Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 14 Kulkas and no Kulkas



Suatu pagi di kantor, Rahma datang lebih awal seperti biasa. Ia memang menyukai datang 10 menit lebih awal, untuk menikmati ruangan yang masih kosong dan baru dibersihkan.


" Assalamu'alaikum " sapa Dimas yang mengagetkan Rahma.


" Wa'alaikumsalam, eh tumben Bang, datangnya kok pagian?? "


" Mau beresin berkas untuk rapat nanti jam 9, jadi rajin dikit lah "


" Kamu juga datang lebih pagi, ngapain?? "


" Seneng aja, masih sepi, lantainya baru di pel, masih wangi sabun, seger jadinya "


" Eh Ma, kamu sudah mikirin tawaran Pak Bos??"


" Auk ah, aku gelaaaaap!! "


" Ini kan pagi Ma, masih terang, kok gelap?? "


" Tauk!! "


" Hahaha jangan sewot dong, niat mereka kan baik. Bawa santai aja, jangan stress "


" Tapi Bang, Abang gimana?? "


" Aku?? hmmm yaaa why not?? what do you think?? "


" Seriously?? Yakin?? Beneran Bang?? "


" Ya beneran lah, just think about it more "


" I believe love can grow. Untuk saat ini, jujur saja, rasa cinta itu belum ada, but I believe it can grow " lanjut Dimas.


" Bang, aku ga mau mikir dulu. Jujur aja, rasanya seperti di kejar-kejar, ga enak "


" Just take your time, I'll be waiting "


" Saya masuk ruangan dulu yaa " ucap Dimas sambil berjalan menuju ruangan Manajer.


Di saat Dimas dan Rahma sedang berbicara berdua, beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, hal itu menimbulkan tanda tanya besar diantara mereka. Karena, Dimas hampir tidak pernah terlihat berbincang-bincang dengan karyawan wanita jika tidak menyangkut urusan pekerjaan.


Momen tersebut pun tidak hanya sekali, bahkan beberapa kali Dimas terlihat menghampiri Rahma dan mengajaknya berbicara.


Pada saat makan siang, seperti biasa karyawan wanita akan berkumpul untuk menikmati makan siang bersama.


" Eh tadi Bu Dona ke kantor yaa?? "


" Iya, Mbak Dona bawain makan siang buat suami tercintanya yang bucin kuadrat!! "


" Nada bicaranya kok sewot amat Ma ?? "


" Dulu waktu mereka belum nikah, kalau weekend aku kan biasa nginap di rumah Bude. Biasanya aku tidur di kamar Mbak Dona, kita bisa cekikikan sampai tengah malam, ngebahas hal-hal yang ga penting. Sekarang, mbak Dona benar-benar disabotase sama mas Khalis. Mau ngobrol cewek berdua, susaaaah banget, digangguin terus atau diisengin, pas kita ngobrol berdua, datang deh ikut ndengerin aja, tapi ngeliatin mbak Donaaaa muluk!! Itu yaaaa, mbak Dona sampai suka kesal, tapi yaa ga ngaruh, tetap aja bucin "


" Sepertinya seru yaa kalau dengar ceritanya "


" Seru tapi aku kesel, teman curhat and main ku disabotase!! "


" Yaa cari teman curhat dan main sendiri lah, Ma!! "


" Maksudnya?? kan ada kalian "


" Beda Maaa, cari suami !! nikah!! nanti biar bisa saingan sama Pak Bos!! "


" Nah, bener tuh Ma, nikah aja!! eh sudah ada calonnya belum?? "


" Haadeeee kalian juga sama aja " jawab Rahma tak bersemangat.


" Sama apanya?? "


" Nyuruh aku nikah!! Pak Bos sama mbak Dona juga nyuruh aku nikah muluk!! "


" Yaaa baguskan, artinya mereka perhatian sama kamu "


" Yaa tapi ga gitu juga perhatiannya, lagian aku belum siap untuk nikah "


Rahma masih bersikukuh untuk tidak akan menikah dalam waktu dekat, ia mengatakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi hal ini tidak membuat Dimas mundur, ia pun memainkan permainan tarik ulur terhadap Rahma.


Terdapat hari-hari dimana ia kembali ke mode kulkasnya, seperti saat ini. Wajah kaku tanpa senyum kembali ia tampilkan, setelah kemarin seharian ia menyetir kendaraan atasannya ke Solo.


