Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 50 Tak Sadarkan Diri



Sore hari sembari menunggu Dimas pulang dari kantor, Rahma berjalan-jalan di taman sekitar apartemen sambil bersosialisasi dengan tetangga apartemennya.


"Mbak Rahma sudah berapa bulan ya?"


"Sekarang sudah masuk 36 pekan," jawab Rahma.


"Waaah nggak terasa ya Mbak, sebentar lagi sudah mau melahirkan."


"Laki atau perempuan, Mbak?"


"Saya nggak tahu, maunya surprise aja," jawab Rahma.


"Tapi pasti ada keinginan laki-laki atau perempuan, kan?"


"Pasti ada Bu, tapi yang penting lahirnya sehat dan normal, urusan gender biarkan Allah yang menentukan, karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya," jawab Rahma.


"MasyaAllah, mbak Rahma sudah cocok jadi ustadzah nih."


"Nggak Bu, hanya saja selama kehamilan ini, saya banyak ikut kajian online dan juga membaca buku-buku Islam, biar si dede nanti shalih atau shalihah," jawab Rahma.


"MasyaAllah, kita kalah shalihah dari mbak Rahma nih! Ayo ibu-ibu, kita ikutin mbak Rahma yang masih muda tapi mau belajar."


"Oiya Bu, kalau mau ikut kajian rutin khusus akhwat, ada di Masjid Al Fathir Seturan, jam 8-10 pagi setiap hari Selasa dan Kamis," ucap Rahma.


"Mbak Rahma ikut?"


"In syaa Allah, semenjak resign, saya sudah rutin ikut kajiannya. Kalau mau ikut, nanti kita bisa berangkat bareng," ajak Rahma.


"Boleh Mbak, kita ngumpul berpahala!"


"Maaf Bu, sudah hampir jam 5, saya naik duluan," pamit Rahma sebelum naik ke kamar apartemennya.


Ketika menaiki lift, tiba-tiba kepala Rahma terasa sakit dan pusing berputar.


"Astaghfirullah, kenapa ini? Kok tiba-tiba sakit begini?" ucap Rahma sambil memegangi kepalanya.


"Ting," suara lift yang menandakan dirinya telah sampai di lantai yang dituju.


Dengan perlahan Rahma pun berjalan berpegangan pada dinding-dinding untuk dapat menuju kamar apartemennya. Keringat dingin mulai mengalir, tangan dan kakinya pun bergetar.


Dengan kepayahan akhirnya ia berhasil membuka pintu kamar apartemennya dan menutupnya kembali. Ia pun segera menuju arah dapur untuk mengambil minuman, tetapi "Brug!!" ia pun terjatuh tak sadarkan diri.


Dimas yang masih berada di kantor mulai merasakan sesuatu yang membuat dirinya tidak tenang.


"Kok perasaanku nggak enak yaa? Jam berapa sih ini?" lirih Dimas sambil melihat ke arah jam di tangannya.


Dimas pun bergegas merapikan mejanya dan ia pun menyadari ruangan kantornya sudah sepi karena sebagian karyawan telah pulang termasuk manajernya.


Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya. Sesampainya di gedung apartemen, ia pun berlari menuju lift agar segera sampai di kamar apartemennya.


Setelah membuka pintunya, ia pun menemukan Rahma tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


"De! De! Kamu kenapa?" teriak Dimas panik sambil menepuk-nepuk pipi Rahma, tetapi Rahma tidak jua terbangun.


Dengan tangan gemetar, Dimas menghubungi layanan gawat darurat di rumah sakit tempat Rahma memeriksakan kehamilannya.


"Tolong kirimkan ambulans, istri saya tak sadarkan diri dan dia sedang hamil 8 bulan," ucap Dimas.


"Baik Pak, tolong alamat jelasnya, kami akan segera kesana," jawab petugas operator.


Setelah memberikan alamat lengkapnya, Dimas kembali berusaha membangunkan Rahma.


"De, Rahma Sayang, bangun dong. Abang sudah pulang, bangun yaa," ucap Dimas sambil membelai lembut pipi Rahma dan menggenggam erat tangannya.


Tetapi Rahma tetap tidak memberikan respon apa pun. Dimas lalu beralih ke kamarnya, ia pun segera mengambil tas yang telah Rahma siapkan untuk persalinan.


"Bang, aku sudah siapin semuanya untuk persalinan nanti, jadi nanti kalau sudah terasa, nggak sibuk mikirin yang mau dibawa, pasti panik bikin ambyar pikiran," itulah yang diucapkan Rahma 2 pekan yang lalu.


Beberapa saat kemudian, perawat dari RS pun tiba membawa stretcher ambulan lalu segera menaikkan Rahma ke atasnya.


Rahma pun segera dilarikan ke UGD.


"De, De!! Bangun! Kamu kenapa?" tanya Dimas sambil menepuk-nepuk pipi Rahma dan terus menggenggam erat tangan kekasih tercintanya.


Sesaat setelah sampai di UGD, Dimas pun harus menunggu.


"Pak maaf, silahkan Bapak tunggu di luar dulu, biar dokter bisa memeriksa keadaan istri Bapak," ucap perawat UGD.


Dimas pun hanya dapat melihat dokter dan perawat memeriksakan keadaan Rahma, dengan bibirnya yang tak lepas dengan istighfar.


Tak lama kemudian, dokter jaga UGD pun menghampiri.


"Pak, barusan dokter kandungan sudah memeriksa kondisi ibu Rahma dan akan dilakukan pembedahan cesar pada ibu Rahma."


"Kenapa? Apa? Cesar?" tanya Dimas yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi pada Rahma.


"Pak, tolong isi formulir persetujuan untuk segera dilakukannya pembedahan pada Bu Rahma," ucap perawat sambil memberikan kertas pada Dimas.


Masih dengan tangan yang gemetaran, Dimas mengisi formulir persetujuan tersebut kemudian ia pun segera menghubungi ibu Rahma di Jakarta.