
Setelah selesai bekerja pada pukul 15:00 Nadia tidak bergegas untuk pulang karena tedi memanggilnya dan memberitahunya kalau besok dia harus menghadap alan.
Langkah nya lesu menuju sebuah tempat duduk di belakang bangunan hotel, ya seperti gazebo untuk para pegawai. Disana cukup sepi karena ini sudah jam pulang tidak ada para pegawai hotel yang sedang beristirahat atau sekedar merokok disana.
"Huhhhh...habis lah sudah, barus aja satu hari sudah jadi pengangguran lagi" rintih nya. Nadia duduk di sebuah kursi. Ia masih mengenakan seragam kerja. Terlihat kesedihan di raut wajahnya. Bahkan tak lama dia mulai terdengar menangis.
"Hiiiikkksssss.. bagaimana ini kalau aku di pecat, aku tidak bisa membawa bapak berobat. Apa yang akan aku katakan. Hu..hu.. hu.." dia terus merancau sendiri tanpa di sadari olehnya ada sepasang mata yang dari tadi mengawasinya.
Tuk.. tuk...tuk.. suara langkah seseorang mendekatinya.
"Ini..menangis itu butuh tenaga." Ucap nya sambil menyodorkan sebuah botol minuman kepada Nadia. Dia yang terkejut langsung menatap laki-laki itu. Wajah nya yang terlihat lebih sejuk dia memang tidak setampan alan namun dia terlihat sangat manis postur tubuh nya juga tidak terlalu tinggi.
"Bersihkan juga ingusmu" lanjutnya lagi
Sambil menyodorkan sapu tangan. Sontak Nadia langsung mengambil sapu tangan itu.
"Te-terimakasih" ucap Nadia setelah dia membersihkan wajah nya dan berhenti menangis.
"Ini minumlah" lanjutnya, dengan ragu Nadia menerima botol berisi air itu. Namun laki-laki itu langsung berbalik dan berjalan.
"Tunggu.!" Nadia mengejarnya. "Bagaimana dengan sapu tangan nya, aku tidak bisa mengembalikan nya sekarang ka-karena kotor" ucap nya membuat dia menghentikan langkahnya lalu menatap nadia.
"Kemablikan saja besok..! Setelah kamu membersihkan nya" jawabnya
"Tapi besok aku tidak bisa. Karena kemungkinan aku sudah tidak bekerja disini lagi" sahut nya lirih
"Kenapa?apa kamu akan berhenti bekerja?" Dia bertanya penasaran. Karena sedari tadi dia hanya mendengar rancauan Nadia tanpa mengetahui penyebab nya.
"Aku akan di pecat.! Aku sudah membuat masalah dengan calon General Manager baru di hotel ini. Dan dia memintaku untuk menemuinya besok mungkin untuk memecatku" jawab Nadia lirih.
"Kalau begitu, tidak usah di kembalikan. Buang saja sapu tangan nya."
"Tidak mungkin aku membuang barang orang lain. Nanti akan aku kembalikan kalau kita bertemu lagi" ucap nya
"Baiklah. Semoga kita bertemu lagi, dan siapa namamu?" Tanya nya
"Nadia" lanjut Nadia.
"Semoga kita bertemu lagi Nadia" ucap nya terakhir kali sebelum dia pergi dan masuk ke dalam.
Nadia terus menatap nya. Hingga punggung kekar laki-laki itu tidak terlihat lagi. Siapa dia kenapa baik sekali. Dan nada bicaranyapun sangat lembut, bahkan suaranya pun terdengar sangat sejuk seperti wajah nya.tidak seperti alan yang selalu marah-marah.
*****
Pukul 16:45 Nadia sampai di rumah nya. Rumah sederhana dengan bangunan yang sudah tua juga angkot tua di depan rumah nya. Itulah tempat tinggal mereka satu-satunya bersyukurnya rumah itu milik orang tua nya sendiri jadi mereka tidak terlalu pusing. Namun angkot tersebut hanyalah sewaan milik juragan angkot.
"Kakak sudah pulang?" Tanya Naufal begitu Nadia sampai di depan pintu rumah. Dia sedang membawa piring berisi nasi dan juga ada sepotong telur dadar.
"Kamu belum makan?" Tanya nya pada adik laki-lakinya itu.
"Sudah kak. Ini untuk bapak. Tapi kaka belum masak nasi kamu beli di warung?" Tanya nya dan naufal mengangguk.
"Apa uang nya cukup. Kakak hanya memberikan kamu bekal sedikit untuk makan siang dan bekal sekolah kamu." Tanya nadia lagi.
"Cukup kak. Tadi naufal pergi ke sekolah jalan kaki tidak naik angkot. Dan di sekolah naufal tidak jajan. Jadi uang nya cukup untuk beli nasi di warung 2 bungkus." Jawab nya sangat prihatin. Membuat hati nadia teriris. Begitu pengertian nya dia mempunyai adik padahal naufal masih kecil.
Uhukk...uhuk.. terdengar suara batuk pak husein dari dalam kamar.
"Sudah kak. Biar naufal saja. Kakak ganti baju saja kan baru pulang kerja pasti capek. Oh iya. Nasi bungkus tadi siang udah di bagi dua gak di makan semua. Masih ada buat kaka." Ucap nya lalu dia masuk ke dalam kamar.
