Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 18 Lamaran



Ibu dan kedua kakak Rahma telah berada di rumah orang tua Dona sejak Jum'at sore.


" Ibu sudah bawain beberapa makanan untuk besok. Ini semua tinggal dihangatkan Ahad pagi "


" Kamu sudah siap untuk lusa kan Ma?? " tanya Ufi, kakak pertama Rahma.


" In syaa Allah Mbak "


" Yowes, tinggal nunggu Ahad pagi "


" Ada fotonya ga Ma?? " tanya Bila.


Rahma kemudian membuka akun FBnya dan menunjukkan foto-foto ketika Dona menikah.


" Yang jadi MC " tunjuk Rahma.


" Hooo Mr. Kinclong 2 !!! " sahut Ufi dan Bila kompak.


" Hah Mr. Kinclong 2 ?? emangnya ada yang 1 ?? " tanya Rahma.


" Tuuuu, suami mbak Dona, Mr. Kinclong 1 " jawab santai Bila.


" Haadeeee, mbak Dona ngomong gini ke aku lho ' the wedding of the assistant ' "


" Maksudnya?? " tanya Ufi dan Bila bersamaan.


" Yaa kan Bang Dimas itu asistennya mas Khalis di kantor dan aku sering jadi asisten mbak Dona kalau di rumah, biasalah ngangon bocah "


Kedua kakak Rahma pun tertawa.


" Sudah kita duga!! "


Di Ahad pagi, kesibukan persiapan acara lamaran Rahma mulai terlihat. Dona mengecek kebersihan dan kerapihan teras depan hingga belakang. Ibu Rahma mempersiapkan aneka hidangan dan suguhan dibantu kedua kakak Rahma dan asisten Dona.


" Nasinya sudah yaa, tinggal nanti bakar ayamnya "


" Sambelnya kurang asin sedikit " ucap Ibu Rahma.


" Iya Bu " Eni segera memanaskan kembali sambal yang masih di dalam wajan dan kemudian menambahkan garam.


" Bu, ini cupcakesnya ditaruh dimana?? " tanya Bila.


" Meja ruang keluarga, semua cemilan di meja ruang keluarga "


Bila pun mengatur meja dengan aneka cemilan dan rangkaian bunga berwarna-warni dalam vas.


Waktu menunjukkan pukul 09.00, kesibukan di dapur semakin terlihat.


" Ayam mulai di bakar saja, nanti tinggal dihangatkan di oven "


" Sop Kimlonya, dikosongkan dulu isinya. Nanti isinya langsung di mangkok-mangkok " perintah ibu Rahma.


" Berasa resepsi " ucap Dona.


" Latihan "


" Rahmanya dimana?? Ufi??" tanya ibu Dona.


" Ufi lagi nyusuin Naya, Rahma di kamar masih semedi kayaknya " jawab Dona sekedarnya.


" Yang, sudah jam 9.30, siap- siaplah " panggil Khalis.


" Ok Mas!! "


" Bulik, dah setengah sepuluh, kita blom dandan syantik "


" Betul, yowes ku serahkan kepada dirimu ya En, Tati "


" Inggih Bu "


Setengah jam kemudian, Dimas dan keluarganya telah sampai di rumah.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam, mari masuk "


" Saya Khalis dan ini Dona istri saya, kakak sepupunya Rahma "


" Saya Ayahnya Dimas dan ini ibunya "


" Yang ini Ari kakaknya Dimas, dan ini Sekar istrinya "


" Mari Pak, Bu masuk "


Di ruang keluarga, orang tua Dona dan ibu Rahma menyambut kedatangan keluarga Dimas.


Setelah ramah tamah dan perkenalan keluarga,


" Jadi seperti yang sudah direncanakan, tujuan kedatangan kami ke sini adalah melamar Rahma Adinda untuk anak kami, Dimas Syahreza "


" Yaa dari informasi yang kami dapatkan dari Dimas, Rahma adalah salah satu karyawati di tempatnya bekerja. Kami sebagai orang tua sangat bahagia mendengar Dimas, putra bungsu kami ingin menikah. Semoga Bapak Ibu, berkenan menerima lamaran putra kami "


" Saya sebagai Pakdenya Rahma, sangat berterima kasih atas kedatangannya dan saya rasa, Rahma harus menjawab sendiri lamaran yang dilayangkan Dimas, piye Ma?? "


" Alhamdulillah "


Ibunda Rahma pun mencium kedua pipi putri bungsunya itu.


Wajah-wajah cerah dan bahagia dari kedua belah pihak.


Khalis merasa bagaikan dejavu menyaksikan proses lamaran Dimas dan Rahma. Ia pun menggenggam tangan Dona yang duduk disampingnya.


" Jadi ingat kita dulu " bisik Khalis.


" Hmmm ketika diriku ditodong WA 'pilih.. pilih.. pilih.. ' , lamaran macam apa itu!! " jawab Dona dengan berbisik juga.


Keduanya pun tertawa lirih, tetapi walaupun sebisa mungkin mereka menahannya, tetap saja terdengar.


" Trus yang ini kenapa ketawa berdua?? " tegur ibu Dona.


