
Kehadiran bayi mungil dalam pernikahan Dimas dan Rahma membawa suasana baru yang lebih ceria. Dimas sebagai ayah baru, ia tidak ingin melewatkan secuil momen pun dalam perkembangan putra pertamanya itu.
Sementara itu, terjadi beberapa perubahan di dalam dunia kerja yang digeluti oleh Dimas.
"Dim, saya mendapatkan surat yang ditujukan untuk kamu," ucap Arfan.
"Surat apa, Pak?" tanya Dimas.
"Kamu baca saja sendiri," jawab Arfan sambil memberikan sebuah map kepada Dimas.
Lalu Dimas membuka map tersebut dan membaca surat yang berada di dalamnya.
Dimas pun terdiam dan mengernyitkan dahinya sambil memandang sang manajer yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Selamat, kamu mendapatkan promosi ke pusat. Kamu dipindahkan ke Jakarta pertanggal 1 bulan depan. 17 hari dari sekarang," ucap Arfan sambil menyalami dan menepuk-nepuk bahu Dimas yang masih belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi.
"Hmm sepertinya kamu masih loading," lanjut Arfan sambil tertawa kecil.
"Duduk dulu, minum tehnya."
Dimas pun kembali duduk, tetapi pikirannya masih melayang.
"Maaf Pak, kok saya bisa ditarik ke pusat? Kan saya rekrutan Jogja," tanya Dimas yang tidak mengerti atas promosi yang ia dapatkan.
"Saya yang mengajukan nama kamu untuk menduduki posisi junior manajer di divisi product development. Pengalaman kamu sebagai asisten selama hampir 8 tahun, sudah cukup membuktikan kinerjamu yang di atas rata-rata. Selain itu, dengan adanya status dalam jenjang pendidikanmu yang seharusnya tidak selayaknya berada di posisi asisten. Sudah seharusnya kamu menduduki posisi sebagai manajer dan kebetulan posisi manajer di divisi product development sebentar lagi kosong," jelas Arfan.
"Kok bisa kosong, Pak?"
"Manajer yang menjabat saat ini, terkena stroke 2 pekan yang lalu dan manajer HRD meminta rekomendasi nama-nama untuk menggantikannya. Saya pikir kamu pantas berada di posisi itu. Saya membaca beberapa tulisan kamu di jurnal perusahaan tentang kemajuan teknologi otomotif yang dapat dikembangkan di perusahaan ini. I'm impressed!!"
"Saya juga berdiskusi dengan Khalis untuk rekomendasi posisi ini, dia langsung mengirimkan surat rekomendasi ke pusat dan pagi ini saya mendapatkan surat promosi ini untuk kamu. So, sekali lagi selamat ya!"
Dimas masih belum usai dengan keterkejutan atas promosi jabatan yang tidak terpikirkan olehnya. Dia pun segera menghubungi Khalis, untuk meluahkan semua rasa di hatinya.
Di Doha, matahari baru saja terbit dan Khalis baru saja keluar dari masjid setelah melaksanakan shalat Shubuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kultum.
"Hmm Dimas, pasti masalah promosi," gumam Khalis sebelum mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Hei, selamat ya atas promosinya," ucap Khalis.
"Terima kasih, Mas. Eh tapi, kok tiba-tiba saya dipromosikan?"
"Tidak tiba-tiba, kamu kan sudah 10 tahun menjadi asisten saya, ini adalah saatnya kamu menjadi manajer."
"Divisi product development? Mas yakin, saya tepat berada di posisi itu?"
"In syaa Allah keputusan saya telah melalui proses pertimbangan yang cukup, berdasarkan laporan kinerja kamu selama menjadi asisten saya dan Arfan. Look Dim, you deserve it, kamu berhak dan pantas berada di posisi itu. Ide-ide cemerlang kamu akan tertampung dengan sempurna di sana."
Jantung Dimas belum juga usai dengan keterkejutan itu, yang menyebabkan berdetak dengan cepat dan keras. Dimas pun beranjak dari ruangannya menuju mushola untuk menunaikan ibadah sholat Dhuha dan ia berharap ketenangan setelahnya.
Hari itu, Arfan mendelegasikan pekerjaannya kepada Dimas, sementara ia mengunjungi cabang di kota Solo.
Kesibukan itu, membuat Dimas melupakan sesaat beban yang akan ditanggungnya 2 pekan ke depan.
Sepulangnya dari bekerja, Dimas menyempatkan membeli makanan untuk merayakan promosinya bersama Rahma.
Waktu telah menunjukkan pukul 19.45 dan Dimas baru saja memasuki kamar apartemennya yang sepi. Tercium wangi aroma bayi yang membuat Dimas bergegas untuk membersihkan badannya sebelum menemui Rahma yang sedang tertidur lelap di samping Ammar, di bayi mungil yang menjadi pemicu semangatnya dalam bekerja.
Beberapa saat kemudian, Dimas membangunkan Rahma dengan perlahan.
"De, de, bangun, kita makan malam dulu yuk."
Rahma pun perlahan membuka matanya dan segera memeluk Dimas begitu ia melihatnya.
"Abang sudah lama?"
"Baru kok, tadi langsung mandi dulu. Yuk kita makan bareng, mumpung Ammar masih tidur," ajak Dimas sambil meraih tangan Rahma dan menggandengnya menuju meja makan.
"MasyaAllah Abang? Kok beli makanan sebanyak ini? Ini kan mahal, Bang," ucap Rahma ketika melihat aneka panganan yang memenuhi meja makannya.
Dimas pun tersenyum dan mendudukkan Rahma di kursi makan.
"Abang sengaja beli banyak, sekalian buat sarapan besok. Kan bisa disimpan di kulkas."
"Hmm dalam rangka apa Abang belanja makanan sebanyak ini?"
Dimas pun tertawa kecil.
"Sudah di WA mbak Dona, belum?"
"WA apa?" tanya Rahma balik sambil memeriksa notifikasi WA-nya.
"Alhamdulillah, barakallah fiikum! Officially nyonya manajer for you! Lop lop se-danau kalau sekebon kurang banyak! Eh jangan bengong! Dicium trus dipeluk dong itu yang sebentar lagi pindah ke Jakarta. Aahh diriku jadi ingin segera pulang dan kita rayakan bersama!"
"Wait, ada dua kemungkinan saat kamu membaca pesan ini. Satu, kamu nggak ngerti alias bingung, karena Dimas belum ngomong apa pun. Lalu kamu pun terharu setelah membaca pesan ini."
"Dua, I knew it, mbak Dona pasti akan WA aku dengan segala kehebohannya."
"Hmm, aku pilih nomor 1, bener kaaan? Ya, benerlah! I know you guys so well, lah! Yowes met merayakan jabatan baru yang uwau itu!"
Rahma pun meletakkan HP-nya di meja makan, tangannya pun gemetar.
"Bang, Abang diangkat jadi manajer di Jakarta? Kita pindah ke Jakarta?"
Dimas pun menganggukkan kepalanya.
"Bulan depan, abang sudah mulai bertugas di Jakarta. Kita pindah akhir bulan ini."