
Di masa kehamilan mudanya ini, Rahma berusaha untuk tetap bekerja seprofesional mungkin.
Rasa mual yang tiba-tiba datang, harus dilawannya sekuat tenaga.
Wajah yang terlihat pucat dan tidak segar menjadi penampilan terbarunya. Segudang pertanyaan pun dilontarkan oleh rekan kerjanya.
Tetapi Rahma memilih tidak menggubrisnya, karena pengalaman rekannya yang pernah mengandung dan tetap bekerja, mendapat banyak pertanyaan dan nasihat yang terkadang membuatnya malas.
Ia pun berusaha tetap tersenyum untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut akan kondisi dirinya.
Dimas yang memperhatikan dari jauh pun merasa khawatir akan kesehatan Rahma. Resiko keguguran di awal masa kehamilan selalu menghantui dirinya.
"Dim, minta Rahma cuti saja atau sekalian resign, untuk amannya," saran Khalis yang merasakan kekhawatiran Dimas.
"Sudah, Bang. Tapi dia ga mau, katanya sayang kalau resign. Dia mikirin tagihan terus, padahal sudah saya bilang, saya akan tanggung jawab, in syaaAllah kita akan selalu dicukupkan oleh Allah. Tapi tetap saja, dia memilih untuk tetap bekerja," jawab Dimas dengan sedikit kesal.
"Hmmm, pakai cara 'Nyonya akan mengatasi semua permasalahan', gimana menurut kamu??" usul Khalis yang sudah Dimas duga sebelumnya.
"I knew it!! ujung-ujungnya 'Nyonya pasti adalah jawaban dari semua masalah'. Memangnya mbak Dona itu buku pintar?? atau RPUL??" sindir Dimas.
"Eee jangan salah, kamu memang salah, she's not buku pintar apalagi RPUL, but look, you got married because she help you out. Dona must have the key to make Rahma resign. Trust me, I know," bujuk Khalis.
"Jadi mbak Dona adalah kunci?? is it??"
"Yup, just bring her to meet Dona this weekend, let her talk," usul Khalis.
Dimas pun tidak butuh waktu untuk menyetujuinya, ia akan mengajak Rahma untuk menemui Dona secepatnya.
Girls talk, itulah yang terkadang dibutuhkan oleh kaum wanita. Membahas apa saja, dari hal penting sampai remeh temeh sekalipun. Demi mengeluarkan 20 ribu kata yang bagaikan jerawat mau pecah.
Tibalah di akhir pekan,
"Mbaaaak, where are you, kok ga keliatan??" tanya Rahma melalui pesan singkatnya, setelah ia tidak menemukan Dona di rumahnya.
"I'm coming, biasa nih urusan perASIan, membuatku tertahan sesaat di dalam kamar," jawab Dona.
Sementara itu,
"Gimana rasanya sekarang??" tanya Bude Tuti.
"Masih lumayan mual, Bude," jawab Rahma.
"Dicoba sarapan yaa, pasti kamu belum sarapan kan??" tanya Bude Tuti.
"Wah Bude tahu aja, kalau aku belum sarapan," jawab Rahma.
"Ini, makan dulu bubur ayamnya, dicoba sedikit dulu, pelan-pelan aja. Kalau tiba-tiba mual, berhenti dulu," ucap Bude Tuti sambil memberikan semangkuk bubur ayam kepada Rahma.
Rahma pun mulai menyendoki buburnya.
"Pelan-pelan aja makannya," ucap Dimas.
Satu suap, dua suap, tiga suap, empat suap, tiba-tiba Rahma berlari menuju kamar mandi, ia pun mengeluarkan kembali isi perutnya.
Dimas pun ikut berlari mengejar Rahma, rasa khawatir itu pun kembali datang.
Dimas menghampiri Rahma dan mengusap punggungnya.
Setelah beberapa saat,
"Sudah??" tanya Dimas.
"Sudah, Bang," jawab Rahma lemah.
Dimas pun membersihkan mulut Rahma lalu memeluk dan mengusap punggung istrinya itu.
"Ga papa, kalau mual berhenti dulu makannya. Sekarang mau apa??" tanya Dimas lembut.
"Aku mau minum aja, Bang," jawab Rahma.
"Abang buatkan teh hangat??"
Rahma pun mengganggukkan kepalanya.
Keduanya pun berjalan menuju ruang keluarga, tampak wajah cemas dari pakde dan budenya.
"Ga papa, Bude. Nun sewu, aku mual banget," jawab Rahma.
