
Alan berjalan memasuki lobi hotel, dia sudah kembali lagi bekerja meskipun pak prabu memberinya waktu libur beberapa hari. Di tambah nadia dan keluarga nya masih berada di hotel. Mereka baru akan pulang sore ini.
"Selamat atas pertunangan nya pak alan" beberapa staff memberikan ucapan padanya.
"Terimakasih" jawab nya singkat.
Drrrrrt......drrrrrrt.....drrrrt...
Handphone nya terus berdering. Dia memang baru mengaktifkan handphone nya sejak kemarin.
"Celine" ucap nya sebelum menjawab panggilan itu.
"Dia pasti sangat marah padaku.!" Gumam nya.
"Ada masalah pak?" Tanya sekretarisnya yang mengikuti alan dari belakang.
"Tidak ada. Aku akan ke ruangan sekarang" jawab nya.
Ceklekkkk...alan membuka pintu ruangan nya lalu dia masuk dan langsung menjawab panggilan celine.
"Halo.. alan.! Kemana saja kamu kenapa baru menjawab teleponku sekarang..!" Alan langsung di cecar oleh beberapa pertanyaan dari celine.
"Iya sayang. Maafkan aku karena akhir-akhir ini aku sibuk" jawab nya lembut.
"Sibuk..! Sibuk karena pekerjaan atau pertunanganmu itu. Hah.!" Bentak nya dari seberang.
Alan terdiam seketika. Apakah celine sudah mengetahui pertunagan nya dengan nadia.
Lalu bagaimana ini.! Dia tentu saja akan sangat sulit menjelaskan nya pada celine, terlebih lagi alan tahu sifat celine seperti apa.
"Pertunangan, pertuangan siapa maksud kamu sayang?" Ucap nya ambigu.
"Sudahlah tidak usah mencari alasan. Aku sudah tahu semuanya. Jadi kamu pulang ke indonesia untuk bertunangan dengan wanita lain. Lalu melupakanku disini begitu saja.! Apakah hubungan kita tidak berarti apa-apa bagi kamu alan?" Jelas nya panjang lebar.
Alan memijat kasar alis matanya. Dia masih dalam situasi bingung.
"Dengrkan aku celine. Aku bisa menjelaskan nya-" ucapan nya terpotong oleh celine.
"Aku tidak mau mendengar apapun darimu. Jika kamu masih menganggapku dan masih menyayangiku datanglah kesini.!" Tak lama panggilan itupun berakhir.
"Halo, celine, dengarkan aku dulu sayang." Ucapan alan sudah tak ada gunanya lagi karena celine sudah menutup panggilan itu.
"Aaaaaakhhhh...sial.!!!" Umpatnya kesal.
*********
Di sebuah restoran di hotel tempat nadia menginap.
Nadia sudah duduk kaku berhadapan dengan perempuan yang masih membuatnya canggung.
"Selamat pagi. Apakah tidurmu nyenyak.?" Tanya nya ramah.
"Pagi tante-.. eh maksud saya pagi juga ibu, tidurku sangat nyenyak" jawab nya kaku wanita itu hanya tersenyum.
"Dimana ayah dan adik kamu? Kenapa mereka tidak ikut sarapan bersama kita?"
"Bapak dan naufal sudah pulang.!" Jawab nadia
"Loh,pulang.! Sejak kapan?" Tanya ibunya alan terkejut.
"Tadi pagi-pagi sekali, mereka check out. Karena naufal harus sekolah dia sedang Ujian bu,jadi bapak dan naufal harus pulang duluan" jelasnya.
"Oh begitu.. yausdah sekarang kita sarapan saja dulu" ajak nya. Lalu dia memesan beberapa menu sarapan. Nadia coba menikmatinya.
"Gadis ini benar-benar manis dan cantik. Dia juga terlihat masih sangat polos. Kira-kira berapa umurnya ya.? Dan dari mana mereka bisa kenal hingga alan mau bertunangan dan menikah dengan nya. Sedangkan dari dulu eyang yang selalu menyuruhnya untuk menikah tapi alan selalu saja menolak" batinya.
