
Setelah selesai makan malam, Dimas dan Rahma pamit untuk pulang ke kostan.
" Jadi pulang ke kostan masing-masing ?? " tanya Dona.
" Hanya untuk ambil pakaian " jawab Dimas.
" Katanya kamu mau nyewa apartemen?? " tanya Khalis.
" Iya, kemarin sudah DP, tinggal masuk aja sih. Tapi kan belum beresin kostan, pamit apalagi. Jadi malam ini ambil baju di kostan, trus langsung ke apartemen " jawab Dimas.
" Oiya, baju yang paling penting, masih disana semua kan?? kalau malam ini ga pulang ke kostan, besok ngantornya pakai baju ini lagi. Ih, ga banget!! " tambah Rahma.
" Jadi yaa pulang, ambil baju trus ke apartemen. Besok pulang kantor beberes kostan " lanjut Rahma.
" Yowes hati-hati. Besok jangan kesiangan " ucap Khalis.
" Siap Bos!! " jawab kompak keduanya.
Setelah pesanan taxi online mereka datang, mereka beranjak menuju kostan Rahma terlebih dahulu.
Sesampainya disana, Rahma mengambil pakaian secukupnya dan beberapa perlengkapan lainnya kemudian segera melanjutkan perjalanan menuju kostan Dimas.
Rahma hanya mengirimkan pesan singkat ke pemilik kostan dan teman-temannya di kostan jika mulai malam ini ia pindah, tetapi esok ia akan kembali untuk berpamitan dan membereskan barang-barangnya.
Lewat pukul 10 malam, akhirnya mereka sampai di apartemen.
Sebuah apartemen bergaya minimalis bernuansa putih dan kopi pada furniturnya.
" Alhamdulillah, sampai juga " ucap Rahma sambil merebahkan badannya di sofa.
" Bersih-bersih badan dulu, baru istirahat " ucap Dimas sambil merapikan barang bawaannya.
" Tas pakaiannya Abang taruh di kamar yaa "
" Iya Bang, makasih "
Rahma pun beranjak dari sofa menuju jendela kamarnya. Ia lalu membuka tirai untuk melihat pemandangan sekitarnya dari lantai 6.
" Eh Bang ini jendela arahnya ke mana yaa?? "
" Itu ke Merapi " jawab Dimas.
" Waaa, mas Khalis pinter milihnya, pagi-pagi pasti adem ngelihat gunung " ucap Rahma dengan mata berbinar.
" Oiya, mandi duluan lah. Abang rapiin bawaan tadi "
" Yowes, aku duluan mandi ya Bang "
Hari itu, merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Rahma dan Dimas, sehingga setelah membersihkan badan,
keduanya langsung tertidur hingga menjelang waktu shubuh tiba.
Rahma terbangun setelah mendengar suara alarm hpnya berbunyi. Ia pun meraih HPnya yang terletak di meja di samping tempat tidurnya.
Masih dengan mata yang mengantuk, tiba-tiba ia terkesiap, karena semua tampak asing baginya. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Tak lama, Dimas keluar dari kamar mandi, dengan rambut yang basah terkena air wudhu.
" Assalamu'alaikum, sudah bangun?? " sapa Dimas sambil mengecup kening Rahma, yang kembali membuat Rahma tersipu.
" Wa'alaikumsalam, Abang mau tahajud??" tanya Rahma.
" Iya, mau jama'ah?? yuk, Abang tunggu "
" Tunggu ya Bang!! " Rahma segera bangkit dari kasurnya dan menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Rahma, Dimas memasang sajadah untuknya dan Rahma.
Keduanya pun melaksanakan shalat tahajud berjama'ah.
Setelah adzan shubuh berkumandang, Dimas pun segera menuju ke masjid.
Selesai shalat, Rahma menyiapkan menyiapkan sarapan di dapur. Semalam, Dona telah menyiapkan aneka makanan untuknya, sehingga pagi ini, ia cukup menghangatkannya saja.
" Assalamu'alaikum " salam Dimas yang baru pulang dari Masjid.
" Wa'alaikumsalam " jawab Rahma sambil menghampirinya dan mencium punggung tangan suaminya.
