Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 43 Morning Sickness



Setelah mendapatkan berita bahagia itu, Dimas dan Rahma tidak selantasnya mengumbar berita baik tersebut. Mereka memilih untuk merahasiakannya hingga waktunya nanti yang juga akan terlihat dengan sendirinya, tetapi mereka tetap mengabarkannya kepada keluarga terdekat mereka.


"Alhamdulillah!! Alhamdulillah!!" ucap ibu Rahma berulang kali, setelah Rahma memberitahu berita baik itu.


"Kamu harus jaga kondisi, jangan kecapean. Suplemen dan vitaminnya harus diminum teratur, yaa," lanjut ibu Rahma.


"Iya Bu," jawab Rahma.


Keesokan harinya, berita kehamilan Rahma telah sampai di telinga Dona. Ia pun mengirimkan aneka makanan untuk adik sepupu kesayangannya ini.


"Ma, aku barusan kirim frozen food buat kamu. Stok aman untuk sepekan, lah! segala lauk tinggal di goreng, kukus atau panggang. Kalau sayuran sudah aku rebus setengah matang semua, nanti kamu simpan di kulkas, kuahnya ada sop, kari, lodeh, semua terpisah, masuk ke freezer, kalau mau makan tinggal diangetin aja."


"Jadi berasa kulkasnya restoran nih!! waaa ransumku banyak banget!!!" seru Rahma senang.


"Pokoknya kamu harus jaga kondisi yaa, jangan kecapean, jangan stress, pikirkan yang indah-indah, kalau yang ini artinya kamu harus, memikirkan diriku, kan aku indah, eh aku Dona bukan indah!! well you know yaa, iyalah!!" ingat Dona sekali lagi sebelum mengakhiri percakapannya dengan Rahma.


"Yes, I knooooooww!! Errornya mbak Dona memang ga ada obatnya!!!" sahut Rahma setengah kesal.


Rahma pun mulai mengatur menu makannya sesuai dengan kiriman dari Dona.


"Ini beneran aku ga perlu masak lagi??!! palingan nasi doang!! Waaa serius ini mbak Donce??!!" pekik Rahma girang


Dimas yang baru keluar dari kamarnya pun menghampiri Rahma yang sedang mengatur kulkasnya.


"Lagi beresin kulkas?? eh ini kok banyak banget, dari mana??" tanya Dimas.


"Barusan mbak Dona kirim ini semuanya, buat ransum sepekan!! lihat nih, Bang!! menu lengkap selama sepekan, tinggal diangetin aja. Kenapa ga dari dulu sih, mbak Dona ngirimin beginian. Kan aku bisa sukses magernya!!" seru Rahma.


Dimas pun memberikan pandangan menusuk ke arah istrinya itu.


"Deeee, jangan tiba-tiba menjadi 'aji', yaaa!!??" ucap Dimas mengingatkan.


"Aji?? apakah dengan mumpung?? aji mumpung??" tanya Rahma.


"Cerdas!! Bingo!!" seru Dimas.


"Bang, kenapa jadi eror?? biarlah ke-eroran itu dimiliki oleh mbak Dona and mas Khalis, kita jangan ikutan!!" protes Rahma sambil memandang heran ke arah suaminya.


"Pokoknya I love you," jawab Dimas yang membuat Rahma keheranan.


"Memang bener kali yaa?? kehamilan istri dapat merubah karakter suaminya," sahut Rahma sambil berlalu.


"De, ingat!! jangan kecapean!!" Dimas kembali mengingatkan.


"Iya, Bang. Oiya, Bang ada roti juga dari mbak Dona, mau sarapan roti atau nasi??" tanya Rahma sambil membuatkan teh panas untuk Dimas.


"Roti aja yang praktis. Hari ini, Abang mau servis motor, ada yang mau dititip ga??"


"Titip karburator??!! yaa kaliii, ngapain ke bengkel nanyain mau titip apa??" jawab Rahma sedikit kesal.


"Yaaa kan, pulangnya Abang bisa mampir belanja," jelas Dimas.


"Ga ada sih, ransum sepekan sudah siap. Cemilan juga ada. Hmmmm oh itu!! apa tuh!!" seru Rahma mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Apa?? barang dapur??" tebak Dimas.


"Bukan," jawab Rahma.


"Hmmm kamar mandi??" Dimas mencoba menebak kembali.


"Nah iya, kamar mandi. Tolong beliin cairan pembersih kamar mandi!" pinta Rahma.