"Ora popo, ojo dipekso. Sithik-sithik wae," ucap bude Tuti.
Sementara itu Dimas segera membuatkan teh hangat untuk Rahma.
Tak lama kemudian, Khalis dan Dona dengan menggendong bayinya, menemui Dimas dan Rahma.
"Assalamu'alaikum," salam Khalis dan Dona.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dimas dan Rahma.
"Eh kok pucat mukanya??" tanya Dona.
"Barusan terjadi pengeluaran," jawab Rahma yang sudah pasti dipahami oleh Dona.
"Oouuu, mau rujak ga?? aku bikinnya ga pedes kok, pedesnya tipis-tipis aja," tawar Dona.
"Maauuuu, tapi nanti deh, Mbak. Tunggu perutnya bisa diajak kompromi," jawab Rahma.
"Kalau mau, langsung ambil aja di kulkas," ucap Dona lagi.
"Sip,"
"Tehnya diminum dulu, mumpung masih anget," ucap Dimas sambil memberikan secangkir teh hangat kepada Rahma.
"Nginep disini aja, gimana??" usul Dona.
"Jadi ga mikirin masak, tapi suplay makanan terjamin," lanjut Dona.
"Iya, Ma. Kamu disini aja dulu. Kan banyak yang bisa ngebantuin," bude Tuti ikut menambahkan.
"Hmmmm...... " ada sedikit keraguan di hati Rahma, untuk menginap di rumah budenya.
"Kalau mau nginap disini, ga papa kok. Nanti Abang pulang untuk ambil baju," ucap Dimas.
"Nah, sudah disetujui oleh bos besar!! sok lah nginep dimari," ucap Dona lagi.
"Hmmmm, iya deh. Tapi besok malam, aku pulang yaa??"
"Eee ngapain besok?? sekalian aja berangkat kerja dari sini, nah sorenya baru deh kamu pulang ke apartemen, setelah ambil motor and ransum disini," usul Dona.
"Ga papa, gitu??" tanya Rahma ragu.
"Ih, bocah!! kayak ga pernah nginep disini aja!!"
"Yaa, tapi kan itu pas masih single, Mbak. Sekarang aku kan sudah dobel," ucap Rahma.
"Nginap disini aja, Ma. Ibumu yaa pasti lebih tenang kalau kamu disini dengan kondisimu yang seperti ini," bufe Tuti pun menambahkan.
Setelah mempertimbangkannya sesaat, akhirnya Rahma menyetujui usulan tersebut.
Dimas pun kembali ke apartemen, untuk mengambil pakaian ganti.
Sementara itu, Rahma dan Dona bersantai di teras belakang sambil menikmati rujak dingin.
"Seger banget!! aku bisa nambah kalau begini," ucap Rahma yang sangat lahap menyantap rujaknya.
"Nambah aja, kan masih banyak. Nanti gampang bikin lagi," ucap Dona.
"Mbak, emang begini amat yaa mualnya kalau hamil muda??" tanya Rahma
"Yup, waktu hamil anak pertama, beeuuuh!! muntahnya ga mandang waktu, kapan aja kalau diisi makanan yaaa keluar lagi. Tapi cuma sebentar sih, masuk bulan ke-3 akhir sudah mendingan. Tapi waktu hamil yang ketiga, fix!! mual sepanjang kehamilan, alhasil beratnya cuma naik 8 kg!! Berat bayinya lahir 2,8 kg, ga sampai 3 kg. Tapi yaaa, sekarang badannya yang terbesar dibandingkan kakaknya," jawab Dona.
"Trus ngidamnya, gimana tuh Mbak??" tanya Rahma lagi.
"Ngidam yaa, aku ga ngidam sih. Seingat ku ga ada ngidam aneh-aneh, paling yang wajar di waktu yang wajar juga. Misalnya pingin makan martabak atau apalah, nah waktunya ga yang bikin orang kelabakan, karena yaa di jam-jam wajar aja sih, bayinya nurut, baik," jawab Dona.
"Look, Ma, you have to enjoy every moment in your first pregnancy. It's gonna be your first born. If you happy during this pregnancy, your baby will feel the same too, so he or she bakalan jadi happy baby," tambah Dona lagi.
"Perbanyak do'a untuk kelancaran dan kemudahan selama kehamilan dan persalinan nanti. Yaaa setiap kehamilan pasti ada cerita, kalau sekarang lagi ngetrend untuk mendokumentasikan masa kehamilan hingga persalinan, yaaa buat cerita ke anak kamu nantinya, gini lho waktu ibu hamil kamu," ucap Dona.