Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 13



Keputusan Dimas untuk memikirkan tentang pernikahan disaat dirinya telah menyelesaikan studinya, membuat Khalis dan Dona tidak bertindak lebih lanjut.


Suasana di kantor berangsur-angsur meleleh, setelah Pak Bos mereka menikah. Wajah kakunya nyaris tak terlihat lagi.


Berbeda dengan Sang Asisten yang tetap tampak kaku. Hal itulah yang menjadi topik pembicaraan makan siang para karyawati.


" Sekarang siapa nih, calon pelunak hati Sang Asisten?? " tanya Bu Ayu.


" Saya ga berani Bu " jawab Cintya.


" Eh Ma, kamu sebagai adik ipar sepupu Pak Bos, mendengar ada sesuatu ga?? "


" Sesuatu apa?? "


" Yaaa tentang Pak Dimas?? "


" Ga, maaf aku ga tertarik ngomongin another manusia kulkas " jawab Rahma tak bersemangat.


" Yee Rahma, info apa gitu?? "


" Ga ada "


" Ih sekarang dia yang kulkas "


" Kesel aku tuuuu!!! " jawab Rahma.


" Kenapa?? "


" Haadeeee Mr. Melted ini sudah kebablasan!! "


" Maksudnya?? "


" Ini seperti punya 2 kepribadian, di kantor super serius, mukanya rata, no ekspresi, tapi kalau libur??!!! tidak ada yang selamat dari keisengannya!! "


Tiba-tiba HP Rahma berbunyi.


" Mateng!! " ucap Rahma sambil menutup wajahnya.


Rekan kerja Rahma saling berpandangan, tidak mengerti akan maksud ucapan Rahma.


" Ya Pak "


" Kamu kira saya ga tahu kalau kamu ngomongin saya?? Kenapa sih?? sampai hampir tiap hari kalian ngomongin saya?? kan saya jadi GR "


" Paaaaaakk!!! ga!! Maaaass!! aku bilang ke Mbak Dona yaa!!! ga usah iseng!!! nelpon ga penting !!! "


Rahma menutup teleponnya dengan kesal, sedangkan sang kakak ipar tertawa bahagia karena telah berhasil membuat adik sepupu nya kesal.


" Pak Bos?? kenapa??? kok kamu marah?? "


" Don't ask!! ih manusia satu itu memang menyebalkan!! "


" Aku sudah selesai. Balik duluan yaa "


Rahma meninggalkan teman-temannya yang masih bertanya-tanya, ada apa dengan Rahma.


Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan pun dilewati.


Dimas telah sampai di akhir masa kuliahnya. Ia pun berencana mengambil studi kasus dari tempatnya bekerja.


" Pak, saya ambil studi kasus masalah di bengkel ya "


" Silahkan. Jadi kamu sudah mau tesis?? "


" Iya, Pak "


" Semoga cepat selesai dan mendapatkan nilai yang terbaik "


" Aaamiin "


" Oiya, belum lupa sama Rahma kan?? "


" Alhamdulillah saya belum pikun, Pak "


" Good, jadi gimana?? "


" Setelah saya menyelesaikan tesis, in syaa Allah saya akan segera memberikan jawaban "


" Dim, kalau menurut saya, malah sebelum tesis lebih enak. Kapan mulai tesisnya?? "


" Semester depan Pak, bulan Januari "


" Berarti dua bulan lagi. Dim, akhir tahun ini gimana?? "


" Waduh Pak!! "


" Yaa coba kamu pikirkan lagi, istikharah "


" In syaa Allah, tapi saya masih.... "


" Kamu ga usah galau, santai aja. Minta jawabannya sama Allah, nanti juga ketemu "


" Hmmm Pak, boleh tanya?? "


" Tanya aja "


" Pak, apa yang bikin Pak Bos yakin waktu mau ngelamar Bu Dona?? "


" Hmmm momen apa yang membuat Pak Bos berkata ' this is it ' " lanjut Dimas lagi.


