
" Iiiii Al, lucu banget siiiii, kamu ndut, bulet, gumuuuusshhhh deh tante " ucap Rahma sambil memangku Al, anak bungsu Dona.
" Betapa kilo sih Mbak?? " tanya Rahma.
" 8,4 kg "
" Ish kamu, baru mau 7 bukan sudah segitu beratnya??!! Eh, bajunya beli dimana sih Mbak, 'cu amat!! "
" Ini baju gratisan, kado " jawab Dona datar.
" Waaa senangnya dapat kado keren "
" Eh jadinya kita kemana?? aku nyetir aja nih " ucap Dimas yang tengah mengemudikan mobil Khalis.
" Kalau menurut eyang Google, the best Mall in Jakarta itu, satu, Central Park, dua, Kelapa Gading Mall, tiga, Grand Indonesia " jawab Rahma.
" Gading " jawab Dona singkat.
" Hmmm kalau Mbak Dona pasti milih Gading, ga bosan apa Mbak?? "
" Ga, sudah hafal tempat belanjanya, jadi ga pakai acara muter-muter. Selesai belanja juga mau makan apa aja, ada. Tapi memang harus siap betis gede, secara Mallnya memanjang ga meninggi "
" Jadi mau kemana?? newly wed yang menentukan " ucap Khalis.
" Yang paling dekat dari sini yang mana?? " tanya Rahma.
" Sama jauhnya, 20an km semua, sekitar 40 menitan " jawab Dona.
" Yowes Gading aja deh, yang sudah hafal tempat belanjanya, biar ga habis waktu muterin Mall " usul Rahma.
" Ok, kita ke Gading!! " ucap Dimas sambil mengarahkan kendaraannya menuju Kelapa Gading.
Perjalanan menuju Kelapa Gading ditempuh dengan kemacetan di beberapa ruas jalan, karena di setiap akhir pekan, tempat-tempat perbelanjaan di Jakarta selalu penuh oleh pengunjung.
Setelah hampir 1 jam, akhirnya mereka tiba di Mall Kelapa Gading.
" Vallet aja, tuh lihat ketersediaan parkiran sudah kurang dari 50 kendaraan " usul Khalis.
" Vallet kan mahal, Mas "
" Yaaa mau pilih setengah jam kita muterin parkiran, itu juga kalau dapat yang artinya sama dengan buang bensin atau pakai jasa vallet, kita langsung masuk Mall ga pakai ribet "
" Baiklah, vallet ya "
" Iya "
Dimas segera mengarahkan kendaraannya ke teras lobby Mall, kemudian menyerahkan kuncinya kepada petugas vallet yang bertugas.
Setelah itu, mereka berempat berjalan menuju departemen store ternama pada Mall tersebut.
" Tunggu!! stop dulu!! " pinta Rahma.
" Kenapa?? "
" Ini arah ke S-O-G-O kan?? " tanya Rahma.
" Iya, kenapa?? "
" Mbak, disitu kan mahal-mahal, branded item semua, yang agak miring sedikit dong?? "
" Ke Bintang?? yang diujung sana?? " tanya Dona.
" Laaa dia kata ' Bintang ' ??!! " balas Rahma.
" Lho kan emang artinya bintang, kan ?? "
" Iya, bintang kejora, Sayang. Yuk kita ke bintang !! " ajak Khalis yang segera berjalan di depan sambil mendorong stroller bayi.
Dona berjalan cepat mengikuti langkah panjang suaminya.
Khalis segera menyadari kecepatan langkahnya, lalu ia pun memperlambat langkahnya lalu meraih tangan Dona.
" Maaf, kecepetan yaa "
" Liliput memang susah mengikuti kecepatan Pangeran " jawab Dona.
Khalis lalu menghentikan langkahnya.
" Dim, kamu jalan duluan ke tempat pakaian wanita, nanti saya menyusul "
" Mas mau kemana?? " tanya Dimas dan Rahma bersamaan.
