
Alan berada di hotel dirgantara. Dia sedang menunggu sekretarisnya.
"Apa kamu sudah menyelesaikan nya?" Tanya alan begitu laki-laki yang lebih tua darinya masuk kedalam ruangan.
"Sudah pak. Ini surat yang bapak minta.!" Dia menyerahkan amplop coklat.
Alan menerimanya lalu dia membuka dan membaca isi dari surat tersebut.
"Baiklah ini semua sesuai dengan apa yang aku inginkan.! Kamu boleh kembali bekerja"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi"
Dia keluar meninggalkan alan.
Selepas sekretarisnya keluar. Alan memandangi lagi surat tersebut dengan senyum licik di bibirnya.
"Dia harus segera membacanya dan menyetujuinya" ucap nya sambil memasukan surat itu kedalam amplop yang semula.
*******
Di sebuah meja di ruangan apartemen nya. Alan dan nadia duduk berhadapan.
"Apa ini?" Tanya nadia.
"Itu adalah sebuah surat kontrak.!" Jawab alan angkuh.
"Surat kontrak.! Surat kontrak terkait apa?" Nadia masih terheran.
"Begini biar ku jelaskan.!" Alan merubah posisi duduk nya agar lebih santai.
"Kamu tahu kita baru saja menikah.! Dan pernikahan kita terjadi begitu saja. Sebelum menikahpun aku sudah menawarkan beberapa perjanjian untukmu. Apa kamu masih ingat?"
"Ten-tentu saja.!" Jawab nadia gugup.
"Jika aku mau menikah dengan pak alan. Biaya pengobatan orang tuaku akan di tanggung oleh pak alan. Begitu juga dengan pendidikan adikku." Tuturnya.
"Bagus sekali kalau kamu masih ingat.!"
"Lalu apa hubungan nya dengan surat perjanjian ini.!"
Dengan ragu nadia meraih amplop coklat itu. Dia membukanya secara perlahan. Kertas yang tak terlalu tebal itu dia baca dengan sangat teliti. Sesekali dia membelalakan matanya namun nadia tetap mencoba menyelesaikan membaca semua isi surat itu.
Alan menatap nadia dengan sedikit cemas.
"Aku yakin dia tidak akan menolak dan bersedia mendatangani nya." Gumam alan sambil menyeringai licik.
"Jadi ini surat perjanjian nikah kontrak kita.!" Ucap nya serius.
Alan menaikan kedua alisnya sambil tersenyum kepada nadia.
"Kenapa kamu terlihat sangat terkejut seperti itu?" Pertanyaan nya sungguh polos.
"kamu akan menyetujuinya bukan.!" alan meyakinkan nadia.
"aku rasa semua point yang tertulis di sana semuanya benar dan sesuai dengan kenyataan dan aku yakin kamu tidak akan keberatan untuk menandatangani nya. Dan yang lebih jelasnya dalam perjanjian itu kamu sebagai pihak kedua tidak di rugikan sama sekali." jelasnya
"tapi pak. Bagaimana kalau orang kita tahu.!"
nadia cemas.
"mereka tidak akan mengetahuinya kalau kamu tidak memberitahu nya. Dan tentu saja ini hanya menjadi rahasia kita berdua.!"
"Bagaimana apa kamu setuju.? Bukankah banyak sekali keuntungan yang kamu dapatkan. Jadi cepatlah tandatangani.!" rayu nya.
Bagaimana ini. Apakah dia harus menandatangani nya atau tidak.! Nadia memang tidak mencintai alan tapi kenapa pernikahan mereka hanya sebatas kontrak.! Ini seperti mempermainkan pernikahan saja. Bagaimana kalau orang tua mereka sampai tahu. Memang benar di dalam point tersebut nadia tidak di rugikan sama sekali. Tapi tetap saja....
"Aaaahk bagaimana ini" gumam nya dalam hati.
suasana menjadi hening saat itu. Mereka berdua terdiam.
"Baiklah aku akan tandatangani saja. Toh aku juga tidak mempunyai rasa apapun padanya. Dan aku juga tidak ingin hidup selamanya dengan laki-laki menyebalkan seperti dia.!" ucap Nadia dalam hatinya.
Dengan perlahan tangan nya menggapai sebuah pena yang sudah di sediakan alan.
dan dia menandatangani surat tersebut.