Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 49 Bertahan



Dimas pun mengikuti saran dari Khalis untuk bertahan walaupun hatinya tidak sejalan. Pada bulan pertama, ia cukup kewalahan dengan kinerja Arfan, karena selain sering datang terlambat, ia juga sering melewatkan laporan-laporan bengkel, karena ia lebih fokus pada penjualan. Sedangkan ketika Khalis menjabat, keduanya berjalan beriringan, tidak ada yang lebih diutamakan.


"Pak, besok pagi jadwal kunjungan ke cabang Solo. Kita berangkat dari sini jam berapa, Pak?" tanya Dimas.


"Saya sudah kirim e-mail ke sana, agar mereka mengirimkan laporannya via e-mail saja, jadi besok kita nggak perlu ke Solo," jawab Arfan.


Dimas pun mengernyitkan dahinya, tanda bahwa ia mempertanyakan kinerja manajer barunya ini.


"Saya tahu apa yang kamu pikirkan, kenapa saya tidak langsung ke cabang Solo? Kenapa cara kerja saya sangat berbeda dari Khalis? Saya tahu, karena setiap saya bertemu dengan orang-orang yang pernah bekerja dengan Khalis pasti mempertanyakan cara kerja saya."


Dimas hanya dapat menelan ludahnya, karena ternyata Arfan dapat membaca pikirannya.


"Look, saya dan Khalis masuk ke perusahaan ini di saat yang sama, tetapi kami mendapatkan training yang berbeda. Khalis lebih beruntung ketimbang saya karena otaknya lebih cemerlang ditambah karakternya yang kuat dan mendominasi siapapun, sehingga ia sering dikirim untuk melakukan training di Jepang dan Korea, bahkan ia sempat mendapatkan bonus training ke Jerman dan Inggris. Itulah yang membuat cara kerjanya sangat bersih dan rapi seperti orang-orang Barat, tetapi terkadang cukup merepotkan diri sendiri. Sedangkan saya, tipikal orang Indonesia yang santai, sepanjang tidak menghambat kinerja keseluruhan, yaa buat apa sibuk berlebihan. So, jika bisa dilakukan dengan cara online kenapa harus offline?" jelas Arfan panjang lebar.


Tetapi penjelasan Arfan tidak memuaskan Dimas, sehingga ia pun mendebat dengan halus, "Tetapi Pak, kan kunjungan langsung itu tetap harus dilaksanakan, karena itu adalah bagian dari SOP."


"Itu benar, kunjungan langsung juga tetap harus dilakukan, tetapi tidak harus selalu terjadwal atau diwaktu yang sama," jawab Arfan.


"Pak Khalis juga sering melakukan inspeksi mendadak di luar jadwal kerjanya, tetapi jadwal kunjungan selalu dikerjakannya," ucap Dimas lagi.


"Saya tahu, saya sudah membaca semua laporan yang Khalis kerjakan. Saya juga tahu semua rencananya untuk setiap cabang yang dibawahinya, karena kami telah menduskusikannya sebelum ia pindah. But, I'll do it in my way, my plan. Kamu tenang saja, cukup ikuti cara kerja saya," ucap Arfan yang kemudian menyudahi percakapannya dengan Dimas.


Dimas menyadari benar, bahwa beda orang pasti akan berbeda gaya kepemimpinannya. Manajer sebelum Khalis, mempunyai cara kerja yang juga jauh berbeda dari Khalis maupun Arfan. Walaupun begitu, semua target-target operasional yang dicanangkan, berhasil diselesaikan dengan baik.


Untuk itu, ia sebagai asisten, cukup mengikuti perintah sang manager.


"Dim, tolong kamu periksa semua berkas-berkas operasional bengkel yang baru dikirim dari cabang Solo," perintah Arfan.


"Baik, Pak," jawab Dimas yang bersegera kembali ke mejanya.


Ia pun segera membuka file yang baru dikirimkan. Ia pun melakukan pengecekan mendetail atas setiap item yang tercatat dan membandingkan dengan catatan pekan lalu. Ia juga melakukan pengontrolan via telepon dengan menghubungi kepala bengkel cabang Solo.


"Pak, tolong difotokan semua item sparepart yang harus diganti dan dibeli, juga kendaraan yang sedang diservis saat ini. Saya tunggu."


