Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 46 New Passion



Setelah mencermati nasihat dari Dona, Rahma pun mulai memperbaiki diri. Ia berusaha untuk selalu bahagia dengan mensyukuri semua yang terjadi.


Ia juga banyak mencari tahu cara mengurangi mualnya melalui artikel-artikel tentang kehamilan dari internet.


"De, Abang mau ngobrol serius sebentar, bisa?" tanya Dimas.


"Kenapa, Bang?"


"Gimana kalau Ade resign, ssstt dengerin dulu jangan protes. Abang tahu, kebutuhan kita nanti akan semakin besar dengan adanya bayi, tapi biarkan Abang bertanggungjawab sepenuhnya, toh Allah telah menetapkan rezeki hamba-Nya. Jadi, biarkan Abang yang memenuhi semua kebutuhan keluarga kecil kita. Ade just stay at home, oke?" pinta Dimas sambil menggenggam tangan Rahma.


"Tapi Bang.....,"


"Di rumah, Ade terserah mau ngapain, mau buka usaha seperti mbak Dona atau yang lain juga boleh, tapi tetap di rumah," lanjut Dimas.


"Abang tahu, Ade maunya sampai saat cuti melahirkan, trus resign, tapi kalau kondisi kehamilannya seperti ini, Abang nggak tega membiarkan Ade tetap kerja. Apalagi kita di kantor juga jarang ketemu, mendingan tetap di rumah, di tempat mbak Dona juga nggak papa," tambah Dimas lagi.


Rahma hanya diam, mendengarkan Dimas berbicara. Ia tahu, apa yang disampaikan Dimas ada benarnya, tetapi ia akan merasa sangat bosan jika tidak beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain di saat Dimas bekerja.


"Hmmm, tapi aku kan bosenan kalau nganggur," protes Rahma.


"De, cari kegiatan, hobi apa yang bisa digali lebih, mungkin bisa cari komunitas dengan hobi yang sama, please. It's for your own good," jelas Dimas.


Rahma pun mempertimbangkan saran Dimas dengan berkonsultasi dengan Dona saat akhir pekan.


"Rahma Sayang, Sholihah, kewajiban istri adalah mematuhi suami, jika suami sudah memberikan saran, suka tidak suka, mau tidak mau asal tidak menyebabkan kemudharatan, yaa istri wajib mematuhi. Look, itu adalah cara Dimas untuk memanjakan kamu, memuliakan kamu, so sebagai istri yang baik, yaa kamu wajib kudu musti nurut, cah ayuuu," ucap Dona gemas.


"Trus aku harus ngapain?"


"Dimas bilang apa? pasti dia juga sudah memberikan saran atau pilihan untuk kamu."


"Abang sih bilang cari hobi, yaa gali dari hobi itu, cari komunitas biar eksplore lebih. Tapi, hobiku sih apa ya? aku juga ga tahu !" jawab Rahma.


"Adek yang aneh, hobinya sendiri aja nggak tahu, gimana aku mau bantu?"


Rahma pun terdiam sesaat memikirkan jawaban atas pertanyaan kakak sepupunya itu.


"I think, sewing makes me happy. Aku suka pas lihat hasilnya. Nih mbak, jilbab ini kan aku jahit sendiri, trus gamis yang dongker itu juga aku jahit sendiri," jawab Rahma.


"Nah, then be a taylor, nggak pakai Swift ya," sahut Dona dengan gaya bercanda khasnya.


"Kamu bisa terima orderan jahitan atau kamu bisa jualan online baju yang kamu jahit. Promosi online deh, nanti aku bantuin," tambah Dona.


"Eh bener juga, Mbak. Eeee tapi aku nggak punya mesin jahit, adanya di rumah ibu," ucap Rahma.


"Aku beliin, mesin jahit yang tercanggih, bisa obras, neci dan bordir sekalian, gimana?"


"Serius Mbak? mau modalin aku mesin jahit, yakin?" tanya Rahma yang tidak percaya dengan tawaran Dona.


"Seriuslah, mumpung aku baik hati. Nah, untuk proyek pertama sekaligus bahan promosi nanti, aku minta kamu jahitin gamis buat aku, modelnya seperti ini," ucap Dona sambil menunjukkan foto gamis dengan model A.


Rahma pun segera memperhatikan detail pada foto gamis yang ditunjukkan Dona, lalu ia segera menuangkan idenya pada sebuah kertas. Setelah selesai membuat sketsa, ia pun segera menunjukkannya kepada Dona.


Dona pun tertawa kecil ketika melihat sketsa yang baru saja Rahma selesaikan.


"Kenapa, Mbak? Memangnya ada yang lucu, gambarku aneh yaa?" tanya Rahma.


"Ma, kamu belajar gambar dulu deh. Nih lihat, desain kamu bentuknya nggak proposional. Hmm, gini deh. Nanti aku ajarin gambar desain baju, sementara itu kamu juga cari referensi gambar desain baju yang sesuai dengan gaya kamu," jawab Dona.


Rahma pun memperhatikan gambarnya yang memang diakuinya sendiri tidak proporsional dan ia bertekad untuk dapat meningkatkan kemampuan menggambarnya dalam waktu singkat.


"Barusan aku kirim dasar menggambar sketsa fashion. Kalau kamu mau, ambil kelas online fashion design untuk improve skill kamu. Jadilah penjahit yang melek fashion, karena banyak penjahit yang hanya pintar menjahit, tapi skill desainnya terkadang bikin ngelus dada," saran Dona.


Rahma pun tertawa menanggapi komentar Dona. Rahma sudah hafal benar karakter Dona yang cukup perfeksionis untuk urusan pekerjaan, sehingga jika ia akan terjun di bidang jahit-menjahit, Dona pasti akan menjadi supervisor tanpa ampun untuknya.