SURPRISE WEDDING

SURPRISE WEDDING
Episode 5 : Tidak boleh menolak



"Berdirilah.!" Perintah nya. Ternyata alan tidak sampai hati membuat Nadia bersujud padanya. "Bangun.!"


Nadia dengan perlahan mulai berdiri dan menatap alan.


"Kau tidak perlu bersujud padaku. Kau hanya perlu mematuhi semua perintahku selama dua minggu. Jika kau membuat kesalahan lagi maka kali ini tidak ada kesempatan lagi bagimu.!" Jelas nya lalu dia berbalik membelakangi nadia.


Mendengar ucapan alan membuat hatinya merasa lega. Selain dia tidak benar-benar bersujud pada alan. Dia juga masih diberi kesempatan kedua walaupun dengan syarat dia harus menuruti semua perintah alan.


"Te-terimakasih pak. Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi dan saya akan menuruti semua perintah bapak." Ungkap nadia. Alan hanya mengangkat telapak tangan nya memberi isyarat kalau nadia harus keluar dari ruangan nya.


"Sekali lagi terimakasih pak. Kalau begitu saya permisi" ucap nadia dengan lega lalu dia keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Nadia, alan masih berdiri sambil bertolak pinggang.


"Sial..! Kenapa aku merasa iba kepada gadis ceroboh itu.!" Andai saja ayah tidak melarangku untuk memecatnya aku pasti sudah menendangnya keluar dari hotel ini" ungkap nya lalu dia kembali duduk.


*****


Nadia berjalan cepat menuju loker untuk berganti baju. Dan memulai pekerjaan nya hari ini dia sudah di tugaskan membersihkan kamar-kamar hotel. Semua dia kerjakan dengan semangat karena tidak mau membuang kesempatan yang telah di berikan alan.


Jam istirahat Nadia habiskan hanya untuk makan dan mengistirahatkan tubuh nya sebentar setelah jam istirahat habis dia kembali lagi bekerja. Sampai pada jam pulang telah tiba.


"Nadia." Panggil kawan seprofesinya, nadia menoleh. "Aku di suruh menyampaikan pesan. Tadi pak tedi bilang kamu di suruh menghadap General Manager baru" ucap nya.


Degg...Ada apa lagi ini. Baru saja tadi pagi dia menylesaikan masalah nya tapi sekrang dia diminta untuk menemui laki-laki menyebalkan itu.


Kleeeeeek.. Nadia membuka pintu itu perlahan. Dilihatnya masih ada sosok alan duduk di meja kerjanya.


"Apa bapak memanggil saya?" Tanya Nadia


"Iya. Aku memanggilmu kesini". Jawabnya lalu dia menatap Nadia dia sudah berganti pakaian mengenakan kemeja tangan panjang berwarna babby blue dan celana jeans. "Apa kamu sudah mau pulang?" Ia bertanya.


"Sayang sekali kamu tidak bisa langsung pulang" ucap alan membuat nadia mentap nya dengan heran.


"Mulai hari ini. Setiap hari sebelum kamu memulai bekerja, kamu harus membersihkan ruangan ini. Dan saat kamu sudah selesai bekerjapun sebelum pulang kamu harus kembali membersihkan ruangan ini lagi"


Nadia terkejut mendengar ucapan alan.


"Apa pak.!" Matanya membulat. "Jadi sebelum dan seseudah bekerja saya harus membersihkan ruangan ini setiap hari.!"


"Iya. Apa kamu tuli.! Aku sudah mengatakan nya tadi, kurang jelaskah" bentak nya.


"Itu artinya saya harus berangkat lebih awal dan pulang telat setiap hari" lirih Nadia.


"Betul sekali.!" Sahut alan. "Ingat kamu tidak boleh menolak. Bukankah kamu bersedia menuruti segala perintah saya agar kamu tidak di pecat. Ini adalah salah satunya jadi kamu harus terima.!" Tegas nya sambil berdiri. Dia lalu mendekat kepada Nadia hingga membuat nadia ketakutan dan berjalan mundur, Namun alan masih memojokan nya.


Alan mendekatkan wajah nya pada Nadia membuat nadia semakin takut lalu akhirnya dia menutup mata.


Alan menatap wajah Nadia dari dekat. Ia melihat mata nadia yang tertutup, dan bibirnya yang pink merona.


"Jadi mulailah membersihkan ruangan ini jika kamu ingin pulang cepat.!" Bisik nya pada telinga Nadia. Lalu dia segera keluar dari ruangan itu.


"Huh" nadia membuang nafas lega. Sedari tadi dia menahan nafas karena alan mendekatkan tubuh nya. Dia pikir alan akan berbuat macam-macam padanya.


Setelah alan meninggalkan ruangan itu. Dia langsung membersihkan semua sudut ruangan. Walaupun ruangan nya sudah terlihat tampak bersih. Nadia membersihkan nya dengan cepat. Karena dia tidak ingin berlama-lama di sana.


*******


Di perjalanan pulang. Alan yang sedang memacu mobil mewahnya tak henti-henti nya menertawakan Nadia. Dia merasa puas bisa mengerjai gadis cleaning service itu. Andai saja ayahnya tak melarang nya untuk memecat gadis itu mungkin hari ini juga dia sudah di depak dari hotel mewah nya.