
Bayi mungil itu diberi nama Ammar Raditya, yang bermakna anak pertama laki-laki bagaikan sinar matahari yang kuat imannya dan dapat menjadi teladan.
Nama adalah do'a terbaik dari orang tua untuk anak-anaknya, sehingga Dimas dan Rahma pun memberikan nama sesuai dengan harapan mereka untuk anak mereka berdua.
Kerabat dan teman tak henti mengucapkan selamat dan do'a untuk putra pertama mereka.
"Selamat ya Pak Dimas, Rahma, ini ada bingkisan dari kami, jangan dilihat dari harganya, karena sudah kami lepas sebelum dibungkus, semoga manfaat yaa," ucap Bu Dewi, manajer HRD ditempat Dimas bekerja.
"Terima kasih, Bu," jawab Dimas.
Hingga 5 hari setelah persalinan, Rahma telah diperbolehkan pulang.
"De, Abang urus administrasinya dulu, yaa."
"Bang, kira-kira berapa habisnya? Aku lihat di brosur, biaya cesar itu sampai 20 juta. Abang memangnya punya tabungan segitu?" tanya Rahma.
"In syaa Allah ada kok, kamu tenang aja. Sudah ya, Abang beresin administrasinya dulu, biar kita segera pulang," ucap Dimas yang kemudian bersegera menuju loket pembayaran rawat inap.
Sebenarnya Dimas tidak memiliki dana yang cukup untuk biaya cesar Rahma, untuk itu ia meminjam dana dari kantornya, dengan pinjaman lunak tanpa bunga. Hanya saja, dana pinjaman itu belum juha cair, sehingga satu-satunya cara adalah dengan menjual motornya.
Tetapi sebelum itu, ia harus memastikan dulu berapa biaya yang harus ia keluarkan di konter kasir.
"Mbak, saya minta tagihan atas nama Rahma Adinda," ucap Dimas.
"Baik, tunggu sebentar ya, Pak."
"Hmmm oh ini tagihan atas nama ibu Rahma Adinda sudah lunas, Pak," ucap bagian kasirr yang membuat Dimas bingung.
"Heh, lunas? Kok bisa? Saya kan belum bayar, mbak?"
"Tetapi disini sudah tercantum lunas. Hmm barusan dibayarkan via transfer online, sekitar 1 jam yang lalu," jelas bagian kasir sambil menunjukkan bukti tanda pembayaran.
Dimas pun kembali terkejut ketika membaca nama pada kwitansi pembayarannya.
"Oiya Mbak, terima kasih," jawab Dimas sambil berlalu menuju lobby rumah sakit.
Ia pun menghubungi seseorang yang tercantum dalam kwitansi tadi.
"Assalamu'alaikum," suara pria yang sangat ia kenal dengan baik menjawab teleponnya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Mas, bayarin tagihannya?" tanya Dimas to the point.
"Mas, makasih banget, tapi tagihannya nggak sedikit lho, kok dibayarin? Trus, mbak Dona masih ngirimin kado lagi ? Aku nggak mau ngutang, Mas," ucap Dimas yang merasa keberatan dengan tindakan Khalis.
"Dim, aku nggak ngasih pinjaman ke kamu, ini hadiah persalinan untuk kalian berdua. Aku tahu kamu pasti sudah berencana untuk menjual motor kamu untuk biaya rumah sakit, iya kan? Sudahlah, kamu simpan uang kamu dan motornya. Sepanjang aku bisa bantu, aku akan bantu kamu dan aku nggak minta kamu ngembaliin, karena ini bukan pinjaman, ini hadiah. Jadi terima aja hadiahnya," ucap Khalis.
"Tapi Mas..."
"Dimas Nugroho, cukup berterimakasih kepada Allah dan disaat aqiqah putramu nanti, kamu berbagilah bersama anak-anak yang kurang beruntung, sedekahkan hartamu untuk mereka yang tidak mampu. So, just relax, enjoy your moment as a new parent," ucap Khalis.
"Jazakumullah khairan katsiro, Allah yang akan membalas semua kebaikan mas Khalis dan mbak Dona. Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih," ucap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca.
Dimas pun kembali ke kamar perawatan untuk menjemput Rahma. Sesampainya di kamar, ternyata Rahma sedang menerima telepon dari Dona.
"Mbak? serius ini banyak banget!"
"Emang banyak, ngapain ngirim kalau cuma sedikit," jawab Dona.
"Bang, barusan mbak Dona transfer 5 juta, katanya nggak boleh nanya apa-apa, disuruh pakai sesuai kebutuhan, kalau nggak butuh yaa ditabung, kalau nggak punya tabung yaa kotak, terserah aja, katanya," ucap Rahma sambil tertawa kecil.
"Alhamdulillah, kakak kita sehat semua," jawab Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Heran nggak sih, Bang, mereka berdua itu bisa kompak banget. Kompak baiknya, kompak lucunya, plus kompak anehnya," ucap Rahma.
"Mungkin ini adalah jawaban dari do'a-do'a yang mereka panjatkan," ucap Dimas.
"Maksudnya?" tanya Rahma.
"Setelah sebelumnya mereka berdua telah cukup lama menduda dan menjada, aku rasa mereka berdua menginginkan pasangan hidup yang membuat mereka nyaman satu sama lainnya. Mereka menginginkan cinta mereka tumbuh, bukan cinta yang menggebu, karena cinta yang tumbuh itu tidak akan pudar, sedangkan cinta yang menggebu hanya bersifat sementara," jawab Dimas.
"Waaaah, ternyata Abang puitis juga!" seru Rahma sambil bertepuk tangan.
"Yowes, kita siap-siap pulang," ucap Dimas.
Sebelum keduanya pulang, perawat yang bertugas kembali mengingatkan jadwal kontrol kesehatan untuk ibu dan bayinya.
"Bang, foto dulu," pinta Rahma.
"Oiya, yuk kite ber-wefie!"