
Jum'at pagi hari di ruang tunggu pengantin Hotel Royal Ambarukmo, Rahma sedang menemani kakak sepupunya, Dona, bersama dengan kedua kakak perempuan Dona.
" Ma, nanti kamu jalan di belakang ku yaa "
" Tepatnya di belakang kita berdua " ucap Hana, kakak perempuan Dona.
" Judulnya pengiring pengantin kah?? "
" Anggap aja begitu "
" Mbak, deg-degan ga?? "
" Ga, biasa aja. Yaaa kaliii Maaa!! aku ga deg-degan, itu pakai ilmu apa??? "
" Yaaa siapa tahu?? kan ini yang kedua, kan sudah pengalaman "
" Ma, bercandanya ga lucu deh. Mau pertama or kedua, kan orangnya beda, tempatnya beda, semuanya beda, yaaa deg-degannya aja yang sama "
" Eh, kamu kapan Ma?? "
" Nah iya, kamu kapan Ma?? " tanya Devi dan Hana kompak.
" Mbak-embak ini melakukan pengalihan isu kah?? "
" Ma, jawab aja sih "
" Kapan yaa?? yaa kalau ada yang ngelamar "
" Kalau ada yang ngelamar besok?? gimana?? " tanya Dona lagi.
" Ga mungkin itu, Mbak "
" Hmmm aku memikirkan seseorang untuk jadi calon... "
" Wooouuu!! tidak secepat itu Lupita!! " potong Rahma.
" Eh siapa Don?? " tanya Hana.
" Nanti Mbak, belum tahu juga. Anyways, tadi katanya kalau ada yang ngelamar "
" Tapi yaa ga secepat itu juga, Mbak "
" Kamu kan sudah 25 lebih kan?? "
" Iya, memangnya kenapa?? "
" Ga papa, nanya aja "
" Ish. Mbak Hana, gimana rasanya punya adik seperti Mbak Dona sih?? "
" Ma, ga usah dirasa-rasain.... rasain tuh " celutuk Dona tanpa menunggu Hana menjawab.
" Beda intonasi, beda yaa artinya, waaa intonasi itu.... apanya nasi hayoooo?? " lanjut Dona lagi.
" Ada yaaa calon pengantin, ribet ngelawak muluk!! " protes Devi.
" Ini adalah jalan ninjaku untuk mengurangi ketegangan ku, kakak "
Devi, Hana dan Rahma hanya menarik nafas dan menggelengkan kepalanya.
" Eh Mbak, aku nanti ga mau jadi pengiring di belakang. Aku mau videoin aja "
" Eh itu dari tadi kamera on, kah?? " tanya Dona.
" Iyes, hehehe aku lanjut bagian liputan spesial pernikahan aja ya Mbak "
" Serah lah, maafin ter nya ketinggalan " jawab Dona yang membuat dirinya kembali mendapatkan serangan lirikan dan pandangan mata dari ketiga saudaranya.
" Iyaaaa, iyaaaa aku tutup mulut deh!! "
" Baiklah aku akan bertugas meliput acara ini, saya permisi!! " pamit Rahma menuju area akad nikah yang bertemakan garden party.
Hari itu, penampilan Rahma tampak berbeda, bukan saja karena make-up flawlessnya, tetapi karena gaun yang ia kenakan.
Gaun berbahan satin berwarna pink yang dipadukan dengan sifon berwarna violet dengan jilbab sifon berwarna senada yang menjuntai hingga lututnya, membuat dirinya tampak anggun.
" Mbak Dona, walaupun error tapi kalau urusan ngedesain emang te-o-pe sangat. Ini baju membuat diriku bagaikan princess " gumam Rahma dalam hati.
Ia berjalan ke arah keluarga, yang tengah berkumpul menunggu prosesi akad di mulai.
Dimas sebagai MC, sedang membacakan susunan acara.
Setelah sambutan dari 2 belah keluarga, tibalah momen yang ditunggu-tunggu, yaitu ijab qabul antara Pak Bos dengan ayah Dona.
Rahma segera kembali ke dalam ruang tunggu pengantin.
Ia dan Dona beserta 2 kakak Dona, menyaksikan ijab qabul dari layar TV yang tersambung dengan kamera di area akad nikah.
Ketegangan 2 pihak keluarga menyaksikan proses ijab qabul tersebut dan tak lama, sahutan 'SAH' memenuhi area akad.
Rahma tak melepaskan kameranya untuk mengabadikan momen bersejarah kakak sepupunya itu.
Ia pun turut berbahagia akan pernikahan tak terduga atasannya dengan kakak sepupunya.
Terdengar Dimas mempersilahkan mempelai wanita untuk memasuki area ijab qabul.
Pintu ruang tunggu pun dibuka, ketiga putri Dona telah bersiap untuk mengiringi ibunda mereka menuju meja akad.
Rahma tak melepaskan kamera dari pandangannya, ia pun sedikit bersaing dengan kamera wedding organizer.
Satu demi satu susunan acara telah selesai dilaksanakan.
" Tante Rahma, kita pulang duluan yaa " ucap Aisha, anak pertama Dona.
" Iya, nanti tante nyusul "
Rahma pun menghampiri kedua mempelai. Tetapi,
" Ma, kamu sudah makan?? " tanya Dimas.
" Belum "
" Eh, kok belum. Ayo, makan dulu, setelah ini kita interview Pak Bos " ajak Dimas.
" Yuk, tapi cepet yaa, keburu pengantinnya pergi tuh "
" Tenang, mereka juga lagi sarapan kok "
Setelah sarapan singkatnya, mereka berdua menghampiri meja pengantin.
Dimas dan Rahma pun melakukan interview singkat kepada pengantin baru.
Hingga di tengah-tengah interview,
" Hmmm eh Dim, kamu sudah nikah belum?? " tanya Dona.
" Belum Bu "
" Usia kamu berapa?? "
" Saya 30 "
" Laa kok belum, nyari yang kayak apa?? "
" Saya sih yang penting shalihah, menutup aurat secara sempurna itu in syaa Allah jelas shalihah "
" Hmmm usia?? "
" Hmmm berapa aja sih Bu, tapi yaa kalau bisa jangan lebih tua, biar bisa dimanjain " jawab Dimas malu-malu.
" Ini kenapa jadi biro jodohnya Dimas??? kan kita yang lagi di interview?? " protes Khalis.
" Sekalian Mas. Eh, Rahma juga jomblo. Umur berapa Ma?? " tanya Dona.
" 25 Mbak"
" Nah tuh, cocok 5 tahun!! "
" Haaa apaan?? " tanya Rahma.
" Kalian berdua, aku comblangin yaa "
" Nooooo, ga Bu. Ntar kalau liburan, rasa kerja terus "
" Tenang Dim, Bos kamu kalau di rumah pasti beda, ntar kubuktikan dulu. Dah daripada ribet kaan, sama Rahma ajah. In syaa Allah shalihah"
" Gimana Ma?? "
" Terserah ajah, aku ga mau mikir. Maunya bikin video " jawab Rahma santai .
" Nah, kalian pikirkan tawaran saya yaa. Cinlok itu beda tipis sama cilok "
6 pasang mata kembali mengarah ke arah Dona.
" Beda di N aja, tulisannya " lanjut Dona santai.
" Wah selamat ya Pak!! saya speechless!! " ucap Rahma.
" Ssstt, pokoknya kalian pikirkan yaa, kan lumayan kalau berjodoh, rumah rasa kantor dan kantor rasa rumah!! "
" Mbak!! ga seru deh!! " protes Rahma.
" Seru-in aja Maaa "