Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 33 Jalan Jajan



Rahma menyadari jika dirinya menjadi bahan pembicaraan rekan-rekannya di kantor. Membuat dirinya semakin menarik diri dari rekan kerjanya.Walaupun tidak sedikit yang membelanya, tetapi omongan miring tentangnya dan Dimas semakin hari kian memanas, hingga akhirnya sampai ke telinga Khalis.


" Dim, masuk ke ruangan saya "


" Baik Pak "


Dimas pun segera menuju ke ruangan Khalis.


" Duduk "


" Ada apa Pak?? " tanya Dimas.


" Ga usah panggil Pak, saya mau membahas masalah pribadi "


" Ada apa, Mas?? " tanyanya lagi.


" Kamu dengar tidak, pembicaraan karyawati disini, tentang kamu dan Rahma?? "


" Pembicaraan apa ya Mas?? "


" Yaa, gossip. Mereka ngomongin hubungan kamu sama Rahma, yang tiba-tiba menikah "


" Oh itu, saya sudah dengar, bagian servis juga sudah menanyakan "


" Yaaa kalau bertanya langsung itu benar, tapi ini lho, mereka ngomongin negatif tentang Rahma "


" Dikira DP ya Mas?? "


" Salah satunya "


" Salah duanya?? "


" Hubungan keluarga diantara kita bertiga "


" Waaaa, ada orang ketiga!! " canda Dimas.


" Ingin ku berkata kasar !!! " ucap Khalis kesal akan respon Dimas yang terlihat sangat santai.


" Mas, santai aja lah. Rahma sudah tahu kalau dia jadi bahan omongan, makanya tiap hari curhat ke mbak Upi "


" Tumben ga ke Dona?? " tanya Khalis.


Dengan tawa kecilnya, Dimas menjawab,


" Sudah beberapa kali, tapi seperti biasa, mbak Dona kan orangnya santai. Jadi nasihatnya selalu seperti ini, ga usah didengerin, pura-pura ga tahu, yaa semacam itulah "


" Hmmm Rahma ga puas sama nasihat Dona ya?? "


" Iya Mas, jadi yaa ke mbak Upi atau mbak Bila "


" Terus apa kata mereka?? "


" Sebetulnya intinya sih sama, tapi karena pakai intro yang lebih mudah diterima, jadi lebih nyaman untuk Rahma "


" Hmmm, Dona terlalu to the point sih!! perempuan yang ga ngerti basa-basi "


" Sama seperti Mas juga kan?? kalau bicara selalu to the point "


" Eh kenapa jadi ngebahas saya?? back to gossip, trus reaksi kamu mau bagaimana?? "


" Biarin ajalah Mas, kalau pada bilang DP, lihat aja kapan melahirkan, laaa hamil juga belum. Nanti kalau ada DP bisa-bisa ada angsurannya, kan repot " canda Dimas.


Khalis pun menarik nafasnya sebelum berkomentar.


" Yaa sudah, seperti kamu baik-baik aja. Kamu cek Rahma, jangan sampai dia stres lagi "


" Iya Mas, terimakasih. Oiya, kalau ada masalah seperti ini, reaksi mbak Dona kira-kira gimana yaa Mas ?? "


" Dona ga baperan, dia tuh cuek, ga peduli, malah kadang dia tambahin, ikutan duduk bareng disitu ngomongin dirinya sendiri "


Dimas pun tertawa mendengar jawaban Khalis.


" Eh beneran, saya aja suka bingung sama Dona. Yoweslah, kamu pasti sudah tahu harus berbuat apa. Jangan cuek, Rahma harus dihibur, agar pada saat hari H nanti kondisinya prima "


" Iya Mas, terimakasih "


Sepulang kerja, Dimas tidak langsung mengajak Rahma pulang, tetapi ia membawa Rahma untuk berkeliling menikmati udara sore hari.


Sesaat sebelum pulang, ketika masih di parkiran motor kantornya, Dimas sudah menyalakan mesin motornya dan tengah menunggu Rahma keluar.


Setelah dilihatnya, ia pun menghampiri Rahma.


" Yuk, kita jalan-jalan sore " ucap Dimas sambil memasangkan helm untuk Rahma.


" Mau kemana Bang?? "


" Hmmm ke sekitar UGM yuk, kan kalau sore seperti ini banyak jajanan, warung-warung tenda juga sudah mulai buka, jadi ga usah masak "


" Lets go Bang!!! tancaaap!!! " jawab Rahma yang tiba-tiba penuh semangat.


" Pegangan yang kenceng "


" Siaaap " jawab Rahma sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.