Seharusnya mereka sudah kembali ke Yogyakarta sebelum maghrib, tetapi dikarenakan sebuah badan truk kontainer yang terguling, sehingga menutup akses jalan, membuat kemacetan panjang sehingga kendaraan mereka tertahan lebih dari 3 jam.


Kelelahan itu ia bawa keesokan harinya di kantor. Wajah kaku tanpa ekspresi kembali hadir.


Ia pun terlihat acuh terhadap Rahma, membuat Rahma bingung dengan sikap Dimas.


" Pak Dimas kok kulkas lagi yaa?? "


" Iya, padahal sudah beberapa minggu kelihatan hangat yaaa walaupun masih sedikit kulkas, tapi hari ini kok bener-bener kulkas yaa?? "


" Ma, kamu tahu ga kenapa?? "


" Ga lah, lagian kenapa aku bisa tahu?? "


" Ya siapa tahu kan, dia curhat apa gitu?? "


" Curhat dari Hongkong!! mau curhat apaan?? laa ngobrolnya cuma urusan kerjaan atau tentang Pak Bos aja kok "


" Iya. Yaa mungkin mereka lelah "


" Asal bukan lelah hayati aja "


Notifikasi WA Rahma berbunyi.


" Ma, Mas Khalis sama Dimas kemarin pulang malam, kena macet di jalan. Jadi mereka masih capek, pastinya kulkas mode on. Sabar yaa, kalau tiba-tiba nanti ada yang di 'semprot' "


" Ooo pantes " gumam Rahma dalam hati.


" Sudahlah, ga usah ngebahas mereka lagi "


Rahma pun membuatkan kopi untuk keduanya, lalu ia segera mengantarkannya langsung.


" Pak, ini kopinya, masih panas " ucap Rahma sambil meletakkan kopi di meja kerja Dimas.


" Syukron " ucap Dimas tanpa melihat ke arah Rahma.


Rahma lalu menuju ruangan Khalis.


" Masuk " jawab Khalis setelah mendengar pintu ruangannya di ketuk.


Rahma membawakan kopi panasnya ke meja kerja Khalis.


" Mas, silahkan kopinya "


" Syukron "


" Kok kamu yang buat?? "


" Kerjaan lagi ga banyak, Mas "


" Oiya, mau aku buatin roti panggang atau sandwich ga?? "


" Boleh, yang paling mudah aja "


" Sip, I'll be right back!! "


Rahma pun membuatkan sandwich untuk Khalis, Dimas dan dirinya.


Ia mengantarkan ke ruangan Khalis terlebih dahulu.


" Mas, boleh nanya ga?? "


" Kenapa?? tanya aja "


" Bang Dimas kenapa?? kok dingin banget "


" Palingan dia masih capek karena kemarin. Kalau saya pulang ada yang ngobatin capeknya, kalau dia kan ga ada. Biarin aja, nanti juga back to normal "


" Oiya, kamu buatin sandwich untuk Dimas juga ga?? "


" Iya, nih otw anter ke mejanya "


" Ya sudah sana buruan kasih "


" Siap Pak!! "


Rahma pun berjalan keluar ruangan Khalis menuju meja Dimas.


" Pak, ini sandwichnya. Dimakan dulu "


Dimas meletakkan kertas kerjanya.


" Buat kamu sekalian, mana ?? "


" Ada kok, tuh di meja ku juga ada. Selamat makan!! dihabiskan yaa "


" Syukron Ma " ucap Dimas dengan senyum tipis.


" Afwan "


Rahma pun menuju ke meja kerjanya.


" Waaah, beneran capek tuh orang. Senyumnya terpaksa banget!! Sehat-sehatlah Bang "


Rahma yang mulai terbiasa dengan kehangatan Dimas, merasa ada sesuatu yang hilang dengan sikap dingin Dimas yang kembali ia tampilkan.


Beberapa pekan kemudian,


" Eh Bang, sudah di WA Mas Khalis?? "


" Makan malam di rumah?? " tanya Dimas.


" Iya "


" Sepertinya bukan cuma makan malam deh. Ma, kamu siapin jawabannya nanti malam yaa "


" Eh jawaban apa?? "


" Pokoknya siapin aja jawabannya " jawab Dimas sambil berjalan menuju ruangan Manajer.


Rahma pun bertanya-tanya apakah jawaban yang dimaksud, apakah seperti apa yang ia duga??