Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 31 Mulai Mengenal Lebih Jauh



Sepulang kantor, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Dimas dan Rahma akan pulang bersama dengan Khalis untuk menemui Pakde dan Bude dari Rahma.


" Assalamu'alaikum " salam ketiganya.


" Wa'alaikumsalam " jawab Dona.


" Nah, Rahma sudah ga bisa seenaknya naik turun nih, ntar diprotesin " goda Dona.


" Ayo masuk, masuk, jangan ngumpul di depan pintu " tegur ibu Dona.


" Inggih Bude " jawab Rahma yang segera memberikan salam kepada budenya.


" Alhamdulillah, barakallah fiikum. Ayo Dimas, masuk "


" Inggih Bude "


Rahma dan Dimas pun masuk menuju ruang keluarga.


" Ma, kalau kamu mau istirahat, ajak Dimas ke kamar yang biasanya aja "


" Ga Bude, saya disini saja " tolak Dimas halus.


" Kalau mau disini yaa sendirian, Khalis biasanya sebentar aja di ruang makan, trus ngamar sampai maghrib, Pakde juga "


" Yowes terserah nyamannya dimana. Bude masuk dulu yaa " ucap ibu Dona sebelum masuk ke dalam kamarnya.


" Yuk, yang mau cemal-cemil, silahkan " ucap Dona dari ruang makan.


" Bikin apa Mbak?? " tanya Rahma.


" Pisang goreng sama martabak mini aja kok "


" Sok lah, di dozo " lanjut Dona.


" Hah??!! apaan?? " tanya Rahma.


" Silahkan, Neng "


" Serius nanya, emang beneran itu bahasa Jepangnya?? "


" Dozo artinya silahkan, memang benar itu bahasa Jepangnya, tapi versi Sleman agak beda dikit " jawab Khalis datar.


" Ooo ada yaa, versi Sleman, baru tahu " ucap Rahma.


" Ada, daerah istimewa Sleman khusus Dona " jawab Khalis tetap dengan ekspresi datar.


" Ih bisaan yaa, ngelawak tapi mukanya lempeng bener "


Sementara itu, Dimas sedari tadi hanya diam menyaksikan keluarga barunya berinteraksi.


" Dim, diam aja dari tadi, sariawan?? " tanya Dona.


" Cari aman, Mbak. Bukan sariawan "


" Waaah, sudah semakin pinter nih!! "


" Yang, kok sepi?? bocah pada kemana?? " tanya Khalis yang tidak mendengar suara anak-anaknya.


" Tidur sore setelah pulang sekolah. Al baru selesai mandi, tuh di stroller lagi anteng aja "


" Eh ga kelihatan, diem aja sih. Al, tunggu bentar yaa, Ayah ganti baju dulu " ucap Khalis yang segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Dona pun mengikutinya berjalan menuju kamarnya.


" Sekalian mandi aja, biar ga bolak-balik "


Dona lalu mengambilkan handuk dan pakaian ganti untuk suaminya, sebelum ia kembali ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga, Dimas duduk diam sendiri, sedangkan Rahma sedang berada di dapur membuat teh panas untuk Dimas.


" Ma, ajak Dimas istirahat di kamar aja, kasian capek dia tuh "


" Iya, Mbak. Aku buatin teh dulu, trus ntar naik. Pinjam kamarnya yaa "


" Hayaah dari dulu juga pakai kamar itu ga pakai ngomong pinjam "


" Hihihi kan sekarang beda Mbak "


" Oiya, sekalian bawa cemilannya juga "


" Iya Mbak, makasih "


Setelah selesai membuatkan minuman untuk Dimas, Rahma mengajak Dimas beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai atas.


" Ini kamar siapa?? gede banget " tanya Dimas.


" Ini dulu kamarnya Mbak Dona, luas kamarnya sama dengan kamar bude di bawah. Mbak Dona dapat kamar terbesar diantara saudara lainnya, ga tahu kenapa. Tapi pas kasus cerainya mbak Dona, yaa saudaranya mbak Dona bilang, memang sudah digariskan Dona dapat kamar terbesar, karena dia yang bakalan lama nemenin bapak-ibu di sini " jelas Rahma.


" Ini Bang, diminum dulu tehnya, sama ini cemilannya "


" Cemilannya juga diminum?? "


" Martabak cafe?? " tanya Dimas tidak mengerti.


" Starbuck " jawab Rahma datar sambil menyantap martabaknya.


" Harus ketawa atau ga nih?? " goda Dimas.


" Terserah mau ketawa boleh, ga juga ga papa "


" Cium aja deh " ucap Dimas sambil mengecup pipi Rahma, yang membuat Rahma mendelikkan matanya.