" Ada urusan sebentar sama ibu yang satu ini "
Setelah Dimas dan Rahma berlalu, dengan satu tangannya tetap mendorong stroller, Khalis menggandeng tangan Dona dengan tangannya yang satu lagi menuju lorong samping Mall yang sepi.
" Mas, kita mau ngapain disini?? "
" Yang, lupa yaa?? kan sudah dibilang, jangan ngelawak di tempat umum "
" Oooo iyaaa, princess lupa, Pangeran "
" Oke.. oke!! Sayang yang minta yaa, lihat nanti malam!! "
Dona pun tertawa sambil mengambil alih strollernya kemudian kembali berjalan menyusul Dimas dan Rahma diikuti Khalis dari belakang.
Sementara itu, Rahma sedang asyik mengitari area pakaian wanita.
" De', ngapain muter-muter, pilih aja yang disuka, kan sudah megang duitnya "
" Aku ga megang duit, aku cuma bawa kartu debit aja " jawab Rahma santai.
" Virus mbak Dona memang menular yaa "
" Seru kan, emang sih kadang ngeselin, tapi tetep seru ah!! Eh Bang, lihat gamis disana yuk "
" Let's go "
Keduanya pun asyik memilih gamis untuk Rahma.
Notifikasi WA Rahma berbunyi, dilihatnya terdapat pesan dari Dona.
" Ma, aku di tempat perlengkapan bayi yaa "
" Ok " jawab Rahma.
" Siapa?? " tanya Dimas.
" Mbak Dona di tempat perlengkapan bayi " jawab Rahma.
" Eh Bang, pilih yang Abang suka "
" Lho?? memangnya Abang yang mau pakai gamisnya?? "
" Iiih, pilih yang Abang suka, buat aku "
" Yaaa, yang mana aja sih, Abang ga ngerti "
" Hmmm, Abang suka ngelihat aku pakai warna apa?? "
" Hmmm apa yaa?? marun dan hitam deh. Trus modelnya yang simple aja, ga banyak pernak-pernik "
" Ok, aku cari yang seperti itu "
" De, ambil 2 sekalian "
" Ga ah, 1 juga cukup "
" 2, trus lanjut ke sepatu "
" Bang, kenapa harus 2 ?? 1 juga sudah cukup, buat yang lain lagi aja "
" Yowes, baju buat di kamar "
" Maksudnya??? "
Dimas pun menggaruk-garuk kepalanya, memikirkan jawaban apa yang tepat.
" Yang itu lho " tunjuk Dimas ke arah lingerie.
Wajah Rahma pun bersemu merah.
Dimas pun tak kalah salah tingkah.
" De, kamu pilih sendiri aja, Abang nunggu disini "
" Tapi Bang, aku ga pernah pakai baju seperti itu, aku ga ngerti "
" Yaa, apalagi Abang, lebih ga ngerti lagi "
" Aku tanya mbak Dona deh "
Rahma pun menghubungi Dona.
" Mbaak, help me "
" Kenapa?? "
" Disuruh milih baju 'dinas' sama Abang "
Dona sontak pun tertawa.
" I'm coming!! " jawabnya sambil berjalan menuju ke arah Rahma.
" Kenapa?? bingung?? kan tinggal milih aja yang mana?? " ucap Dona sambil memilih lingerie yang di pajang pada display.
" Nih, beli 2, yang satu model sopan, bahan satin. Satunya lagi model uhuk uhuk, bahan sifon yang tembus pandang " lanjut Dona lagi sambil mengambil lingerie yang dimaksud.
" Tinggal kamu pilih warnanya "
" Mbak, kan malu "
" Eh, ini ibadah lho. Diniati ibadah, santai aja. Semua merasakan hal yang sama, awalnya pasti malu, tapi nanti juga ngalir sendiri, karena fitrah manusia memang begitu. Berikan hadiah terindah untuk Dimas seorang. Oiya jangan lupa parfumnya "
" Iya mbak, makasih "
" Yowes aku mau tunggu di tempat kosmetik yaa "
" Iya Mbak "
Setelah memilih beberapa pakaian, Rahma dan Dimas menuju area sepatu dan sandal.