Berkas laporan demi laporan pun dicocokkannya dengan aktual foto yang dikirimkan. Hal ini pun membuat Dimas bekerja lebih mendetail, untuk menghindari kesalahan ataupun kecurangan yang terjadi.


Tak terasa ia telah berjam-jam di depan komputernya, lehernya pun mulai terasa kaku. Ia pun melakukan peregangan otot-otot di atas kursinya. Lalu ia melihat ke arah jam di tangannya.


"Sudah jam 11.30, sebentar lagi istirahat. Eh Ade lagi ngapain ya?" ucapnya dalam hati.


Ia pun melakukan panggilan video.


"Assalamu'alaikum, lhooo De, kok kamunya nggak kelihatan?"


"Wa'alaikumsalam, aku nggak pakai jilbab, males ngambilnya harus berdiri, aku lagi rebahan mode on," jawab Rahma santai yang membuat Dimas tertawa.


"Hmmm, Abang kambuh," lirih Rahma sambil mengarahkan kamera handphonenya ke arah jari-jari kakinya yang sudah terlihat membulat dari ukuran normal karena kehamilannya yang telah memasuki bulan ke-enam, yang membuat Dimas kembali tertawa.


"Makasih ya De, capeknya Abang langsung hilang nih," ucap Dimas dengan lembut.


"Massammaa," jawab Rahma.


"Oiya, mau makan siang apa? Ade masak apa? atau mager mode on full day?" tanya Dimas.


"Bingo! Pesenin aja Bang, yang seger-seger ya, aku menunggu," jawab Rahma santai yang membuat Dimas menggelengkan kepalanya.


"Hmmm mager mode on plus manja pun bersatu. Baiklah, tunggu kiriman makan siang dari Abang tercinta yang paling ganteng mengalahkan...,"


"Yang mau dikalahkan! Ribet deh narsis!" potong Rahma.


"Baiklah honey bunny, Abang pesenin makanannya sekarang. Tunggu yaa, love you."


"Love you too," jawab Rahma lalu mematikan sambungan videonya.


Dimas pun segera memesan makanan khas negara gajah putih, Thailand untuk Rahma.


30 menit kemudian, Dimas mendapatkan kiriman foto dari Rahma, yang memperlihatkan semangkuk tom yang gong, mango salad, pad thai dan es mangga kekinian.


"The lunchy is ready, happy tummy is on the way. Thank you, Bang. I love you!!" tulis Rahma pada captionnya.


"Love you too, Babe. Enjoy your lunch. Oiya, Abang beli sekalian buat nanti kita dinner bareng, yaa," balas Dimas.


"Iya, Bang. Sudah aku masukin ke kulkas, biar aman. Abang juga jangan lupa makan siangnya," jawab Rahma.


"Otw De. Met lunch, yaa. Love you, see you," balas Dimas.


Rasa lelah itupun hilang seketika, setelah Dimas melihat orang yang dicintainya.


"Memang benar kata orang-orang, punya pasangan itu memang sangat membahagiakan," ucap Dimas dalam hati sambil tersenyum.


Adzan dzuhur pun terdengar, Dimas pun segera mematikan komputernya dan bergerak menuju masjid di dekat kantornya.


Setelah selesai shalat berjama'ah, ia pun berdo'a, "Ya Allah yang Maha Agung, Maha Mengetahui, kuserahkan semua urusanku kepadaMu, Ya Allah. Kutitipkan kekasih hatiku beserta janin yang dikandungnya kepada-Mu, Ya Allah. Jagalah mereka."


Disaat bersamaan, Rahma yang telah selesai shalat dzuhur pun berdo'a, "Ya Allah Yang Maha Kasih, limpahkan cintaMu kepada keluarga kecil kami. Limpahkanlah kasih sayangMu kepada kami berdua. Lindungi Abang dalam setiap langkahnya, jagalah pangeranku dalam setiap geraknya."


Setelah itu, Rahma mulai membuka menu makan siangnya. Tanpa ia sadari, ia menitikkan air mata haru.


"Duh, kok aku nangis? Aaaa kok aku nangis, aaaa aku jadi mewek," tangis Rahma pun pecah.