SURPRISE WEDDING

SURPRISE WEDDING
Episode 13 : Apa tidak salah



Pagi ini alan berada di rumah kedua orang tuanya. Karena setelah kejadian semalam ayah nya meminta alan untuk pulang kerumah.


Untuk apa lagi? Tentu saja membicarakan hal penting yang dia umumkan semalam di depan semua tamu undangan.


"Maaf aku terlambat" ucap nya sambil menghampiri meja makan. Disana sudah ada kedua orang tuanya dan eyang nya.


"Kamu pulang jam berapa?" Tanya pak prabu


Alan tidak mungkin mengatakan kalau dia pulang larut malam. Karena dia singgah dulu kesebuah cl**b malam. Dia bingung dengan situasinya.


"Aku-" ucap nya..


Semua mata memandang nya. Begitu juga dengan ibunya.


"Setelah selesai dari acara aku mengantarnya pulang. Dan bertemu orang tuanya dulu" jawab nya sambil mengambil makanan.


"Dia? Apakah dia pacarmu. Oh maksud ibu calon tunanganmu" tak disangka ucapan ibunya membuat alan terkejut. Kenapa ibunya sudah tau tentang kejadian semalam.


"Kenapa ibu bisa tau?" Dia melontarkan pertanyaan yang ambigu.


"Tentu saja ibu tau.! Karena ayahmu yang memberitahunya. Kenapa kamu merahasiakan nya kepada kita" ucap nya.


"Bukan begitu bu, hanya saja aku menungu waktu yang tepat untuk mengenalkan nya" jawab nya dengan penuh alasan.


"Jadi kamu sudah mengatur pertemuan dengan keluarga nya kan.!" Sahut pak prabu.


"Ehem.. itu akan aku sudah mengaturnya."


Jawab nya tanpa menatap ayahnya.


"Bagaimana mungkin aku mengantur pertemuan itu. Apa yang harus aku katakan pada orang tuanya. Semoga saja gadis itu sudah memberitahukan pada orang tuanya." Gumam nya dalam hati.


*******


Sedari tadi dia hanya modar-mandir di dalam kamar nya. Dengan perasaan gelisah.


"Aku harus ke apartemen" ucap nya lalu dia meraih kunci mobil nya di nakas.


Segera alan keluar dari kamar nya dan menuruni tangga.


"Mau kemana kamu?" Tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah eyang nya.


"Ahk.. aku harus ke apartemenku eyang. Ada hal yang harus aku urus" jawab nya


"Ada apa? Apa tentang pertemuan keluarga itu?" Tanya nya penasaran.


Alan terdiam lalu memalingkan wajah nya.


Jawab nya berbohong.


"Baiklah. Cepat selesaikan besok kita harus segera bertemu" ucap nya tegas.


"Besok.!" Sahut nya terkejut.


"Iyah..bukankah secepatnya kita harus membicarakan rencana pernikahan kalian. Kamu sendiri yang bilang kalau dalam waktu dekat kalian akan bertunangan. Bagaimana eyang akan memyetujuinya kalau dengan keluarganya saja kami belum bertemu" jelas nya.


"Ba-baiklah eyang. Akan aku kabari lagi setelah semuanya beres" ucap nya gugup.


Setelah itu alan bergegas pergi. Dia hanya berpaimtan kepada eyang nya dan tidak mengabari kedua orang tuanya.


******


Di sebuah apartemen mewah dan luas alan berdiri menghap jendela dengan sebuah gelas minuman yang dia pegang.


Handphone nya terus berdering namun alan membiarkan nya. Yups.. celine tak henti-hentinya menghubungi alan. Karena dia berjanji akan mengunjunginya minggu ini namun alan mengabarkan kalau dia tidak bisa pergi. Sontak saja wanita yang berada di luar negeri itu sangat marah. Namun karena banyak pikiran alan coba mengabaikan nya. Dia akan menyelesaikan urusannya bersama nadia dulu.


Ini adalah kali pertama alan mengabaikan celine. Biasanya dia tidak pernah bersikap seperti ini pada celine dia selalu menuruti celine. Mungkin saking sayang nya pada celine.


Ting...nong.. bell berbunyi memecah lamunan nya. Alan segera berjalan menuju pintu.


Klik... Pintu itu terbuka dan dilihat nya nadia di balik pintu itu.


Alan berjalan kedalam namun seketika dia menghentikan langkah nya dan berbalik.


"Kenapa kamu masih mematung disana? Cepat masuk.!" Ucap nya.


Nadia merasa ragu melangkahkan kakinya untuk masuk ke apartemen.


"Apa aku tidak salah datang kesini? Lebih baik aku pulang saja, tapi aku sudah berada di hadapan nya apakah masih bisa melarikan diri.!" dia bergumam sendiri lalu dia memundurkan langkah nya. Namun alan memperhatikan gerak gerik nadia.


"Kenapa dia seperti itu? Apa dia akan kabur?" Batin nya bertanya heran.


Alan menatap nadia yang masih tidak melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam. Dia lalu menghela nafas dan menaruh gelas di meja lalu dengan penuh emosi alan berjalan mendekati pintu.


"Cepatlah masuk.!" Alan menarik tangan nadia dengan kasar. Namun lagi-lagi karena tenaga alan begitu kuat. Tubuh nadia tergoyah. Dia menubruk tubuh alan kepalanya nadia terbentur mengenai sudut bibir alan.


"Aaaaa.." teriak nadia.


Bukan karena dia yang kesakitan namun nadia berteriak karena tubuh mereka jatuh bersamaan.


Bruuuuuukkk.


Bebebrapa detik suasana disana menjadi hening seketika. Tak ada suara apapun pintu apartemenpun sudah tertutup.