Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 51 Cesar



Hari semakin larut, dengan jantung yang berdegup kencang dan rasa yang tidak karuan, bibir Dimas tidak henti mengucapkan istighfar untuk keselamatan Rahma dan calon bayinya.


Beberapa saat sebelum Rahma memasuki kamar operasi, Dimas telah menghubungi ibunya dan ibu Rahma, untuk mengabarkan kondisi Rahma saat itu dan meminta do'a agar diberikan kelancaran dan keselamatan untuk keduanya.


"De, bismillah, in syaaAllah kita akan segera melihat debaynya," bisik Dimas di telinga Rahma yang saat itu sedang dimulai pembedahan untuk mengeluarkan bayi dari rahim Rahma.


Rahma hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun, tetapi air matanya mengalir perlahan. Dimas pun menghapusnya dengan tangannya. Ia terus beristighfar di telinga Rahma, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara bayi menangis.


"Alhamdulillah, selamat Pak, bayinya laki-laki," ucap dokter.


Air mata Dimas pun tak tertahankan lagi. Tetapi Rahma kembali tak sadarkan diri, sehingga dokter menyegerakan menyelesaikan proses operasi cesarnya. Sedangkan Dimas, ia kebingungan antara melihat sang putra yang baru dilahirkan atau tetap menemani Rahma. Dengan air mata berlinang antara sedih dan bahagia, Dimas tetap membelai pipi Rahma tetapi pandangan matanya ke arah bayinya yang sedang dibersihkan dan ditangani dokter anak.


Dokter pun membawa sang bayi ke samping Rahma. Tangisan bayinya pun membuat Rahma tersadar dan menangis haru.


"Pak, silahkan digendong bayinya," ucap dokter anak.


Dengan perlahan, Dimas pun menerima bayinya, air matanya pun terus mengalir sambil memandangi putranya.


Dimas lalu membacakan do'a yang diajarkan oleh Rasulullah, “U'iidzuka bikalimatillahi tammati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli 'ainin lammah”.


"Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk."


Beberapa saat kemudian, Rahma telah dibawa ke ruang observasi sebelum nantinya di pindah ke ruang perawatan. Dimas pun sibuk memberikan kabar kepada orang tuanya dan orang tua Rahma. Tak lupa ia juga memberikan kabar kepada kakak dari ibu Rahma.


"Ada apa, Dim? Rahma nggak papa, kan?" tanya bude.


"Rahma baru saja melahirkan, Bude. Tadi dicesar. Alhamdulillah sekarang sudah di ruang observasi, bayinya juga masih diobservasi," jawab Dimas.


"Alhamdulillah, barakallah!! Laki-laki atau perempuan? Di RS mana?"


"Alhamdulillah laki-laki, Bude. Di RSIA Sandrina, Babarsari," jawab Dimas.


"Nanti bude ke sana sama pakde. Oiya, kamu sudah ngasih tahu Khalis?"


"Belum, Bude. Setelah ini, saya mau nelpon mas Khalis," jawab Dimas.


"Yowes kamu segera hubungi dia aja. Dona pasti sudah nggak sabar pingin lihat bayinya," ucap bude.


"Iya Bude," jawab Dimas.


Setelah selesai menelfon bude, Dimas segera mengirimkan pesan berupa foto putranya kepada Khalis.


Khalis yang baru saja selesai istirahat makan siang, tampak terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh Dimas. Tanpa menunggu lagi, ia pun menghubungi Dimas.


"Sudah lahiran, Dim? Bukannya masih bulan depan?" tanya Khalis.


"Iya Mas, tadi juga operasinya chito," jawab Dimas.


"Chito? Kenapa?"


"Rahma pingsan, Mas. Terus aku bawa ke UGD, ternyata setelah diperiksa, harus chito. Tapi yaa sudah cukup umur sih, berat bayinya juga sudah lumayan," jawab Dimas.


"Beratnya 2,95 kg panjang 49 cm. Namanya masih nanti dulu, Mas. Nunggu kondisi Rahma pulih," jawab Dimas.


"Yowes, selamat yaa. Sekarang tanggung jawabnya bertambah, kamu sekarang sudah menjadi ayah. Perbanyak ibadah, itu akan membawa keshalihan putramu kelak," ucap Khalis.


"Makasih Mas."


Setelah itu, telepon Dimas tidak berhenti dari ucapan selamat dan menanyakan kondisi Rahma, hingga ia pun cukup kelelahan dan tertidur di ruang tunggu.


"Pak Dimas, Pak," seorang perawat membangunkan Dimas.


Dengan berat, ia membuka matanya.


"Iya, Mbak."


"Maaf Pak, saat ini ibu Rahma sudah berada di ruang perawatan..."


"Di ruang berapa, Mbak?" potong Dimas.


"Di kamar 307, Pak," jawab perawat.


"Makasih, Mbak!" ucap Dimas yang bergegas menuju kamar tempat Rahma dirawat.


Dengan hati yang bergemuruh, Dimas berlari menuju Rahma yang terbaring di atas tempat tidur.


Dimas pun menggenggam tangan Rahma dan menciumnya, lalu ia pun berbisik, "De, kamu hebat, anak kita laki-laki. Ganteng banget, seperti aku," canda Dimas yang membuat Rahma terbangun dan membuka matanya.


"Narsis," bisik Rahma.


Dimas pun terkejut dan melepas pelukannya serta membelalakkan matanya.


"Sudah sadar?"


"Masih pengsan," jawab Rahma santai.


"Bang, tolong minumnya, aku haus banget," pinta Rahma.


Dimas pun mengambilkan minum untuk Rahma dan membantunya duduk.


"Aah," rintih Rahma.


"Sakit yaa," ucap Dimas sambil ikut meringis.


"Sedikit," jawab Rahma.


"Bang, debaynya dimana? Kok nggak dibawa kesini?"


"Katanya tadi masih diobservasi, kalau nggak ada masalah akan langsung dianterin kesini," jawab Dimas.