
Kenapa harus besok.? Nadia baru saja berencana untuk pulang menemui ayah dan adiknya. Tapi dia malah harus berangkat honeymoon.
Ingin rasanya nadia meminta ijin kepada mertunya itu. Untuk menemui ayah nya namun melihat situasinya sangat tidak memungkinkan dia lebih baik mengurungkan niat nya.
"Sudahlah mungkin nanti saja setelah pulang honeymoon aku akan menemui bapak dan naufal." Batin nya.
"Kalau begitu ibu permisi dulu. Besok pagi akan ada driver yang menjemput kalian.!"
Ucap nya sambil beranjak.
Nadia dan alan mengantarkan bu rossa keluar.
"Hati-hati bu" ucap nadia yang di balas oleh senyuman.
"Jangan lupa pulang nya bawa cucu untuk kami.!" Ucap nya lalu dia pergi berlalu.
Alan dan nadia saling menatap, "apakah aku harus memungut seorang bayi.!" Celetuk alan lalu mereka pergi ke kamar masing-masing.
*******
Pagipun tiba. Alan dan nadia sudah berada di bandara.
"Kenapa kamu seperti gelisah?" Tanya alan.
"Em..tidak apa-apa. Aku..! Aku hanya gugup saja. Ini kali pertamaku naik pesawat.!" Jawab nya sambil terus mengikuti alan untuk menuju pesawat yang akan mengantarkan mereka ke negara tujuan.
Mata nadia tidak henti-hentinya menatap sekitar. Baru kali ini dia melihat pesawat tepat di depan matanya. Bahkan kini dia akan menaikinya. Dalam hati kecilnya dia merasa senang dan merasa beruntung dia bisa menaiki pesawat pertama kali dalam hidup nya.
"Good morning Mr & Mrs. Alan.!!" Sapa seorang Pramugari yang menyambut mereka.
Alan hanya berlalu lalu menaiki tangga dan masuk ke dalam pesawat. Sedangkan nadia membalasnya dengan senyuman lalu mengikuti alan masuk ke dalam.
"Wah... Mewah sekali. Aku baru pertama kali masuk dan melihat isi peswat dari dalam." Ucap nadia terkagum. Alan yang mendengarnya hanya menyeringai sebal.
"Kamu ini norak sekali.!" Celetuk alan.
"Biarkan saja.!" Balas nadia.
"Cepatlah duduk. Sebentar lagi pesawat nya akan take-off" perintah alan.
Lalu nadia duduk dan dengan sebisanya dia memasang pengaman karena alan sama sekali tidak membantunya bahkan mereka duduk di kursi yang terpisah.
*******
Sudah beberapa jam pesawat mengudara. Nadia semakin lemas, dia tidak bisa lagi menahan pusing dan mual yang dia rasakan sepertinya dia mabuk udara. Dengan perlahan nadia pergi ke toilet.
Melihat nadia seperti itu, alan sudah bisa menebak nya.
"Ini.! Pakailah minyak angin." Alan menyodorkan sebuah roll on, agar nadia merasa lebih baik. Dengan lemas nadia mengambil nya lalu duduk.
Setelah beberapa saat nadia sudah mulai membaik. Dan tidak terasa dia tertidur.
"Dasar gadis bodoh.! Sudah tahu baru pertama naik pesawat kenapa tidak membawa obat atau minyak angin." Gerutu alan dalam hati sambil melirik nadia yang sudah terpejam.
*******
"Nyonya, nyonya bangunlah kita sudah sampai" samar-sama nadia mendengar suara perempuan membangunkan nya.
"Oh, maaf aku tertidur" ucap nya sambil merapihkan duduk nya.
Nadia melihat kursi di seberang nya. Sudah tidak ada sosok alan di sana.
"Kemana dia?" Ucap nya pelan.
"Pak alan sudah turun" sahut nya.
"Baiklah. Terimakasih aku juga akan turun" ucap nadia sambil berdiri.
"Tapi kalau boleh tahu, kita berada di mana?" Tanya nya.
" Kita ada di Prancis nyonya."
"Apa.!!! P-prancis...prancis, paris.!' nadia seakan tak percaya.
"Betul sekali.!"
Setelah itu nadia keluar. Dan menyusul alan.
"Apakah benar ini di paris.!! Apakah aku tidak bermimpi. Ya Tuhan ternyata benar aku tidak bermimpi, aku bisa datang ke negara ini. .!" Batin nya sambil terkagum.
"Cepatlah..!" Suara alan terdengar, lalu nadia berlari kecil untuk nenyusul alan. Yang sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil yang menjemput mereka akan mengantarkan ke hotel tempat menginap.
Tentu saja hotel milik keluarga dirgantara yang berada di paris. Bu rossa telah menyiapkan semuanya untuk mereka.
Alan dan nadia hanya tinggal membawa badan saja.
*****
Alan telah membuka pintu hotel, namun nadia masih mematung di depan pintu.
"Sedang apa kamu?" Tanya alan heran.
"Di- dimana kamarku?" Nadia bertanya lagi sambil melihat sekitar.
"Tentu saja disini.!" Sahut alan
"Oh, baiklah" nadia akhirnya masuk. Lalu dia menaruh tas nya.
"Pak alan mau apa?" Tanya nya saat alan merebahkan tubuh nya di tempat tidur.
"Aku ingin istirahat sebentar"
"Kenapa disini?"
"Lalu harus dimana lagi? Apakah aku harus merebahkan tubuhku di luar" bentak nya.
"Maksudku,kenapa tidak di kamar pak alan"
"Kamar yang mana lagi, ini adalah kamar untuk kita berdua" jawab nya sambil memejamkan mata.
"Apa.!!!" Nadia terkejut dia mendekati ranjang tempat tidur.
"Jadi kita akan tidur di kamar ini?"
"Sudahlah jangan berisik. Hanya satu malam saja. Kamu bisa tidur di sofa. Besok aku akan pergi. Jadi sekarang biarkan aku istirahat. Dan kamu.! Terserah apa yang mau kamu lakukan" ucap nya dingin.