Nadia tak kuasa menahan air matanya. Dia segera pergi ke dapur agar tak ketahuan kalau dia menangis.
*****
Pagi hari Nadia sudah berada di depan sebuah ruangan. Dia sedang menunggu kedatangan alan. Tak lama laki-laki yang ia tunggu-tunggu datang. Dengan setelan jas berwarna grey senada dengan celana dan kemeja tak lupa juga dasi yang di kenakan nya.
Dari jauh dia sudah bisa melihat keberadaan nadia. Tatapan mengintimidasipun di lontarkan padanya sehingga membuat nadia tidak berani lagi menatap nya.
"Selamat pagi pak" ucap nya saat alan hendak masuk dan memegang handle pintu.
"Setelah sekretarisnya keluar, Nadiapun masuk ke ruangan lalu dia menutup pintu.
Alan duduk di sebuah kursi kerajaannya sambil terus menatap Nadia.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan. Apakah aku harus langsung meminta maaf" gumam Nadia.
Terjadilah suasana sepi di ruangan itu, alan sengaja tidak membuka topik pembicaraan karena dia menunggu Nadia. Begitupun Nadia dia yang bingung harus memulainya darimana malah terdiam menunggu alan.
"Huhhh.." suara nafas alan terdengar oleh nadia. "Apakah kamu akan berdiri terus disana seperti patung.!" Tanya nya.
Nadia menengadahkan pandangan nya.
"Mau apa kamu kesini?" Alan berpura-pura.
"Ka-kan bapak yang menyuruh saya untuk menemui bapak hari ini.!" Jawab nya gugup.
"Aku.!" Sahut alan. Membuat Nadia semakin bingung.
"Kenapa dia malah bereaksi seperti itu.! Pak tedi tidak mungkin salah menyuruhku. Dia tidak mungkin main-main dengan orang seperti ini.!" Umpat nya dalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu. Kau sedang mengumpatiku.!" Bentak nya.
"Ti-tidak pak.! Saya hanya bingung kemarin saya di suruh pak tedi untuk menemui bapak hari ini.!" Jawab nya.
"Dia masih tidak sadar juga dengan kesalahan nya. Kenapa dia tidak langsung meminta maaf atau bahkan bersujud di kakiku.!" Alan mengeryitkan sudut bibirnya.
"Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kesini?" Tanya alan. Nadia hanya mengangguk.
"Ka-karena saya telah melalukan kesalahan di hari pertama saya kerja.!"
"Lalu apa lagi?"
"Membuat baju bapak jadi basah" sambungnya lalu dia terdiam.
"Yakin hanya itu kesahalanmu tidak ada lagi?
Biar aku beritahu kamu. Pertama kau itu tidak bisa bekerja. Kenapa membersihkan lantai saja begitu licin. Kedua menaruh troli sialan itu dimana saja.! Ketiga saat berjalan tidak pakai mata sehingga mobilku hampir saja menabrakmu. Kalau kesalahanmu begitu banyak tidak ada alasan lagi untuk aku mempertahankanmu bekerja disini.!"
Ancam nya.
"Tolong jangan pecat saya pak. Saya minta maaf, saya sangat butuh pekerjaan ini hanya ini harapan saya satu-satunya agar tetap bisa membiayai adik saya sekolah dan untuk berobat bapak saya.!" Rintih nya dengan mata yang sudah hampir menangis.
Mendengar ucapan nya membuat alan sedikit merasa iba padanya.
"Saya janji akan bekerja dengan baik. Dan tidak akan ceroboh lagi. Saya juga tidak akan membuat masalah apapun yang bapak perintahkna akan saya lakukan pak asal bapak tidak memecat saya.!"
Mendengar kalimat itu membuat alan kembali menatap nya. Dan kini dia terpikirkan sebuah ide.
"Yakin apapun akan kamu lakukan.!"
Nadia mengangguk seraya menjawab "iya"
"Kalau begitu memohonlah padaku. Kemari.!" Ia menjentrikan jarinya agar nadia menghampirinya. Lalu alan berdiri.
"Bersujudlah padaku dan meminta maaf." Ucap nya. Sontak nadia terkejut mendengar perintah alan.
Dia benar-benar tidak habis pikir, alan menyuruhnya untuk bersujud dan memohon padanya. Ini tidak pernah ia lakukan selama hidupnya. Dia memang orang tidak punya tapi bukan berarti dia harus rela harga dirinya di injak-injak oleh orang lain.
"Kenapa diam.! Ayok sujudlah kalau kau benar-benar masih ingin tetap bekerja disini, kalau tidak mau yasudah berarti hari ini terkahir kamu menginjakkan kaki di hotel ini. Dan karena masa kerjanamu baru satu hari kau tidak akan dapat pesangon karena minimal masa training disini selama dua minggu." Ancam nya.
Haruskah Nadia melakukan nya. Namun Karena tidak ada lagi pilihan mau tidak mau dia harus melakukan hal itu. Akhirnya dia mulai menurunkan tubuh nya kini nadia sudah duduk di lantai dia menatap sepatu mengkilat dari seorang laki-laki kaya yang sangat sombong dan tak punya hati nurani itu.
Dengan perlahan nadia mulai membungkukan badan nya. Saat sudah hampir bersujud tiba-tiba.
"Berhenti.!"