"Oke," jawab Dimas singkat.


"De, sarapan sekalian, ayo sini barengan!" ajak Dimas.


"Ntar Bang, aku agak mual, lagian belum laper, tapi tadi pagi setelah subuh, aku sudah minum susu, suplemennya juga sudah," tolak Rahma.


"Sudah tadi, sebelum subuh," jawab Rahma sembari membawakan roti dan teh hangat untuk Dimas.


"Syukron," jawab Dimas sambil tersenyum dan meraih lalu mengecup punggung tangan Rahma.


"Ih centil!!" ucap Rahma tersipu.


Dimas hanya tersenyum sambil menikmati teh hangatnya sambil memandang wajah Rahma yang terlihat tidak semangat.


"Kenapa?? lagi BT... S??" canda Dimas.


"Ih Abang, kenapa siiii?? BTS?? Buku Tahunan Sekolah!! awas ga boleh nyanyi!! aku lagi ga mood denger Abang nyanyi," ucap Rahma sebelum Dimas memulai aksinya.


"Yaaah, ga seru!! ya sudah kita ganti model jadul aja, gimana?? Hmmm BSB, Boyzone, Westlife, Take That?? bener ga tuh??" canda Dimas lagi.


"Ih kok Abang tahu?? mereka kan eksis di jamannya mbak Dona?? tahun 90-an akhir sampai awal 2000 kan?? aku kan baru lahir di tahun-tahun itu," sahut Rahma.


"Tahulah, kan mereka muncul lagi. Tapi tetep ga familiar sama lagunya, orangnya yang mana, perasaan sama semua, bule, cowok, bisa nyanyi dan nari. What else??"


"Ya udah itu doang, Bang," jawab Rahma.


Kemudian Rahma menuju sofa untuk berbaring, tetapi tiba-tiba ia merasakan mual yang teramat sangat, ia pun berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Dimas pun menyusul Rahma ke kamar mandi dan membantun dengan mengelus-elus punggungnya.


Setelah beberapa saat,


"Sudah Bang, aku sudah selesai," ucap lemah Rahma.


"Bener?? sudah ga mual lagi??" tanya Dimas untuk memastikan.


"Iya, Bang," jawab Rahma dengan nada lemah.


Dimas pun membantu Rahma untuk berjalan. Ia lalu membuatkan teh hangat untuk istrinya itu.


Dengan penuh kekhawatiran, Dimas pun membantu Rahma untuk meminumnya.


"Pelan-pelan, De. Bismillah," ucapnya sambil memegangi gelas.


"De, Abang ga jadi pergi," Dimas memutuskan melihat kondisi Rahma.


"Ga papa kok, Bang. Abang pergi aja, daripada motornya ga bisa dipakai," jawab Rahma dengan lemah.


"Ga papa gimana?? kamu lemes seperti ini, kalau tiba-tiba pingsan, gimana??"


"Aku tiduran di sofa aja, Bang. Ga papa kok. Lagian kan biasa dan wajar kalau hamil muda, seperti ini. Sudahlah, Abang selesaikan urusan yang harus diselesaikan," jawab Rahma.


"Ga, Abang nungguin Ade disini," tegas Dimas.


"De, sudah menjadi kewajiban dan tugas suami untuk mendampingi dan menemani istrinya yang sedang mengandung. Ini juga salah satu harapan Abang dulu, jika suatu saat menikah kemudian istri mengandung, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri untuk dapat mendampingi, menemani, menjadi tempat curhat istri itu juga sesuatu yang 'WAW momen' sekali. I enjoy every single moment with you," lanjut Dimas yang membuat Rahma terharu.


"Aku ga tahu kalau Abang seromantis ini," ucap Rahma dengan penuh senyuman.


"Memangnya ini romantis??" tanya Dimas heran.


"Yup, sooo romantic, this is what I like," jawab Rahma sambil memeluk Dimas.


"It's so simple, Bang. Perhatian Abang seperti ini, bikin aku meleleh," tambah Rahma.


"Waduh!! netes-netes dong?!! netesnya kemana nih??!! canda Dimas yang berhasil membuat Rahma tertawa.


Dimas pun memeluk Rahma lebih erat, kemudian ia mencium kedua pipi istrinya itu.


" I'll do anything to make you comfy and happy. I love your laugh and smile, it's my happiness to see and hear that," ucap Dimas penuh kelembutan.