Keduanya pun mendapat sorakan ketika Dimas melewati rekan-rekan kerjanya yang juga bersiap pulang.


Dimas pun melambaikan tangannya dan segera melaju menuju daerah sekitar UGM.


" Mau beli apa?? "


" Hmmm, aku mau burger aja Bang " tunjuk Rahma pada sebuah booth burger di pinggir jalan.


" Burger Monalisa yaa, siaaap " ucap Dimas sambil memikirkan motornya.


" Pilih De, apa aja terserah "


" Beneran?? apa aja?? "


" Iya, sekalian buat dibawa pulang "


Dengan mata berbinar, Rahma segera menuju ke tempat pemesanan.


Ia pun memesan 2 cheese burger, 2 sandwich, 2 pizza, 2 spaghetti dan 2 french fries.


Dimas hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat Rahma memesan banyak makanan dengan semangat.


" Bang, minumnya air mineral biasa aja yaa, aku lagi pingin milkshake tapi disini kan ga ada "


" Nanti kita beli susu sarjana aja, kan ada di dekat sini " ucap Dimas.


" Alhamdulillah, ku serahkan kepada penguasa daerah UGM yang tahu tempat-tempat jajanan dan minuman kekinian "


Dimas pun tertawa lalu ia pun mencubit pipi Rahma yang membuatnya merona.


" Abang apa siiih, malu!! " protes Rahma setengah berbisik.


" Gemes sih " jawab Dimas dengan senyum merekah.


Tanpa mereka berdua sadari, beberapa pengunjung dari kalangan pelajar dan mahasiswa tersenyum memperhatikan mereka berdua.


" Pacarannya lucu " salah satu komentarnya yang didengar Dimas dan Rahma membuat Dimas tak tinggal diam untuk meluruskannya.


" Maaf Mbak, ini istri saya, kalau pacaran kan ga boleh, dosa " ucap Dimas sambil mengajak Rahma berpindah tempat.


" Bang, bawa pulang semua aja deh, kita makan di rumah, biar puas belepotan ga pake malu "


" Siap Nyah!! "


Setelah pesanan mereka selesai semua, Dimas melajukan motornya menuju stand Susu Sarjana, yang menjual aneka minuman berbahan dasar susu.


" Mau minuman yang mana?? " tanya Dimas.


" Hmmm aku mau yang rasa mangga " jawab Rahma.


Dimas kemudian memesan 1 rasa mangga, 1 rasa kopi dan 1 rasa oreo.


" Kok pesannya 3 Bang?? "


" Yang 1 buat berdua " jawab Dimas sambil mengedipkan satu matanya.


" Ih centil!!! "


" Kan biar romantis " jawab Dimas.


" De, sambil nunggu kita makan dulu yuk, Abang laper "


" Yuk Bang, aku juga laper. Abang mau yang mana?? aku mau sandwichnya dulu "


" Sama deh "


Keduanya menikmati cemilan sore hari berdua dengan lahap dan penuh canda.


Hingga menjelang maghrib tiba, keduanya memutuskan untuk shalat berjamaah di masjid UGM.


Selesai shalat, Dimas segera melajukan motornya untuk pulang menuju apartemen.


Rahma yang mulai mengantuk pun tertidur dengan kepala yang bersandar di bahu Dimas.


" De?? kamu tidur?? " tanya Dimas.


Rahma yang masih mendengar tetapi sudah tidak kuat untuk menjawab karena kantuknya hanya mengucapkankan suara 'hmm' dan kemudian tertidur.


Dimas pun tersenyum, lalu dengan tangan kirinya ia menggenggam erat tangan Rahma yang melingkar di pinggangnya.


Sesampainya di apartemen,


" De, Abang mandi sekalian siap-siap untuk shalat isya yaa, sebentar lagi sudah masuk waktu isya "


" Iya Bang " jawab Rahma sambil menahan kantuknya dan merebahkan dirinya di atas sofa.


Dimas melihat Rahma yang sudah mulai tertidur pun tersenyum, ia pun mengecup keningnya sebelum ia membersihkan dirinya.


Setelah selesai, Dimas membangunkan Rahma.


" De, Abang ke Masjid yaa, sudah adzan isya. Mandi dulu yaa, sudah malam " ucap Dimas sambil mengecup keningnya.


Masih dengan mata yang mengantuk, Rahma menjawab.


" Iya Bang, aku mandi yaa. Abang ke masjid lah, titip do'a "


Mendengar jawaban Rahma, Dimas hanya tertawa dan segera keluar menuju masjid.