
Tak terasa setahun sudah Dimas dan Rahma hidup berumah tangga. Seperti pada pria kebanyakan, penampilan Dimas pun tampak mulai berubah, terutama dari sisi timbangan yang mulai bergerak ke arah kanan.
Sedangkan Rahma, wajahnya terlihat semakin bersinar dan pembawaannya pun semakin tenang mengikuti karakter sang suami.
Rahma sudah tidak banyak memikirkan 'kapan positif', ia mengalihkan fokusnya pada hal-hal lain, yaitu menyalurkan hobby memasaknya yang sempat tertunda.
Di waktu senggangnya, seringkali ia bereksperimen dengan mencoba aneka resep baru yang ia modifikasi untuk mendapatkan hasil rasa yang unik.
Beberapa kali, ia pun gagal mendapatkan rasa yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tetapi setelah beberapa kali mencoba, ia pun berhasil membuat resep baru.
"De, mau bisnis katering juga seperti mbak Dona??" tanya Dimas ketika melihat aneka makanan berjejer di meja makan.
"Eh Abang, hmm pingin sih kok kayaknya seru yaa punya bisnis kuliner. Tapi waktunya hanya weekend aja, sisanya aku sudah tepar dari kantor," jawab Rahma.
"Ya kan ga perlu dipaksakan, kalau sempat yaa buat, kalau ga yaa sudah. Sedikit-sedikit kan bisa dibawa ke kantor, promosi kalau kamu menerima pesanan," saran Dimas.
"Iya sih, mbak Dona juga sempat nyaranin itu. Tapi disaat keinginan untuk mulai berbisnis datang, kok badanku rasanya ga enak. Pegel-pegel diseluruh badan, bawaannya jadi males deh," keluh Rahma.
"De, kecapean ga?? coba deh istirahat dulu, siapa tahu badannya enakan. Apa mau dipijat?? Abang pijatin, mau ga??" tanya Dimas.
"Ga, Bang. Ga kepingin dipijat, aku rebahan dulu aja deh, siapa tahu mendingan," jawab Rahma.
"Yowes, istirahat dulu aja. Biar Abang yang beresin dapurnya. Oiya, sudah minum suplemennya belum?? madunya juga sudah belum??" tanya Dimas lagi yang membuat Rahma menundukkan wajahnya.
"Eee kenapa?? hayooo, pasti adek malas minum suplemennya, kaan??" tebak Dimas sambil memeriksa persediaan suplemen milik Rahma.
Setelah membuka botol suplemennya, ia pun melirik ke arah Rahma yang sedang menutupi wajahnya dengan bantal kursi.
"Deeeee, ini kenapa masih banyak?? harusnya persediaan sekarang hanya untuk 6 hari lagi, coba ini ada...." kalimat Dimas pun terhenti karena ia menghitung jumlah suplemennya.
Lalu,
"Deeeee, ini masih cukup untuk 2 pekan??!! kamu ga minum berapa kali??!! gimana sih??!!" tanya Dimas yang cukup emosi.
"Bang, jangan marah dong?? please, aku bosan Bang, capek minum suplemennya tiap hari, tapi ga ada hasilnya," jawab Rahma membela diri.
"Ada hasilnya atau tidak, itu kan hak Allah, De. Tugas kita itu berikhtiar dan ikhlas atas ketetapan-Nya. Minum suplemennya termasuk ikhtiar. Ingat kata dokter ga?? kalau dengan suplemen ini akan membantu mempersiapkan badan calon ibu untuk menerima kedatangan tamunya yang akan menempati rahim selama 9 bulan. Apa susahnya minum suplemen??" ucap Dimas penuh emosi.
Rahma pun menyadari kesalahannya, air matanya pun mengalir.
"Kita periksa ke obgyn hari ini," lanjut Dimas yang segera mendaftarkan Rahma di rumah sakit ibu dan anak langganan mereka.
Setelah itu, Dimas mendekati Rahma dan memeluknya.
"De, maafin Abang. Abang ga bermaksud marah, tapi semua ini kan untuk kesehatan, walaupun belum ada janin yang bersarang di perut Adek, bukan berarti suplemen dan vitamin itu tidak ada gunanya. Kan tetap diserap tubuh, semuanya untuk kesehatan Adek juga, kan??"
