
"hmmmmm.." nadia menghirup aroma masakan yang ada di wajan.
Dia menghangatkan kembali makanan yang dia bawa semalam dari restoran.
Dengan cepat dia menyajikan nya di meja makan.
Tak lama alan keluar dari kamar nya dengan pakaian kerjanya seraya menjinjing tas.
"Sarapan nya sudah siap?" Ucap nadia dengan tersenyum.
"Aku tidak ingin sarapan,kamu saja.! Aku akan berangkat sekarang" dia berjalan berlalu tanpa memperdulikan nadia.
"Tapi kan-" sahut nadia namun alan sudah keluar dari apartemen.
"Sebenarnya dia kenapa dari semalam sikap nya aneh. Setelah menerima panggilan telepon itu.!" Gumam nadia.
Alan sudah duduk di kursi kerjanya, ada beberapa berkas di hadapan nya. Yang bahkan dari tadi dia hanya membukanya tanpa membaca berkas-berkas itu.
"Maaf pak, apa berkasnya sudah selesai di tandatangani?" Tanya sang sekretaris.
"Ini.!" Alan kembali tersadar, aku belum melihatnya.
Sang sekretaris mengeryitkan kedua alisnya. Apakah boss nya itu sedang ada masalah. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
Harusnya dia bisa fokus sekrang, karena banyak sekali pekerjaan yang tertunda setelah dia cuti kemarin.
"Sial.!! Aku tidak bisa fokus bekerja." Gerutunya sambil mengusap kasar wajah nya.
Seharian alan habiskan di dalam ruangan kerjanya. Bahkan saat jam makan siang dia tidak keluar sama sekali walaupun sang sekretaris sudah menawarkan nya makanan.
Dia lebih sering menatap handphone nya sesekali melakukan panggilan telepon.
************
Saat kembali ke apartemen dia langsung masuk ke kamar. Tak menghiraukan nadia.
Setiap pagipun dia tidak sarapan, begitu pun saat pulang dari hotel. Dalam hati nadia sedikit khawatir.
"Sudah dua hari dia tidak makan. Aku takut bagaimana kalau dia sakit? Atau aku antarkan saja makanan ke kamar nya" gumam nya sambil menatap pintu kamar alan.
Dengan keberaninan akhirnya nadia mengetuk pintu kamar alan.
Krekkk.
"Ada apa?" Tanya alan dengan menggunakan kaos polos dan celana boxer. Rambut nya masih setengah basah sepertinya dia baru selesai mandi.
Nadia tertegun melihat nya. Tidak dapat di pungkiri om-om satu ini memang tampan.
Usianya memang terpaut jauh dengan nadia tapi kepampanan nya tetap terpancar walaupun dalam kondisi apapun.
"Eum..itu, aku ingin menawarkan makan malam" ucap nadia
"Heuh" alan menghembuskan nafas berat nya.
"Kalau pak alan malas biar aku antarkan ke kamar."
"Tidak perlu, aku tidak berselara makan. Kamu saja" tak lama dia menutup lagi pintu kamar nya.
Membuat nadia mengendus kesal. Padahal dia sudah memberanikan diri menawarkan makanan.
Di kamar nya nadia masih terjaga sambil bersadar ke kepala ranjang. Dia menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang terjadi pada alan. Sikap nya sunggu berubah.
"Seperti yang sedang putus cinta saja.!" Gerutu nya.
Keesokan harinya sikap alan masih sama.
Bahkan kini nadia di buat mondar-mandir karena sudah hampir jam 12 malam alan belum juga pulang.
"Ya ampun dia kemana sih? Di telpon juga tidak di angkat" gerutu nya.
Dia bahkan tidak berani masuk ke kamar dan menunggu di ruangan, matanya sudah dangat berat, dilihat nya jam sudah pukul 01:35. Nadia beranjak dan berjalan ke arah jendela. Dia menyibakan hordeng dilihat nya cuaca di luar sudah mulai gerimis perasaan nya semakin khawatir.
Ting..tong..ting..tong...
Suara bel membuatnya terkejut. Dengan cepat dia membuka pintu.
Klik..