuki kamar nya dan mengambil kunci mobil. Hingga akhirnya dia langsung menuju rumah kedua orang tuanya.
************
Alan tiba di sana saat hari sudah gelap. Begitu sampai dia langsung masuk ke rumah yang luas bak istana itu.
"Pak alan" sapa beberapa pelayan.
"Selamat malam pak"
Mereka terkejut melihat kedatangan alan, sudah beberapa tahun lamanya alan tidak pernah menginjakan kaki di rumah utama.
"Dimana ibu dan ayah?" Tanya nya pada kepala pelayan di rumah itu.
"Beliau sedang di ruang keluarga sepertinya"
Tanpa menunggu lagi alan langsung berjalan cepat.
"Nadiaa.!!!!" Panggilnya begitu dia mendekati ruangan dimana kedua orang tuanya sedang berkumpul.
"Alan, kenapa kamu teriak-teriak.! Bukannya memberi salam" ucap sang ibu seraya berdiri.
"Aku mencari nadia, dimana dia bu?"
"Duduk saja dulu, tenang saja dia ada dikamarmu"
Dia segera menaiki anak tangga dan menuju kamar nya. Tak nampak nadia disana namun alan mendengar gemericik air dari kamar mandi sudah bisa di pastikan nadia sedang berada di kamar mandi.
Alan lantas menutup pintu kamar nya dan duduk di sebuah kursi.
Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka, nadia keluar dari sana dengan menggunakan sehelai handuk yang membungkus badan nya. Rambut yang setengah kering itu terurai.
Sambil bersenandung nadia berjalan menuju wardobe. Alan menatap tubuh nadia dari atas hingga bawah. Tak dapat di pungkiri nadia sangat terlihat seksi terlebih handuk yang ia pakai cukup pendek hanya melingkari bagian dada bawahnya hingga atas lutut bahkan setengah pahanya.
Alan membelakakan matanya. Tanpa di duga nadia melepas handuk itu, hingga nampak lah seluruh badan nya terlihat oleh alan dari arah belakang. Sepertinya nadia belum menyadari keberadaan alan. Alan sontak berdiri dari duduk nya. Dan susah payah menelan saliva nya.
"Ehemm..." Suara deheman itu membuat nadia sangat terkejut. Dia yang hendak memakai pakaian dalam langsung berbalik dan betapa terkejutnya dia saat melihat alan sudah berdiri di belakang nya.