" Kamu seperti Farah Quinn aja, ' this is it!! ' "


" Yeee, ini serius saya nanyanya Pak!! "


" Hmmm apa yaa?? is kind of love at first sight "


" Hah?? serius Pak?? "


" Iya, serius. Dari awal Dona presentasi katering, setelah itu yaa coba lihat statusnya, ternyata janda yaa, why not "


" Sesimpel itu Pak?? "


" I think yaa. Saya ga suka yang ribet untuk urusan hati, kalau suka bilang suka, cinta yaa langsung lamar "


" Jadi pada awalnya saya tidak berekspektasi apa pun, tetapi setelah Rafif mulai mendorong saya untuk melamar Dona, yaa bagi saya itu sudah jawaban yang jelas arahnya akan kemana "


" Look, I'm gonna be a nice cousin.... "


" Paaaak??!!! bukan itu!! "


Khalis pun tertawa.


" Ya sudah, kamu pikirkan kembali tawaran saya dan Dona, walaupun Rahma juga belum memberikan jawaban yang pasti, tetapi wanita itu untuk dicintai dan pria adalah yang mencintai. So its about how do you treat a woman "


Dimas mulai mendapatkan sedikit titik terang akan hatinya, tinggal memastikan sedikit dari hatinya lagi.


" Saya tunggu keputusanmu "


" Baik Pak in syaa Allah "


Beberapa pekan kemudian,


" Dim, besok pagi saya mau ke pantai Indrayanti.. "


" Eh kebetulan Pak, saya juga berencana kesana sama teman-teman kuliah "


" Yowes, kita ketemu disana. Eh pura-pura kaget yaa kalau ketemu, kan ga janjian "


" Paaaak??? saya harus memberikan ekspresi terkejut??? begitukah?? "


" Cerdas!! kita ketemu besok pagi yaa "


Dimas benar-benar tak habis pikir dengan kepribadian atasannya yang semakin hari semakin aneh, terlebih setelah istrinya mengandung.


Keesokan paginya, Dimas bersama teman-teman kuliah S1nya pergi menuju pantai Indrayanti.


Setelah memarkirkan motornya, ia dengan teman-temannya berjalan menuju bibir pantai.


" Alhamdulillah akhirnya!!! " teriak Dimas dengan kedua tangan keatas.


" Dim, kapan terakhir kita ke pantai?? "


" Kapan yaa?? sudah 3 bulan?? atau lebih?? "


" Kayaknya sekitaran itu sih "


" Piye tesis mu?? "


" On the making "


" Yowes, on progress!! "


" Podo wae!! "


" Wis lah, jangan ngomongin kuliah, aku lagi pingin refresing, kerja nyambi kuliah itu bikin kepala mau pecah!! "


" Eh aku jalan-jalan dulu yaa " lanjut Dimas.


" Arep neng ndi?? "


" Mlaku-mlaku wae kok "


Dimas berjalan menyusuri bibir pantai, ombak pun membasahi kakinya.


Tiba-tiba, seorang wanita melambai-lambaikan tangannya.


"'Paaak!!! " panggilnya.


Dimas berjalan menghampirinya.


" Ngapain?? sendiri?? kayaknya ga mungkin "


" Haadee Paaaak, nanya belum dijawab sudah nanya lagi, eh dijawab sendiri lagi. Ga mungkin sendiri lah. Tuh Pak Bos dan istri bersama keempat anaknya " jawab Rahma.


" Eh mana?? kok aku ga lihat?? "


" Tuh ke arah sana, jalan berduaan, pacaran mode on. Dan aku sudah menduga kenapa aku diajak "


" Hahaha buat ngejagain bocah yaa!!?? "


" Eeeiiiimmm, temenin dong Pak. Sendirian kan?? nganggur kan?? "


" Sok tahu, ga tuh aku bareng teman kuliah dulu. Mereka di sana lagi pada duduk-duduk juga. Yowes aku temenin "


" Eh, bawa apa aja?! " tanya Dimas.


" Bawa diri, ama tikar aja nih. Mas Khalis bilang ntar jajan aja. Ini minuman bocah. "


" Ooo, aku beli makanan sama minuman dulu deh, tunggu yaa. "


" Oke. "


" Ih tumben Pak Dimas ramah, " batin Rahma.


Tak lama kemudian Dimas kembali membawa aneka gorengan dan rebusan serta minuman.


