
"aaaaaaaaaaak.....mptttt-" nadia berteriak namun dengan cepat alan mendekatinya dan membekam mulut nadia menggunakan tangan nya.
Nadia yang bertelan**jang bulat tanpa sehelai benang di tubuhnya. Kini dia berada di dekapan alan.
Alan menatap ke arah pintu dia khawatir suara nadia terdengar oleh orang di luar. Sedangkan nadia panik karena dia tidak menggunakan pakaian.
"Nadia, ada apa? Kenapa kamu berteriak?" Suara bu rossa terdengar dari luar tak lama setelah nadia berteriak.
"Bilang kalau kamu tidak apa-apa!" Perintah alan dengan suara tertahan, dia melepaskan tangan nya dari mulut nadia. Namun tubuh nadia masih dia dekap dengan posisi tubuh nadia yang mau tumbang.
"Ti-tidak apa-apa bu, nadia hanya terkejut" jawab nadia.
"Benarkah?"
"Iya"
Setelah itu suara bu rossa tak terdengar lagi. Mereka berdua masih menatap pintu namun dengan posisi yang sama.
"Sepertinya ibu sudah pergi.!" Ucap alan. Lalu dia menatap wajah nadia. Namun matanya tertuju pada gundukan di dada nadia yang polos nan terlihat jelas itu. Alan semakin susah menelan saliva na.
Tanpa sadar bagain tubuh bawahnya mengeras. Alan panik karena takut nadia melihat nya. Akhirnya dia memalingkang wajah nya.
"Cepat pakai bajumu.!" Perintah nya sambil melepaskan nadia, dan dia mengambilkan handuk yang ada di lantai.
Nadia meraihnya ragu, lalu dengan cepat dia masuk kedalam kamar mandi.
"Astaga..!! Apa yang aku pikirkan.! Kenapa senjataku menegang, tapi tubuhnya benar-benar-" alan tak melanjutkan ucapan nya.
"Sudahlah." Dia berjalan menuju jendela dan membuka jendela kamar nya. Untuk mendinginkan pikiran nya.
********
Alan dan nadia turun dari lantai atas. Menemui bu rossa dan ayahnya.
"Kalian mau kemana?" Tanya bu rossa karena melihat nadia membawa tasnya.
"Kami akan pulang.!" Jawab alan ketus.
"Kenapa tidak menginap saja disini, kalian bisa pulang besok.!"
Nadia menatap alan.
"Tidak bu, kami harus pulang sekarang"
"Sudahlah bu biarkan mereka pulang" sahut ayahnya yang kini ikut berbicara.
"Baiklah, tapi setidaknya kalian makan malam dulu. Ini makanan nya sudah siap.!"
Mau tidak mau alan harus menuruti perintah ibunya. Dengan perlahan dia mendekati meja makan. Dan manarik kursi di di samping ayah nya. Sedangkan nadia duduk di samping alan.
**********
"Kenapa kamu tidak bilang kalau pergi menginap ke rumah orang tuaku.?" Tanya alan dingin.
"Apakah itu penting.! Aku kira pak alan tidak akan perduli" jawab nadia. Membuat alan membalikan badan nya.
"Dasar bodoh.! Tentu saja penting karena kamu itu istriku.!". Ucap nya
Mendengar kata itu membuat nadia mematung dan menatap alan.
Apa dia tidak salah dengar. Alan menganggap nya sebagai seorang istri. Tapi kalau di pikir lagi, nadia memanglah istri sah alan. Rasa senang di hatinya yang baru saja muncul tiba-tiba tandas lagi.
"Istri.!" Sambung nadia menatap alan.
"Bukankah di surat perjanjian itu di tuliskan kalau kita tidak berhak mencampuri urusan pribadi dan bebas melalukan kegiatan apapun tanpa meminta persetujuan masing-masing"
"Tapi ini keadaan nya beda. Kamu pergi ke rumah orang tuaku. Bagaimana kalau sampai kamu lupa tentang pernikahan kita yang hanya sebatas kontrak.!"
"Tenang saja, pak alan tidak perlu khawatir aku tidak akan mengatakan nya pada siapapun."
"Lain kali jika ingin pergi kerumah orang tuaku bilang padaku dan kita harus berangkat bersama"
"Mau bilang bagaimana. Handphone saja tidak aktif. Lagi pula pak alan sedang di luar negeri. Apakah boleh aku menghubungi sehingga menganggu kegiatan pak alan.!" Jawab nadia.
Alan terdiam menatap gadis itu.
"Sudahlah" ucap alan sambil berlalu. Begitupun nadia dia tak lama berjalan ke arah kamar nya.
Sambil membanting tas nya nadia bergumam sendiri. Karena sudah malam nadia memilih mengistirahatkan tubuh nya. Dia langsung menenggelamkan diri ke tempat tidur.
Pagi hari nadia sudah terbangun seperti biasa dia menyiapkan sarapan untuk alan dan dirinya.
"Huaa" alan menguap sambil berjalan ke arah dapur. Dengan mata masih merem melek.
"Aaaaaaaaak.." teriak nadia saat dia menoleh dan ada alan di belakang nya.
"Kenapa kamu berteriak pagi-pagi seperti ini.!" Sambung alan. Sambil berjalan mendekati lemari es.
"Itu karena pak alan tidak memakai baju." Ucap nadia sambil membalikan badan.
Setelah meneguk air putih. Alan menatap tubuhnya. Memang benar dia tidak memakai baju dan hanya menggunakan celana boxer pendek saja. Setiap malam jika tidur memanglah dia begitu.
"Ehem.. memang nya kenapa? Ini juga di dalam rumahku" ucap nya gugup.
"Ta-tapikan, ada saya" sahut nadia.
"Hanya ada kamu. Itu tidak masalah lagi pula kita itukan suami istri. Kalau pun aku bertelanjang memang kamu akan tergoda.!" Ejek nya sambil berjalan lagi menuju kamar.
"Issssh..manusia menyebalkan" umpat nadia.
Sambil berjalan, alan mengulum senyum licik.