" Kenapa?? " tanya Dimas.


" Ga papa, jangan cuma satu, nanti satunya ngiri "


" Oiya tadi baru nganan yaa, ngiri belum " ucap Dimas sambil mencium pipi kiri Rahma.


" Nah gitu donh. Makanlah Bang, mumpung anget " ucap Rahma sambil tersenyum.


" Iya "


Sambil menikmati cemilan sore, keduanya pun melanjutkan percakapan mereka.


" Eh, kenapa mbak Dona pindah kamar?? " tanya Dimas.


" Pakde bilang untuk privasi, kalau satu rumah kan kurang privasinya. Jadi dibuatlah kamar tambahan di belakang. Yaa kamar eksklusif, ada terasnya sendiri, kek kamar kos eksklusif gitu " jelas Rahma.


" Pakde dulu kerjanya apa?? rumah ini kan tanahnya luas banget, jauh lebih besar dari rumah orang tua mas Khalis di Jakarta "


" Pakde itu mantan direktur keuangan dan operasional perusahaan kontraktor BUMN gitu deh "


" Pantesan tajir "


" Ho oh "


" Oiya penasaran, ibu ga nikah lagi?? " tanya Dimas.


" Hmmm ada sih yang ngelamar ibu, tapi yaa ibu tolak, ntah alasannya apa "


" Usia ibu memangnya berapa?? "


" 52"


" Serius sudah lebih dari 50 ?? kok kelihatan lebih muda?? "


" Abang merhatiin ga?? mbak Dona, bude, ibu semuanya tuh penampilannya jauh lebih muda dari usianya, kayaknya sih genetik. Bude itu usianya 71 tahun, pakde juga sama "


" Seriuss???!!! eh bedanya jauh banget dari ibu, 19 tahun?? "


" Orang jaman dulu Bang, anaknya banyak, bude anak ke-3, ibu anak ke-10 dari 11 bersaudara, makanya bude ga tahu kecilnya ibu, soalnya pas ibu lahir, bude sudah ga serumah sama mbah, bude sudah kerja di rumah sakit, bude itu mantan bidan "


" 11 bersaudara???!!! "


" Iya, ntar kalau lebaran seru deh, banyak keponakan atau anggota baru yang kita bingung ini anaknya siapa, urutannya gimana, saking banyaknya "


" Memangnya kalau kumpul semua, ada berapa orang?? "


" Semua?? hmmm 120an kalau ga salah. Eh aku aja sudah punya cucu!! kakaknya ibu yang pertama itu sudah punya cicit, cucunya sudah nikah dan punya anak, cucunya ini umurnya lebih tua dari aku, tapi tetep eyang deh jadinya kalau anaknya manggil aku "


" Keponakan sama tantenya, lebih tua keponakan?? Aduh pusing urutan keluarga ini, gimana ngafalinnya?? " tanya Dimas.


" Tanya aja sama mas Khalis, kemarin dia kan bingung banget. Pokoknya urutan ajaib deh "


" Kalau Abang?? " tanya Rahma.


" Hmmm ibu anak terakhir dari 6 bersaudara. Ibu lahir dan besar di Klaten. Kalau bapak anak pertama dari 3 bersaudara, lahir dan besar di Jakarta "


" Trus ketemunya gimana tuh?? " tanya Rahma.


" Ibu itu adik dari teman kerja bapak, yaa dikenalin alias dijodohkan, ternyata cocok akhirnya nikah. Usia bapak dan ibu terpaut lumayan jauh, bapak 7 tahun lebih tua dari ibu "


" Eh Bang, kalau mudik ke Klaten dong?? "


" Iya, nanti setelah acara di secret garden, kita ke Klaten yuk, ke rumah simbah "


" Mbah masih ada?? " tanya Rahma.


" Alhamdulillah, mbah Putri masih ada, mbah Kakung yang sudah lama meninggal, mungkin sudah 10 tahunan lebih "


" Hmmm pantesan Abang juga ga masalah acaranya di sini, ternyata orang Klaten. Keluarga besarnya rata-rata tinggal dimana Bang?? "


" Kalau saudara bapak di Jakarta semua, tapi kalau ibu, tersebar di Jogja dan Jakarta "


Tak terasa hari menjelang Maghrib.


" Bang, mandi duluan, sudah mau maghrib " ucap Rahma sambil mengambilkan pakaian ganti untuk Dimas.


" Alhamdulillah bawa baju lebih dari Jakarta, jadi ga bingung baju gantinya " ucap Dimas sambil bersiap untuk ke masjid.