
"Bagaimana ini pak? Apa yang harus saya lakukan saya tidak mau menikah.!" Gerutu Nadia pada alan yang duduk di sampingnya.
"Aku juga tidak mau menikah denganmu.!" Balas nya dengan wajah bingung.
"Lalu kenapa bapak mengatakan semuanya, dan sejak kapan kita berpacaran.!" Nadia terus menggerutu.
Alanpun tampak bingung. Kenapa dia jadi terjebak dalam permainana nya. Bagaimana mungkin dia menikah dengan gadis ceroboh yang tidak dia sukai.
"Bagaimana ini.!" Rengek nadia.
"Diamlah. Akupun sedang berfikir.!" Bentak alan.
"Aku akan bertemu pak prabu untuk mengatakan semuanya.!" Nadia beranjak dari duduk nya. Namun seketika alan menarik tangan nya sampai nadia hilang keseimbangan dan berakhir di sofa. Alan lantas menindih tubuh nya dan mencengkram erat kedua pergelangan tangan nadia. Dia menatap lekat mata nadia.
"Jangan berani-beraninya menemui ayahku dan mengatakn semuanya. Kau ingat apa yang membuatku mempertahankanmu bekerja di hotel ini.! Tentu saja kau pasti ingat jadi turuti semua perintahku.!"ucapnya dengan nada suara dingin namun penuh penekanan. Nadia coba melepaskan diri namun tenaga alan begitu kuat.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, tampak fran di balik pintu itu.
"Maaf pak. Saya sudah melarang nya untuk tidak masuk." Ucap seorang penjaga yang coba menghalangi fran. Saat itu alan melepaskan tangan nadia dan dia berdiri menatap fran.
"Biarkan saja dia" sahut alan.
Melihat fran datang membuat nadia sangat terkejut. Namun dia masih duduk di sofa karena di depan nya ada alan yang berdiri dan menghalangi tubuh nya.
"Ada apa?"
Fran tidak menjawab dia melirik nadia yang terhalang di belakang tubuh alan.
"Kak fran" sahut nadia.
"Ayo pulang.!" Ajak fran sambil hendak menarik tangan nadia. Namun alan menghalangi nya.
"Apa urusanmu dengan dia?" Tanya nya.
Dia tak mendengarkan pertanyaan alan, kini tangan nadia sudah di genggam nya.
"Aku masih ada urusan dengannya.!" Ucap alan, tatapan nya dingin seakan menembus dada nadia. Akhirnya dia memberikan penjelasan pada fran. Bahwa dia akan baik-baik saja.
"Tapi aku yang membawamu kesini. Aku tidak mungkin membiarkanmu begitu saja.!"
Ucap nya khawatir.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan bertanggung jawab atas dirinya. Dan mengantarkan nya pulang.!" Sanggah alan lagi.
"Tidak apa-apa kak." Nadia coba menenangkan fran.
Akhirnya alan keluar dengan rasa kecewanya. Dan dia pulang tanpa nadia.
"Dimana alamat rumahmu?" Tanya alan sambil mengendarai mobil mewahnya.
Nadia memberikan alamat lengkap nya.
Setelah hampir 30 menit mobil alan memasuki jalanan pemukiman warga yang cukup padat. Kini mobilnya sudah berhenti di depan sebuah rumah dengan angkot tua di depan nya.
Mereka berdiri di depan rumah.
"Ini rumah saya pak.!"
"Jadi disini tempat kamu tinggal.!" Sahut alan sambil menatap sekeliling.
Samar-samar pak husein mendengar suara dari luar. Akhirnya dia membuka pintu rumah nya.
Kreeeeeek.. suara pintu yang sudah tua itu berbunyi nyaring.
"Bapak.!" Ucap nadia. Dia tidak menyangka kalau bapak nya masih terjaga.
"Nadia. Kamu baru pulang?" Tanya nya sambil menghampiri nadia. Dan nadia hanya membalas dengan anggukan. Pak husein menatap alan dengan penuh tanda tanya.
Siapa laki-laki itu kenapa dia hanya berdiri mematung seraya menatap ke depan. Diapun hanya menyapa kepadanya dengan menunduk tapa ada kata-kata lain. Seingat nya dia bukanlah laki-laki yang menjemput nadia tadi sore.
"Dia siapa? Seingat bapak dia bukan orang yang menjemput kamu tadi sore" tanya nya pada nadia.
Alan menatap nadia dengan tajam. Nadia bingung harus bagaimana memulai pembicaraan.
"Perkenalkan saya Alan Dirgantara" Alan menyodorkan tangan nya. Dengan ragu pak husein menjabat nya.
"Saya adalah ca-" ucapan alan langsung di sambar oleh nadia.
"Dia adalah atasan di tempat nadia bekerja pak" seloroh nadia
"Oh begitu. Berarti dia boss kamu.! Ya ampun kenapa di biarkan berdiri saja diluar. Ayok ajak masuk" Sahut pak husein. Namun nadia malah salah tingkah. Bagaimana dia mengajak alan masuk tentu saja pria sombong itu pasti akan menolak nya.
"Eum- begini pak. Karena ini sudah malam kan tidak enak bawa laki-laki masuk ke rumah. Pak alan juga akan langsung pulang kok. Iya kan pak.!" Dia memberi kode pada alan.
"Ehemm" dehem alan. "Iya saya harus langsung pulang, lain kali saja saya mampir kalau begitu saya permisi" ucap alan. Dia memberi salam pada pak husein lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah menunggu mobil alan berjalan pergi pak husein dan nadia baru masuk kedalam rumah.
"Wah beruntung sekali kamu nak. Tadi sore di jemput temen kerja kamu yang bermobil. Sekarang pulang nya di antar langsung sama boss kamu. Kamu harus benar-benar bersyukur bisa bekerja di tempat nya dan punya boss yang baik seperti itu" ungkap pak husein sambil duduk di sofa.
Bersyukur.! Apa yang harus nadia syukuri selain pekerjaan nya. Karena selain itu semua hal yang berkaitan dengan alan sungguhlah membuat nya sesak. Apa lagi malam ini dia di bawa oleh alan untuk masuk ke dalam sandiwara yang ia buat demi menutupi kesalahan nya. Bagaimana nadia mengatakan pada pak husein. Benar-benar membuat nya frustasi.