
Setelah menyelesaikan administrasi persalinan Dona, Dimas dan Rahma menunggu di lobby ruang tunggu kamar bersalin.
Keduanya duduk berjauhan dan tidak saling bicara.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Suasana malam di RS tampak mulai sepi, menambah keheningan diantara mereka.
Hanya terlihat beberapa petugas kebersihan dan keamanan yang berkeliling.
Juga terlihat beberapa dokter dan perawat sedang melakukan pergantian shift malam.
Waktu telah menunjukkan lewat pukul 11.00 malam, Rahma berusaha untuk menahan kantuknya.
Dimas menyadari hal itu, berpindah tempat duduk ke depan Rahma.
" Ma, kamu tidur saja. Nanti kalau Pak Bos keluar, saya bangunkan "
" Ga Bang, mau tidur juga bingung posisi "
" Di sofa pojok sana kan bisa tiduran " tunjuk Dimas.
" Ga ah, aku nunggu begini aja "
Keduanya kembali terdiam, hingga..
" Ma "
" Bang "
Mereka berbicara bersamaan.
" Kamu dulu " ucap Dimas.
" Hmmm Bang, Abang serius mau nikah sama aku?? "
" In syaa Allah " jawab Dimas tegas.
" Hmm kalau aku nikah sama Abang, apa aku harus resign dan jadi ibu rumah tangga?? "
Dimas pun tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Rahma.
" Resignnya nanti juga boleh. Nanti setelah punya bayi, karena kewajiban seorang istri dan ibu ada di dalam rumahnya, jika mau usaha boleh, seperti Bu Dona tetap di rumah tetapi mempunyai bisnis kuliner "
" Hmmm, Bang, kemampuan masakku masih cetek banget, jaauuuuh banget dari mbak Dona.. "
Dimas akhirnya tertawa lepas mendengar kata-kata Rahma.
" Ma, aku ga nyari koki, aku nyari pendamping hidup, yaitu istri bukan koki. Coba tanya bu Dona sewaktu pertama kali menikah dulu, pasti tidak semahir sekarang. Kita sama-sama belajar, learning by doing. Abang juga banyak kekurangan, tapi yaa kita tutupi dan perbaiki kekurangan dengan saling melengkapi dan terus memperbaiki diri "
" Ma, aku ga nuntut macam-macam. Aku sendiri juga masih banyak kekurangannya, aku sadar akan itu. Tapi yaa seperti Pak Bos bilang, kita berdua sudah memasuki usia untuk menikah, sama-sama single dan tinggal sendiri. Yaaa untuk kebaikan kita berdua, kenapa tidak menikah saja. Kita akan dapat saling menjaga dan melengkapi "
" Ma, aku tidak akan memaksakan kehendak. Keputusan 100% ditanganmu, kalau kamu bersedia untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, aku akan melamar kamu secara resmi secepatnya "
Rahma hanya diam mendengarkan Dimas berbicara membuat Dimas bertanya-tanya.
" Ma?? kamu ga tidur kan?? kok ga ada suaranya "
Rahma masih diam dan menahan tawanya mendengar pertanyaan Dimas.
" Ma?? Waduh ga lucu kalau kamu ketiduran padahal aku ngomongnya serius banget. Yaaah mana ga direkam lagi nih !!?? gimana mau diulang??? "
Akhirnya Rahma melepaskan tawanya.
" Aman Bang, aku masih melek kok " jawab Rahma sambil tertawa.
Dimas pun tersenyum mendengar tawa Rahma.
" Ma, kamu pikirkan kembali yaa. Kalau bisa yaa secepatnya "
" Hmmm, Bang, nanti kita tinggal dimana?? "
Mendengar pertanyaan Rahma, bibir Dimas pun membentuk senyuman.
" Abang sudah survei beberapa tempat, sementara kita ngekost aja kan masih berdua. Ada kostan eksklusif untuk pasutri di Babarsari, dekat sekolah anaknya Pak Bos, perbulan 1,8 juta. Fasilitas kamar mandi dalam dan dapur mini. Ruangannya mirip apartemen "
" Atau Pak Bos juga nawarin untuk tinggal di apartemennya dulu. Katanya, kamar apartemennya belum ada yang nempatin dan itu sudah full furnished juga "
" Apartemennya lebih mahal sedikit, 2,5 juta per bulan. Viewnya bagus ke arah Merapi "
" Nanti Abang kirim fotonya "
Lewat tengah malam, Khalis keluar ruangan bersalin dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Rahma dan Dimas berdiri mendekati.
" Gimana Mas?? " tanya Rahma.
" Alhamdulillah laki-laki. Sebentar lagi Dona dipindahkan ke ruang perawatan, sekarang masih observasi dulu "
" Ada fotonya ga Mas " tanya Rahma.
Khalis mengeluarkan HP dari saku celananya dan menunjukkan foto bayinya kepada Rahma dan Dimas.
" Barakallah.... lucuuuuuukk "
" Berapa beratnya Mas, ndut ituuuu "
" Belum tahu, berat dan panjangnya masih belum tahu. Bayinya juga masih di observasi dulu. Saya masuk lagi ya, nanti saya kabarin nomor kamarnya "
" Mas, kirim fotonya dong "
" Ok "
" Kalian pulang aja, sudah malam. Kamu bawa aja mobilnya, sekalian antar Rahma pulang "
" Aku pulang ke rumah Bude aja, tadi sudah siapin baju buat nginap kok "
" Oo ya sudah, berarti kamu antar Rahma pulang sekalian sama mobilnya "
" Baik Pak, ada yang perlu saya bawa besok pagi?? "
" Ga ada. Oiya, izin cuti saya, berlaku mulai besok yaa "
" 5 hari kan Pak " tanya Dimas.
" Iya, 5 hari. Ya sudah kalian istirahat, hati-hati yaa. Syukron "
" Afwan, Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam "
Dimas dan Rahma pun berjalan keluar area bersalin menuju lobby utama RS yang sudah sepi.
Setelah keluar dari gedung RS, mereka berjalan menuju area parkir yang juga tampak kosong.
Angin yang dingin mempercepat langkah mereka menuju kendaraan yang tak jauh terparkir dari lobby utama.
Rahma memilih duduk di bangku belakang.
" Maaf Bang, aku duduk di belakang yaa "
" Ga papa, memang sebaiknya seperti itu "
Dimas pun menjalankan kendaraannya menuju rumah orang tua Dona.
Jalanan tampak sangat sepi, sehingga tidak sampai 10 menit mereka telah sampai di rumah orang tua Dona.
Rahma turun untuk membukakan pagar.
Setelah mobil terparkir, Dimas pun segera pulang ke kosannya.
" Abang langsung pulang yaa "
" Iya Bang, makasih. Hati-hati "
" Iya, kamu langsung tidur, besok kan masih ngantor "
" Iya Bang "
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam "