
" Bang, lusa kita ke butik kan?? untuk fitting?? "
" Iya, jam 4 ke butik, trus makan malam kita janjian sama WOnya untuk susunan acaranya sama daftar undangan "
" Mas Khalis sama mbak Dona ikut?? "
" Ikutlah, mereka kan ahlinya, sekalian minjam mobilnya kan "
" Hooo cerdas!! "
" Bang, aku sudah kenyang " ucap Rahma setelah menghabiskan 1 cheese burger, 1/2 pan pizza dan 3/4 gelas strawberry milkshake.
Dengan senyumnya dan tawa kecil, Dimas menjawab,
" Alhamdulillah, akhirnya kenyang, kalau ga kenyang, Abang bakalan bingung "
" Ngeri Bang, kalau makan segitu ga kenyang!!"
" Yowes, Abang juga sudah selesai, yuk kita rapikan "
Kemudian Rahma merapikan meja dan membersihkan lantai.
Sedangkan Dimas memasukkan makanan dan minuman untuk sarapan ke dalam kulkas untuk dihangatkan esok pagi.
Kemudian Dimas merapikan kamar tidurnya tidak lupa ia menyemprotkan pengharum ruangan.
Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
" De, sudah selesai?? "
" Sudah Bang, aku lagi ambil minum untuk di kamar "
" De, mau langsung tidur atau mau nonton dulu?? "
" Hmmm nonton apa?? nonton youtube di kamar aja " jawab Rahma dengan tawa kecilnya.
" Yowes, Abang sikat gigi duluan yaa "
" Ok, gantian !! "
" Hmmm kamarnya wangi " ucap Rahma sambil tersenyum ketika ia masuk ke dalam kamarnya.
Setelah itu, keduanya asyik tiduran di atas tempat tidur sambil berselancar di dunia maya.
" Waaa, Abang gercep!! statusnya di FB sudah berubah !! " ucap Rahma ketika membaca profil Dimas.
" Ya harus cepat lah, biar ga timbul fitnah "
" Yowes, kuuuu edit status ku jadi 'menikah' dengan Dimas Nugroho. Huuwaaa langsung keluar icon love-lovenyaaa!!! " ucap Rahma semangat.
" Ga jadi ngantuk ya?? " tanya Dimas.
" Iya ih, selesai sikat gigi dan cuci muka, kok jadi seger "
" Sekarang, Abang lagi ngetik apa?? " tanya Rahma.
" Baca aja " jawab Dimas sambil memberikan HPnya ke Rahma.
" Menikah adalah sunnah dan ibadah terpanjang. Menikah juga untuk memuliakan sang gadis. Qadarullah, manusia berencana tetapi Allah yang menentukan. Rencana-Nya selalu lebih indah dari rencana makhluk-Nya. Akad yang direncanakan akan diselenggarakan beberapa pekan lagi di Jogja, berubah menjadi Ahad 2 pekan yang lalu di Jatibening, Bekasi. Dikarenakan pertemuan yang tidak direncanakan dalam perjalanan Jogja-Jakarta. Alhamdulillah, aku telah halal untuknya, sehingga aku bisa menjaga dirinya disisiku. Semoga kita dapat meraih jannahNya dengan ibadah terpanjang ini "
Rahma pun merasa terharu, lalu ia memeluk erat Dimas dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
" Makasih Bang "
" Abang yang terima kasih, sudah mau melengkapi setengah Din-nya Abang " jawab Dimas sambil mengecup kening Rahma.
" De, sekarang Abang sudah menjadi suami, tanggung jawab orang tua sudah dilimpahkan ke pundak Abang. Jikalau ada masalah sekecil apa pun, sekecil nyamuk yang nggigit badan, Abang harus tahu. Enak aja tuh nyamuk main gigit istriku, aku aja belum " canda Dimas yang membuahkan cubitan di pinggangnya.
" Abang ih!! centil "
" Yaa ga papa, kan centil sama istri sendiri. Pokoknya harus ingat yaa, Abang bersedia jadi tempat sampah, untuk semua unek-unek, semua yang mengganjal, bilang ke Abang, minimal kalau Abang belum bisa memberikan solusi, bisa ngajak jajan kan "
" Siap Nyah!! " jawab Dimas sambil memeluk Rahma lebih erat.
