
Rangkaian acara pernikahan Khalis dan Dona selama 2 hari berakhir sudah.
Dimas kembali ke kamar kostnya untuk beristirahat, setelah 2 hari panjang yang melelahkan.
Selain menjadi MC untuk akad dan resepsi, ia juga bertugas sebagai supir dadakan untuk keluarga Khalis.
Pada awalnya ia bersemangat karena dapat beristirahat, karena atasannya itu mengambil cuti 5 hari, tetapi tiba-tiba saja ia membatalkan cuti 5 harinya, yang artinya hari Senin ia akan kembali masuk kerja, seperti biasa.
Bahkan dirinya akan lebih sibuk, karena Khalis meminta 2 kali cuti lebih lama, yaitu 10 hari pada 2 pekan berikutnya, berarti ia harus mengembalikan jadwal kerja Khalis ke semula dan mengatur jadwal cuti yang baru.
" Pak Bos memang paling bisa membuat orang mati kutu!! " gerutu Dimas.
" Alhamdulillah, masih ada jatah 1 hari untuk istirahat. Besok aku mau mager!! " ucap Dimas yang berbaring di atas kasurnya.
Di rumah orang tua Dona masih ramai dengan sanak saudara Dona.
Rahma mendekati Dona yang sedang bersantai di halaman belakang.
" Mbak, gimana?? jadi ke Yordan trus umroh?? "
" In syaa Allah jadi, aku kan ngikut aja, terima beres "
" Oiya Ma, gimana?? mau ga sama Dimas?? "
" Ah ga mau mikir dulu, ntar mikirnya "
" Jangan kelamaan lho "
" Eh Mbak, Pak Dimas lagi S2 ga sih ?? "
" Katanya sih iya, sebentar aku tanya "
Dona pun memanggil suaminya yang sedang bermain bersama anak-anaknya.
" Kenapa?? "
" Dimas lagi S2 kah?? " tanya Dona.
" Iya, baru 9 bulan, masih 1 tahun lagi selesai. Kuliahnya hanya di akhir pekan aja, Jum'at dan Sabtu. Dia dapat beasiswa dari kantor "
" Waaa pinternya " ucap Dona.
" Kenapa nanyain Dimas?? "
" Iya, kenapa Ma?? apakah sudah muncul benih-benih kecambah?? "
" Haadeee Mbaaaak, nanya aja kok "
" Oiya Ma, usul Mbak Dona masalah kamu dan Dimas, jangan kelamaan dijawabnya " ucap Khalis.
" Aaaaaagghh!! aku belum kepikiran nikah, ntar aja ah!! " jawab Rahma sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
" Laaa dia sensi??? "
" Yang, serius mau njodohin Dimas sama Rahma?? "
" Serius lah, why not, sesama asisten "
" Sesama asisten?? " tanya Khalis.
" Iya, Dimas kan asistennya Mas, Rahma asisten ku, yaa kadang-kadang aja sih "
" Help me laaa, yaaa. Ask Dimas about Rahma, would you?? " lanjut Dona.
" Ok, why I get in return?? "
" Ih pamrih!!! "
Khalis pun tertawa.
" Iyaa, ntar Mas tanyain "
" Sudah sore, yuk masuk " ajak Khalis.
Sementara itu di kamar kostnya, Dimas tengah memikirkan tawaran Dona.
" Dim, think about marrying Rahma. Think it rights. Istikharah, jangan lupa. Kita ga maksa, tapi hanya menawarkan. Hopefully kalian berjodoh " pesan singkat dari Pak Bos membuyarkan lamunannya.
" Hmmm, Rahma?? maybe "
Malam itu Dimas ingin beristirahat tanpa memikirkan apa pun.
Tentang Rahma, ia belum terpikirkan apa pun untuk menikah, paling tidak untuk saat ini.
2 hari kemudian, Dimas tengah bersiap menuju tempat kerjanya. Dengan mengendarai motornya, ia berjalan melewati rute seperti biasanya.
Tiba-tiba,
" Buzzzzz..... " suara dari roda depan motor Dimas.
Dimas meminggirkan motornya ke pinggir jalan.
" Astaghfirullah, perfect!! Kok kempes begini?? duh hampir jam 8 !! "
Dengan sedikit panik, Dimas mencari tambal ban terdekat.
Akhirnya setelah berjalan hampir 10 menit, ia menemukan bengkel tambal ban.
" Mas, tolong cek ban depan "
Tukang tambal ban pun memeriksa ban depan motor Dimas.
" Waah bocor nih Pak, nih ada pakunya "
" Tolong cepat ya, Saya sudah terlambat ke kantor "
" Iya Pak "
Tukang tambal ban pun segera menambal ban motor Dimas.
Matahari pagi itu cukup terik, membuat keringat Dimas mengalir membasahi kemejanya.
Tak lama kemudian, ban motornya telah selesai ditambal, ia pun segera melajukan motornya ke kantor.
" Perfect!! telat 5 menit!! " gumam Dimas ketika sampai di parkiran kantornya.
Ia segera berlari menuju ruang kerja atasannya.
"Assalamu'alaikum, maaf Pak saya terlambat"
Dimas berbicara dengan suara terengah-engah.
" Wa'alaikumsalam, kenapa kamu kok ngos-ngosan gitu?? "
" Maaf Pak, sebentar... boleh duduk Pak "
" Duduk aja "
" Tarik nafas dulu, nih minum " Khalis menyodorkan botol air mineral yang selalu tersedia di mejanya.
" Makasih Pak "
Setelah mengatur nafasnya,
" Maaf Pak, ban motor saya bocor, jadi tambal ban dulu. Tadi di jalan kayaknya ngelindas paku"
" Ooo, yaa musibah. Tapi kamu ga papa kan "
" Alhamdulillah, cuma ban aja yang bocor "
" Oiya Pak, jadwal rapat dan lain-lain yang tadinya diundur sudah saya majukan lagi "
" Baik, lanjut laporan "
" Baik Pak "
Dimas pun melaporkan semua kegiatan pemasaran dan perawatan kendaraan.
" Ok, lanjutkan pekerjaan kamu "
" Baik Pak "
" Dim, gimana?? Kira-kira kapan kamu membuat keputusan ?? "
Dimas telah menduga, atasannya pasti menanyakan tentang Rahma.
" Maaf Pak, saya belum bisa membuat keputusan. Lagi pula, saya baru masuk kuliah S2, belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini. Yaaa mungkin setelah lulus S2 ini, sekitar 1 tahunan lagi "
" Kelamaan itu Dim!! betah banget kamu menjomblo?? "
" Bukan begitu Pak, saya kan tahu diri. Bekal saya belum cukup, baik secara materi maupun mental "
" Seusia kamu, saya sudah punya Rafif. Kamu malah masih mikir "
" Nantilah Pak, kalau kuliah saya sudah agak senggang. Ini kan baru masuk semester 2 "
" Let me know if you're ready "
" Baik Pak "