"Nanti sore kita periksa ke obgyn, yaa," ajak Dimas.
Sore itu, Dimas pun mengantarkan Rahma untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan di rumah sakit.
"Gimana Bu Rahma, ada keluhan apa ??" tanya dr. Rihana.
"Dok, belakangan ini istri saya mulai tidak rutin meminum suplemennya, ada pengaruhnya ga, Dok??" tanya Dimas.
"Suplemen itu bukan obat, sifatnya berbeda, sehingga kalaupun tidak diminum yaa tidak menjadi masalah, tetapi alangkah baiknya tetap diminum untuk menunjang kesehatan," jawab dr. Rihana.
"Cuma mudah capek aja sih, Dok" jawab Rahma singkat.
"Dia lagi rajin di dapur, Dok. Jadi waktu istirahat di akhir pekan diisi dengan mencoba aneka resep, mungkin itu yang bikin jadi mudah capek," ucap Dimas menambahkan jawaban Rahma.
"Hmm wajahnya juga sedikit pucat, ada pusing??" tanya dr. Rihana.
"Sedikit, Dok. Tapi cuma kadang-kadang saja, kok Dok," jawab Rahma.
"Datang bulannya, bagaimana?? lancar??" tanya dr. Rihana lagi.
"Bulan ini belum, Dok. Biasanya mundur 3-4 hari sih, Dok. Tapi ini sudah sepekan, belum haid juga. Haid bulan lalu juga cuma flek selama 3 hari, " jawab Rahma.
"Saya periksa dulu yaa," ucap dr. Rihana mempersilahkan Rahma untuk naik ke atas bed periksa.
Rahma pun berbaring di atas bed periksa.
Dr. Rihana pun mulai mengukur tekanan darah dan melanjutkan dengan menuangkan jel untuk USG di atas perut Rahma.
"Tekanan darahnya sedikit rendah, 105/70. Sekarang saya USG dulu yaa??"
Dr. Rihana pun mengarahkan alat USG ke atas permukaan perut Rahma.
Setelah beberapa saat,
"Alhamdulillah, sepertinya sudah ada yang tumbuh disini," ucap dr. Rihana yang membuat Dimas dan Rahma berpandangan.
"Maksudnya, Dok??" tanya Dimas.
"Bisa dilihat ini, yang bulat kecil ini adalah janin ukurannya masih kecil sekali, masih sebesar biji kacang hijau. Disini keterangannya usia kandungan 4 minggu," jelas dr. Rihana.
Dimas dan Rahma mencoba mencerna kalimat yang keluar dari dr. Rihana.
"Saya hamil, Dok??" tanya Rahma tak percaya.
"Istri saya, hamil, Dok??" tanya Dimas yang juga tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar.
"Selamat Bu Rahma, Anda telah mengandung dengan usia kandungan 4 minggu," jawab dr. Rihana.
Kebekuan sesaat pun terjadi. Air mata haru menetes di pipi Rahma, jantung Dimas pun berdegup kencang, lalu,
"Alhamdulillah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!" ucapan syukur dan takbir keluar dari mulut Dimas.
Dimas lalu memeluk Rahma yang masih membeku, berita bahagia yang ia nantikan selama setahun, akhirnya datang juga, disaat Rahma sudah memasrahkan diri kepada sang Illahi Rabbi.
Dr. Rihana kemudian memberikan vitamin dan suplemen tambahan untuk Rahma.
"Bu Rahma, saya berikan suplemen tambahan ya. Ada omega 3, kalsium, asam folat dan vitamin B komplek. Untuk tambahan seperti susu, silahkan Bu Rahma mengkonsumsi susu khusus yang sesuai dengan selera."
"Ada tambahan khusus lagi ga, Dok??" tanya Dimas.
"Di trimester pertama, harus lebih hati-hati dalam beraktivitas. Kelelahan ataupun stres dapat berpengaruh pada janin. Sehingga kondisi fisik dan psikisnya harus dijaga. Biasanya nanti ada mual terkadang sampai muntah, itu normal. Yang penting asupan harus dijaga, agar badan tidak lemas. Buah dan sayuran dapat membantu mengurangi mual yang mungkin nanti akan dirasakan," dr. Rihana menjelaskan.