
"Lepaskan dia.!!" Teriak laki-laki dengan suara bariton yang membuat dua preman itu terkejut.
Dari gang yang gelap. Alan berlari menghampiri mereka. Tanpa menunggu lama alan langsung menghujamkan pukulan pada salah satu laki-laki preman itu.
Duuuuuuggg... Satu pukulan penuh membuat nya langsung tersungkur.
"Lepaskan..!" Nadia berteriak lagi.
Namun laki-laki yang memegangi nadia malah mendorong nadia ke tembok bangunan sehingga kepalanya langsung terbentur.
"Aaawwww..!" Teriak nadia.
Mendengar suara nadia, alan kini bergegas mendekatinya. Dan bertarung dengan satu laki-laki itu. Sedangkan kawan nya sudah di buat tersungkur lemas oleh alan.
"Sialan kau.!" Teriak alan. Dia langsung menghajar laki-laki itu tanpa ampun.
Tak lama mobil polisi datang. Alan memang meminta polisi untuk berpatroli dan membantunya mencari nadia.
"Stop..!! Sudah jangan pukul dia lagi, kami akan membawanya.!" Ucap polisi itu sambil memisahkan alan.
Dengan segera alan melihat nadia yang lemas dan bersandar di tembok. Dia seperti sudah hilang setengah kesadaran.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya alan pelan.
"Nadia.. bangunlah.! Apa kamu bisa berdiri.!"
Dia merangkul tubuh nadia.
"Tuan sepertinya teman ada harus di bawa ke rumah sakit. Kami akan menghubungi ambulance.!" Ucap satu polisi yang menghampiri alan.
"Tidak. Terimakasih, aku akan membawanya menggunakan mobilku sekarang juga.!" Tolak alan
"Baiklah..!"
"Kalau begitu kami permisi. Terimakasih dan tolong urus preman itu.!" Ucap alan sambil menggendong tubuh nadia.
"Baik.!"
Alan segera menuju mobil nya dan membawa nadia ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dia merasa khawatir pada nadia. Dan juga ada rasa bersalah di hatinya karena telah meninggalkan nadia. Hingga dia harus pulang sendiri dan membawanya kedalam bahaya.
********
Di sebuah rumah sakit di jakarta.
"Bagaimana ini fran.? Apakah yakin kita tidak akan memberitahu nadia." Ucap bu rossa bertanya dengan wajah panik.
Mereka sedang menunggu di sebuah ruangan rawat inap.
"Sayapun tidak tahu tante. Kemarin pak husein berpesan agar tidak memberitahu nadia, dia tidak mau membuat nadia khawatir."
"Tapi dokter meyarankan untuk segera operasi dan itu membutuhkan persetujuan pihak keluarga."
Mereka berdua dilema. Fran juga bingung dia juga belum mendapat kabar lagi dari alan. Apa lagi dari nadia. Dia sangat khawatir tentang keadaan nadia di sana.
*******
"Pa-pak alan.. Kenapa berdiri disitu.?" Nadia bertanya pada alan. Saat dia sudah sadar dan mulai membuka matanya. Lalu dia melihat sekitar. Sungguh tempat yang asing dan seperti nya di rumah sakit.
"Iya.. kamu tadi tidak sadarkan diri. Jadi aku membawamu ke sini.!"
"Benarkah.. lalu dimana dua laki-laki yang menggangguku.?" Tanya nadia dengan sedikit khawatir.
"Kamu tenang saja, mereka sudah dibawa ke kantor polisi." Jawab alan.
"Ya ampun.. syukurlah, aku sangat takut untung saja pak alan datang menolong saya. Terimakasih pak.!" Ucap nadia dengan polosnya.
Namun hati alan merasakan hal berbeda. Dia justru merasa sangat bersalah pada nadia karena meninggalkan nya begitu saja.
Tiba-tiba handphone nadia berbunyi. Dia coba mencari sumber suara itu. Alan akhirnya mengambilkan handphone untuk nadia.
"Biarkan aku yang mengambilnya " ucap nya. Lalu saat dia melihat siapa yang menghubungi nadia,alan malah terdiam.
"Ibu.!" Ucap nadia seraya menatap alan.
"Halo bu," ucap nya.
"Halo nadia, apakah ibu menganggu kalian?" Tanya bu rossa di seberang sana.
"Tidak bu, ada apa?"
"Apa kamu baik-baik saja di sana bersama alan?"
"Iy-iya bu, kami baik-baik saja.!" Dia menatap alan.
"Begini, ibu ingin memberikan satu kabar padamu, tapi tolong kamu jangan panik ya.!" Pinta nya mewanti-wanti nadia.
Deggggggg... Hati nadia langsung merasa tidak enak.
"Ibu ingin mengabarkan, kalau bapak kamu masuk ke rumah sakit.!"
"Apa.!! Bapak masuk ke rumah sakit.!" Nadia semakin terkejut.
"Iya, tapi kamu tenang saja, ibu pastikan bapak kamu mendapat perawatan jadi ibu mohon kamu jangan panik, dan satu hal lagi"
"Apa itu bu?"
"Dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi, namun bapak kamu menolak nya, ibu hanya khawatir saja jika tidak menuruti saran dokter.!"
"Ya ampun, bapak.!"
"Sebenarnya bapak kamu meminta agar ibu tidak mengabarimu, dia takut mengganggu honeymoon kalian"
"Tidak bu, sama sekali tidak mengganggu. Sepertinya nadia akan pulang saja"
Setelah melakukan beberapa percakapan. Akhirnya dia menutup panggilan telepon dari bu rossa.
"Ada apa?" Tanya alan.
"Bapak masuk rumah sakit, dan harus di operasi, aku tidak bisa tenang dan sangat khawatir. Sepertinya aku harus pulang.! Hiksssss...." Nadia mulai menangis.
Alan justru langsung terpikirkan celine. Pulang.!! Kalau nadia pulang dia juga harus pulang dan tentunya dia harus berpisah dengan celine. Baru saja mereka bertemu.
Alan memijat kening nya dengan kasar..!!