" Abang matikan lampunya yaa " lanjut Dimas.
" Iya Bang "
Setelah Dimas mematikan lampu kamarnya ia segera kembali berbaring di samping Rahma dan memeluk badan istrinya itu.
" Bang "
" Hm, kenapa "
" Kenapa Abang setuju sama perjodohan ini?? "
" Hmmm kenapa yaa?? jujur sih pada awalnya ga setuju sama sekali, bahkan sempat kesal. Tapi akhirnya mikir juga, ga mungkin mbak Dona dan mas Khalis berulang kali berusaha ngejodohin kita berdua kalau menurut mereka kita ga cocok dan ga ada manfaatnya untuk kita berdua. Mbak Dona benar, kita berdua sama-sama sendiri di sini, sama-sama ngekost, yaaa untuk kebaikan kita berdua yaa kenapa tidak "
" Trus sekarang?? " tanya Rahma.
" Sekarang?? hmmm rasa 'itu' perlahan mulai tumbuh, sejak lamaran kemarin hingga saat ini, its growing. I'm in love with you now " jawab Dimas sambil mengecup bibir Rahma.
Rahma pun menyembunyikan wajahnya di balik selimut yang membuat Dimas tertawa.
" De, Abang ga akan melangkah lebih jauh sampai Ade izinkan, jadi tenang aja ga usah takut "
Rahma pun terdiam, mengingat nasihat ibunya sebelum ia kembali ke Jogja.
" Laki-laki itu punya hasrat yang harus disalurkan dan disitulah letak pahalanya bagi istri. Istri adalah ladang bagi suami. Jangan kamu tolak, walaupun dia tidak keberatan, tetapi kamu menyia-nyiakan pahala yang besar di depan mata "
Setelah terdiam beberapa saat, Rahma pun mulai bicara kembali.
" Bang, aku.... "
" Kenapa?? " tanya Dimas lembut sambil membelai kepala Rahma.
" Hmmmm, terserah Abang, aku mau diapain!! " jawab Rahma cepat sambil menutup matanya yang membuat Dimas tertawa.
" Ga usah dipaksa, Abang nunggu juga ga papa kok "
Lalu Rahma berbaring menatap lekat wajah Dimas.
" Bang, serius nih, beneran aku ga papa. Hmmm takutnya beberapa hari lagi aku halangan..... "
Dimas yang mendengar persetujuan dari Rahma, tanpa menunggu lama segera menyalurkan hasratnya yang telah ia tahan 2 pekan belakangan.
Sesaat sebelum adzan subuh,
" Akhirnya, subuh-subuh keramas juga " canda Dimas.
Rahma yang masih malu-malu, kembali menutupi seluruh badannya dengan selimut yang membuat Dimas kembali tertawa.
" Hmmm, memang benar kata orang-orang, punya istri itu hiburan " goda Dimas.
" Emang aku komidi putar?? atau bumper car??" protes Rahma.
" Itu taman hiburan Sayaaang, dah ah Abang jadi gemes!! "
Tak lama, terdengar adzan subuh bersahutan.
" Abang ke masjid yaa. Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam " jawab Rahma masih di dalam selimut yang membuat Dimas tersenyum geli melihatnya.
Hari itu, kasak-kusuk tentang Rahma dan Dimas di kantor lenyap begitu saja dengan adanya pernyataan Dimas di medsosnya yang berubah menjadi senyuman dan ucapan selamat. Walaupun tak sedikit yang merasa cemburu dengan hubungan mereka berdua, terlebih karena keduanya sempat merahasiakan hubungan mereka.
" Selamat ya Ma, Pak Dimas memang suami yang dapat diandalkan, tetap tenang tetapi berhasil mendiamkan rumor yang beredar " ucap Bu Dewi kepada Rahma sambil memeluknya.
" Terima kasih, Bu "
" Jadi sekarang kamu santai dan tenang saja, pangeran tidak akan membiarkan sang Putri terluka " goda Bu Dewi yang membuat Rahma tersipu.