" Nih, mumpung hangat. "


" Makasih, Pak. "


" Eh kita ga di kantor, jangan panggil 'Pak' dong!! "


" Trus?? ga mungkin aku manggil langsung nama juga kan?? "


" Kenapa ga?? "


" Ga enak lah, situ kan lebih tua, atasan di kantor juga. "


" Hmm yowes, terserah deh mau panggil apa. "


" Hmm asli mana?? kayaknya bukan orang Jogja. "


" Memang bukan, aku impor. "


" Idih impor!! dari mana?? "


" Sama kayak Pak Bos, Jakarta. Tapi aku dari kuliah sudah di Jogja, jadi yaa logatnya sudah mengikuti "


" Hooo, Abang dong!! "


" Ya begitulah. "


" Ok deh, ku panggil Abang aja ya. "


" Ok deal. "


Khalis dan Dona menghampiri keduanya.


" Eh, Dimas. Disini juga?? " tanya Khalis.


" Iya Pak, sama teman-teman kuliah dulu. "


" Oiya, Pak, Bu, silahkan ini ada cemilan seadanya, dari warung " ucap Dimas sambil menunjuk ke arah warung tempat dimana ia membelinya.


" Syukron "


" Afwan "


" Jadi gimana perkembangan hubungan kalian?? " tanya Khalis.


Dimas dan Rahma pun berpandangan,


" Maksudnya?? "


" Lho kok maksudnya?? kapan lamaran?? sudah berapa lama semenjak kita ngejodohin kalian?? kayaknya sudah lama deh " jawab Dona.


Dimas pun menjawab dengan santai,


" Ooo, sampai ' nanya panggilannya apa ' "


Rahma pun membelalakan matanya.


" Eh ga gitu!! kok?? eh ini gimana sih?? "


" Ma, ikutin aja, biar cepet selesai interogasinya " bisik Dimas.


" Hmmm ngapain bisik-bisik niii "


" Kalau boleh rikues, diriku lagi ndut-ndutnya nih. Kalau mau nikah, ntar yaa tunggu melahirkan, paling ga 3 bulan sesudah aku melahirkan, yaaa 5-6 bulan dari sekarang "


" Yang!! kelamaan itu, kasian mereka nunggunya. Waktu kita aja, cuma 2 pekan langsung jadi "


" Emangnya Mas mau, aku yang membengkak bagaikan bola ini, ikutan foto pas akad dan resepsinya?? ntar jelek banget Mas!! "


" Ya ga masalah, wajar namanya wanita hamil badannya besar. Tapi Sayang ga jelek... "


" Pokoknya nanti tunggu setelah aku melahirkan!!"


Rahma dan Dimas menyaksikan pertengkaran pasangan aneh ini dengan wajah penuh tanda tanya.


" Kenapa mereka yang berantem?? " ucap Rahma.


" Pertanyaan tuh, trus emangnya kita mau nikah ?? " tanya Dimas.


" Nah!! jadi sebetulnya gimana sih?? kita mau nikah?? kapan?? kok aku ga tahu?? " tanya Rahma juga.


" Aku juga ga tahu kalau kita mau nikah. Terus mereka berantem karena apa dong?? " tanya Dimas lagi.


Khalis dan Dona akhirnya menyadari pertengkaran unfaedah mereka.


" Ok!! Dimas kamu tentukan tanggal pernikahan kalian, cowok tuh yang tegas!! harus berani mengambil keputusan!! "


" Maaf Pak, memangnya siapa yang mau nikah?? " tanya Dimas.


" Yaa kalian berdua!! kan waktu itu sudah dibahas "


" Lah yang ngebahas kan Pak Bos sama Bu Dona, kita ga ikutan, cuma ndengerin aja. " jawab Dimas.


Khalis kemudian mengajak Dimas berbicara 4 mata.


" Kamu aktingnya jangan keterlaluan dong!! "


" Bukan gitu Pak, saya kan menjiwai peran aja. "


" Pokoknya kamu tentukan sikap kamu ke Rahma, ingat 'laki'!! "


" Iya Pak, saya ga ada niat untuk jadi perempuan kok. "


" Dim, kalau ada kayu, sekarang saya pukulin kamu juga nih!! "


" Hahaha maaf Pak, bercanda aja kok. "


Khalis berjalan kembali ke tempat Rahma dan Dona yang diikuti oleh Dimas.


" Jadi gimana keputusan kamu?? "


" In syaa Allah kami berdua istikharah dulu, nanti secepatnya kami akan membuat keputusan. "