"Ada apa bu?" Tanya nadia yang tersadar karena dari tadi dia hanya di perhatikan.
"Akh..tidak apa-apa. Ibu hanya merasa senang saja bisa mengobrol dan sarapan dengan kamu.!" Jawab nya.
"Kenapa ibu terus memperhatikanku. Apakah dia tidak senang padaku.!" Nadia berpikiran jelek.
*******
Malam hari di sebuah cl**ub di luar negeri.
"Hay honey.. ada apa kenapa dari tadi kamu hanya diam seperti itu.?" Tanya laki-laki yang datang menghampiri celine.
Namun dia tidak menjawab nya. Dia hanya menenggak gelas berisi minuman beralko**hol itu.
"Siapa wanita itu. Berani-beraninya dia merebut alan dariku.!! Apa dia tidak tahu kalau alan sudah mempunyai pacar. Sial nya aku tidak bisa menemukan informasi apa-apa tentang gadis itu.!" Batin nya sambil *******-***** rambut nya yang pirang dan panjang.
"Come on.! Kita nikmati malam kita, kenapa kamu seperti ini, sungguh tidak asik..!" Keluh nya kepada celine.
Cuppph...cupppph...cuppph.. dia mencum**bu celine beberapa kali. Celine hanya memalingkan wajahnya namun dia tidak memberikan penolakan.
Dia berpindah posisi dan kini memeluk celine dari belakang.
"Ayo kita turun.!" Ajak nya sambil menci**umi leher celine.
"Akh..hentikan aku sedang tidak bersemangat" tolak nya.
"Kalau begitu aku akan membuatmu bersemangat" rayu nya.
Dia lalu menggendong tubuh celine sambil mereka berci**uman ,laki-laki itu berjalan turun ke tempat oran-orang sedang menari dan menikmati musik di cl**ub itu.
********
Nadia sudah kembali lagi pulang ke rumah nya. Dia tiba sore hari. Karena setelah sarapan ibunya alan mengajaknya memeriksa beberapa persiapan pernikahan nya.
"Kakak baru pulang?" Tanya naufal yang sudah berada di rumah.
"Iyah.. apa bapak masih narik angkot?" Tanya nya sambil duduk di sofa.
"Iyah kak. Bapak narik dari pagi" jawab nya sambil duduk di dekat nadia.
"Kak. Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, ada apa?"
"Apakah benar kakak akan menikah dengan boss kakak itu? Kenapa pernikahan dan pertuangan kakak sangat tiba-tiba. Apa kalian sudah saling kenal?" Tanya nya membuat nadia terdiam.
"Eummm.. kakak mengenalnya di tempat kerja" jawab nya sambil mencoba menutupi kenyataan dari adik laki-laki nya itu.
"Apakah dia orang yang baik? Seperti teman kakak yang beberapa hari lalu mengantar kakak pulang"
"Siapa? Maksud kamu kak fran?"
"Iya, tadi juga dia datang ke rumah dan menanyakan kakak. Aku bilang kalau kakak belum pulang masih menginap di hotel, dan dia juga membawakan beberapa makanan untuk naufal. Itu.!" Tunjuk nya pada gundukan kresek berisi makanan dan cemilan.
"Jadi kak fran datang kesini.!" Nadia berkata lagi.
Nadia terdiam. Kalau fran akan datang ke rumah nya. Kenapa dia tidak menghubungi nadia padahal mereka saling menyimpan nomor kontak masing-masing. Dia juga belum menjelaskan apapun kepada fran tentang pertunangan nya dengan alan.
Nadia bahkan belum bertemu lagi. Sejak saat malam itu. Padahal saat itu nadia di ajak oleh fran. Pasti fran sangat kecewa pada nya. Tapi mau bagaimana lagi situasi yang dia hadapi sekarang benar-benar membuatnya tidak bisa memikirkan apapun. Dia bahkan sampai tidak terpikirkan tentang fran.