Dona dan Khalis segera memasang wajah serius mereka, tetapi..


" Hmmm pasti ingat waktu lamarannya dulu, makanya ketawa!! " ucap Rahma.


Dona dan Khalis akhirnya melepaskan tawa mereka. Membuat kedua orang tua Dona hanya menggelengkan kepalanya.


" Emangnya Pak Bos ngelamarnya gimana waktu itu, kok ketawa?? " tanya Dimas.


" Cerita Ma!! " Dona meminta Rahma untuk menceritakannya.


" Jadi yaaa, waktu Pak Bos kita ini ngelamar mbak Dona, setelah lamarannya diterima, kan langsung ngebahas akad sama resepsinya. Nah, mas Khalis tuh asyik main WA aja, ternyata bolak-balik WA mbak Dona, nanyain bajunya, dekorasinya dll deh. Cara nanyanya yaaa khas Pak Bos, kasih beberapa foto trus bawahnya di tulis 'pilih ', gitu doang!! tapi banyaaak!! sampai akhirnya mbak Dona kesel dong!! ngomong deh ' Bapak Khalis yang terhormat, tolong yaa... calon pengantin perempuannya ini sedang tidak mood untuk mikir, lebih memilih untuk terima beres, jadi silahkan putuskan sendiri. Saya mau pamit ke dapur, ga usah WA muluk!! cuma 1 kata doang aja pakai WA!! ', nah kita kan bingung, ku ambil HP mbak Dona, trus yaa ternyata yaaa, ya gitu emang kulkas!! "


" Tapi sekarang kulkasnya dah rusak total ya kayaknya?? " canda ibu Dona.


" Masih berfungsi kalau di kantor Bude, apalagi kalau rapat " jawab Dimas yang kembali mengundang tawa.


" Kulkasnya ga berfungsi kalau di rumah, cukup di kantor aja " tambah Khalis.


" Back to Rahma and Dimas, untuk akad dan resepsi, rencananya kapan dan dimana?? " tanya ayah Dona.


" Di sini aja Pakde " jawab Rahma.


" Di rumah?? " tanya ayah Dona.


" Bukan, maksudnya di Jogja, jangan di Jakarta "


" Tapi kan keluarga Dimas di Jakarta, nah ibu sama kakak-kakakmu juga di Jakarta "


" Iya Pakde, tapi aku pingin di Jogja aja, lebih murah biayanya, akunya juga ga perlu kesana kemari. Ngurusnya lebih enak "


" Yowes, terserah kamu. Silahkan kalian bicarakan tanggal dan lokasinya, Pakde dan Bude terima hasilnya saja "


" Maaf, boleh saya bertanya?? " tanya ibu Dimas.


" Silahkan "


" Ayahnya Rahma kok ga kelihatan yaa?? " tanya ibu Dimas.


" Ooo, ayah sudah meninggal, 5 tahun yang lalu " jawab Rahma.


" Ooo, maaf. Dimas ga cerita "


" Bang Dimas juga ga tahu, karena aku memang ga pernah cerita. Ga papa kok Bu. Ayah waktu itu sakit dan ga lama kemudian meninggal "


" Jadi nanti yang jadi wali nikahnya, Pak Ismail ?? " tanya ayah Dimas.


" Bukan, saya tidak bisa menjadi wali nikahnya, karena saya bukan dari garis ayahnya. Saya pakde karena pernikahan, karena istri saya itu kakaknya Uci, ibunya Rahma " jelas ayah Dona.


" In syaa Allah, nanti wali nikahnya, adiknya ayah, Lik Rosyid. Waktu mbak Ufi sama mbak Bila nikah, juga Lik Rosyid yang jadi wali nikahnya "


" Untuk lokasi kenapa saya pilih di Jogja , karena keluarga besar kami, rata-rata tinggal di sekitar Jawa Tengah, dari Jogja hingga Wonosobo. Jadi yaa itu alasan saya memilih di Jogja saja " Rahma menjelaskan.


" Untuk lokasi acaranya bisa dibahas nanti, karena kami juga belum tahu yang sesuai dengan budget kami berdua " tambah Dimas.


" Baik kalau begitu, untuk tanggal bagaimana?? " tanya ayah Dona.


" Hmmm sekitar akhir tahun, November atau Desember " jawab Dimas.


" Tanggal tepatnya nanti setelah jelas lokasinya dimana, karena tergantung ketersediaan gedungnya. Yang penting sudah ada perkiraannya, nanti saya bantu " ucap Khalis.


" Makasih Pak " jawab Dimas.


" Kamu sudah bisa panggil saya 'Mas' kalau bukan di kantor "


" Nanti deh Pak, agak gimana gitu manggilnya 'Mas' "


" Kenapa?? berasa manggil diri sendiri?? "


" Yeee, Pak Bos ngelawak "


Adzan dzuhur oun terdengar, seperti biasa, para pria segera menuju masjid dan wanitanya shalat dzuhur berjamaah di rumah.


Setelah selesai menunaikan shalat dzuhur, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama.


Acara lamaran Rahma pun berakhir tak lama setelah makan siang.