" De, suka yang model apa?? "
" Sporty, aku ga suka high heels, makanya sepatuku modelnya kets semua " jawab Rahma.
Dimas pun mengingat-ingat, Rahma memang tidak menggunakan sepatu fantofel ketika bekerja, melainkan sepatu kets seperti yang dipakainya pada hari ini.
" Yuk " ajak Dimas ke display sepatu dengan model sporty.
Kemudian Dimas mengambil sepatu sporty yang cukup girly berwarna pink.
" Nomornya?? " tanya Dimas.
" 39 " jawab Rahma.
" Mbak, minta model ini nomor 39 yaa " ucap Dimas kepada pramuniaga departemen store.
Setelah beberapa saat,
" Silahkan dicoba " mbak pramuniaga kembali membawa sepatu yang dimaksud tadi.
Dengan wajah ceria dan senyum yang merekah, Rahma segera mencobanya.
" Gimana?? " tanya Dimas.
Rahma mencoba berjalan beberapa langkah.
" Ok Bang "
" Sepatunya ini yaa " ucap Dimas sambil memberikan sepatu kepada pramuniaga departemen store.
" Baik, saya buatkan notanya terlebih dahulu "
Dimas kembali melihat-lihat alas kaki lainnya.
" De, ga tertarik sandal?? "
" Hmmm, sandal juga?? "
" Sekalian aja, mumpung disini "
Rahma segera memilih sandal yang dia inginkan.
Setelah selesai, Rahma berjalan ke arah sepatu pria.
" Abang, beli juga yaa "
Rahma kemudian memperhatikan penampilan Dimas dengan seksama, lalu ia mengambil sepatu casual berbahan kulit berwarna kopi.
" Nomornya?? " tanya Rahma.
" 44 "
Rahma pun meminta nomor ukuran sepatu yang dimaksud kepada pramuniaga departemen store.
Tak lama menunggu,
" Sok lah Bang, dicoba "
Dimas pun mencoba sepatu pilihan Rahma.
" Bagus Bang!! enak ga dipakainya?? "
" Enak, nyaman "
" Bungkus!! " ucap Rahma.
Setelah itu, Rahma menuju bagian pakaian pria.
" Ih kenapa, kok senyum-senyum sendiri " tanya Dimas melihat Rahma yang tersenyum sendiri.
" Hihihi, ga papa. Cuma, aku suka sama cowok yang gaya berbusananya seperti ini, keren aja ngelihatnya " tunjuk Rahma pada sebuah poster model busana pria yang memakai kemeja blue navy dipadukan dengan kaos putih dan celana bahan berwarna beige.
Dimas mendekati pramuniaga departemen store, lalu ia meminta pakaian yang digunakan oleh poster tersebut.
Setelah mencobanya, Dimas melakukan pembayaran di kasir.
" Eh Bang, yang bajuku pakai kartuku aja, kan kemarin Abang sudah transfer "
" Sekalian pakai punya Abang aja, yang punya Ade bisa dipakai nanti "
Wajah Rahma pun bersemu merah mendengar Dimas memanggilnya dengan sebutan 'Ade'.
" Kenapa kok mukanya jadi merah?? " tanya Dimas.
" Ga papa, lucu aja. Yuk Bang, ke tempat kosmetik "
Dilihatnya Dona sedang memilih parfum di area dekat kosmetik.
" Beli farfum, Ma?? "
" Eh Mbak, yang mana yang enak wanginya "
" Aku suka yang ini, lembut banget wanginya " jawab Dona sambil memberikan kertas sampel parfum kepada Rahma.
" Hmmm wanginya lembut banget, mau ah yang ini "
Dimas pun dengan sigap memberikannya kepada pramuniaga.
" Mbak Dona beli yang ini juga?? "
" Ga, aku tadi sudah beli yang itu " tunjuk Dona pada salah satu brand kenamaan Perancis.
Rahma pun mencari tahu parfum yang dimaksud.
" Wooooaaaa beda kelas!!! " ucap Rahma yang cukup terkejut dengan harga parfum yang nyaris satu juta.