
Pagi hari jam sudah menunjukan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Semua tamu undangan yang hadir sudah berkumpul.
Keluarga dari kedua belah pihakpun sudah duduk tenang di dekat bangku untuk menyaksikan ijab qobul. Alan sudah duduk tegap di kursinya
Menunggu kedatangan pengantin wanita.
Tak berselang lama. Nadia keluar semua mata tertuju padanya. Wajahnya yang cantik nan ayu semakin membuat nya terlihat mempesona. Ia mengenakan kebaya putih riasan khas pengantin dengan tema modern sesuai dengan permintaan nya.
"Di-dia.. cantik sekali.!" Gumam alan yang mematung saat melihat nadia berjalan mendekat ke arah nya.
Setelah semua urusan selesai, tibalah saat nya alan mengucapkan ijab qobul. Dia terlihaat sangat tenang dan hanya dalam satu tarikan nafas dia sudah sah mempersunting nadi sebagai istrinya.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu
"Sah..!" Teriak beberapa keluarga.
Nadia menatap alan, dia tidak menyangka kalau kini dia sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat tidak di sukainya.
Setelah memasangkan cincin nikah. Nadia mencium tangan alan. Dan alan mencium kening nadia.
Setelah itu mereka menghpiri orang tua mereka. Setelah semua rangkaian akad selesai. Kini nadia dan alan telah berdiri di pelaminan untuk menyambut para tamu.
Beberapa relasi bisnis dan kolega dari keluarga dirgantara memberikan ucapan.
"Ya ampun aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.!" Gumam nya dalam hati. Menyadari sikap nadia. Alan lantas bertanya.
"Kamu kenapa?" Tanya nya dingin.
"Kakiku sangat pegal. Apakah kita masih harus berdiri disini?" Jawab nya.
"Akupun sama. Sudah tak tahan.!" Sambung alan.
Tak lama nadia fokus lagi, dia melihat seseorang yang dia kenal mendekat ke arah mereka. Kini orang tersebut sudah berada di depan nadia.
"Selamat yah nad atas pernikahan kamu" ucap fran dengan senyum manis nya.
"Kak fran.. iy-iya kak terimakasih" sahut nya. Mereka saling bertatapan. Alan memperhatikan keduanya.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi tamu undangan kita bisa turun sekarang. Dan kamu istirahatlah" ucap alan. Dan mau tidak mau nadia mengikuti perintah alan.
"Terimakasih kak sudah datang. Tapi aku harus ke dalam" ucap nadia yang tangan nya sudah di tarik oleh alan.
"Baiklah" jawab nya sambil menatap kepergian nadia.
Saat alan turun dari pelaminan. Nadia memilih untuk kembali ke kamar hotel, karena dia sudah sangat lelah dan juga waktu sudah malam. Namun alan masih menyambut beberapa tamu dan berbincang.
*******
"Aku..!" Dia heran. "Tentu saja aku akan ke kamarku. Aku ingin istirahat" keluh nya.
"Tapi kamar anda tidak di lantai ini"
"Lalu dimana?" Tanya nadia.
"Mari saya antar" dia menuntun nadia dan mengantarkan ke kamar barunya.
Begitu sampai dan nadia masuk ke dalam. Dia sungguh-sungguh tidak bisa berkata-kata.
"Tu-tunggu dulu. Ini kamar nya sangat besar dan kenapa di desain seperti ini dan juga kenapa banyak bunga?" Ungkap nya.
Pelayan itu menahan tawanya.
"Tentu saja banyak bunga. Kamar ini sengaja di persiapkan untuk pengantin baru. Yasudah silahkan beristirahat. Saya aku keluar jika butuh apa-apa tinggal panggil saja. Saya permisi" dia menutup pintu.
Nadia terdiam dan masih menatap setiap sudut ruangan.
"Pengantin baru !" Ungkap nya. Dia lalu tertawa padahal tidak ada hal yang lucu.
"Ahahahha.. pengantin baru. Ya ampun aku lupa kalau aku ini baru saja menikah" ucap nya sambil memasang reaksi wajah yang datar.
Karena sangat lelah dia langsung melepas heels yang ia dikenakan seharian. Lalu melepas hiasan dan crown di kepalanya. Dia menggeraikan rambutnya. Setelah itu nadia langsung membaringkan tubuhnya tanpa menghampus makeu up di wajah nya karena sudah sangat lelah. Dan tak terasa dia tertidur pulas.
******
"Uuuuuuughh..." Dia menggeliatkan badan nya. Nadia masih merasakan sedikit pegal di kakinya tapi untunglah dia bisa beristirahat malam hari sehingga tubuh nya terasa lebih baik.
"Jam berapa ini?" Gumam nya. Dia lalu meraih handphone nya yang ia letakan di nakas. Jam menunjukan pukul 07:25 pagi.
"Ya ampun apakah aku tertidur sepulas ini."
Dia lalu membuka selimut yang menutupi tubuh nya lalu dia duduk di pinggir tempat tidur.
Nadia menatap heran selimut itu. Lalu dia juga menatap pakaian yang ia kenakan.
"Tunggu.! Apakah semalam aku berganti pakaian. Dan.. ku rasa aku tidak sempat melepas pakaianku. Tapi-" dia mulai panik.
"Tapi kenapa pagi ini aku mengenakan baju tidur ini.!" Ucap nya. Sambil menyentuh pakain nya.
Sebuah baju tidur dengan model kimono berwarna merah maroon membuatnya terheran. Siapa yang mengganti pakainku.? Itulah pikir nadia.
"Apa jangan-jangan.....!" Dia tidak melanjutkan ucapan nya.