" Mau ngemil dulu Bang?? "
" Boleh, ada apa?? "
" Martabak yang kemarin, sama aku panggangin roti tawar isi coklat sama keju " jawab Rahma sambil membawa piring berisi cemilannya ke meja makan.
Sambil menikmati cemilan pagi berdua,
" Nanti pulang kantor mau belanja ga?? buat ngisi kulkas "
" Baru mau ngomong, kalau nanti pulang kantor kita belanja dulu di supermarket "
" Jangan lupa dicatat semua kebutuhannya, biar cepet nantinya "
" Iya Bang "
Tak lama,
" Maaf Bang, lama ya nunggunya "
" Ga papa, kan baru manasin motornya dulu. Yuk naik " ucap Dimas sambil memberikan helm untuk Rahma.
Sesampainya di kantor, keduanya menuju ruangan masing-masing.
" Assalamu'alaikum " sapa Rahma ke Bu Dewi.
" Wa'alaikumsalam. Sarapan Ma " jawab Bu Dewi sembari menawarkan sandwich miliknya.
" Silahkan Bu, saya tadi sudah sarapan "
" Hmmm gimana nih rasanya nikah versi pengantin baru?? "
" Gimana yaa?? biasalah Bu, ada kaget-kagetnya, malu-malunya " jawab Rahma tersipu.
" Trus rencana mau langsung atau nunda?? "
" Apanya?? " tanya Rahma tidak mengerti.
" Momongan "
" Hmmm belum ngobrolin sih, tapi kalau kata mbak Dona jangan ditunda. Yaa lihat sikon nanti "
" Iya, sebaiknya jangan ditunda. Oiya, terus kapan mau diadakan resepsinya?? "
" InsyaAllah awal Desember "
" Waa, 6 pekan lagi. Saya tunggu undangan resminya yaa "
" Iya Bu, InsyaAllah semua diundang "
Rahma dan Dimas kembali beraktivitas seperti semula.
Dimas masih tetap sibuk dengan tugas utamanya sebagai asisten manajer dan Rahma dibagian keuangan internal.
Sepintas tak terlihat perbedaan dalam aktivitas di kantor, tetapi terdengar kasak-kusuk di antara karyawati tentang hubungan Rahma dan Dimas.
" Eh, waktu kita ngobrol kalau Dimas ke butik Noer, ada Rahma kan?? kok dia diam aja " Clara membuka percakapan.
" Sepertinya mau nutupin hubungannya. Kenapa ditutup-tutupi coba?? tinggal bilang aja, memangnya kenapa?? " lanjutnya lagi.
"Mungkin ada 'somethingnya' "
" Sesuatu apa?? jangan ngawur ah. Selama ini Rahma kan baik-baik aja, jangan su'udzon " Cynthia membela.
" Laa terus, kenapa nikah siri dulu?? kenapa ga langsung nikah resmi?? kan aneh "
" Yaa, mungkin dia punya alasan "
" Yaa alasannya apa?? sudah keburu nafsu?? atau jangan-jangan sudah DP "
Mereka pun tertawa sambil melanjutkan pembicaraannya.
" Coba lihat Rahma sekarang, mulai sombong tuh, ga ngobrol sama kita lagi "
" Iya, makan siangnya milih di ruangannya, trus sok sibuk nelpon dan WA aja "
" Yaa, mungkin sibuk ngurusin acara nikahannya nanti "
" Laah dia kan sudah nikah!!?? memangnya mau nikah lagi?? yang kemarin memangnya kenapa?? "
" Yaa mana ku tahu, maksudku tadi, sibuk ngurusin acara resepsi disini, mungkin lho, aku juga ga tahu "
" Oiya, kalian kepikiran ga?? kalau Pak Bos sama Pak Dimas jadi satu keluarga, wah Rahma dapat jackpot!! karyawan baru, eee ga lama jadi sepupu ipar Pak Bos, eeee sekarang jadi istrinya asisten Pak Bos??!!! waaa ini keterlaluan jackpotnya !! "
" Hmmm pakai jurus apa tuuuu?? "
" Jurus sesuatuuuu!! "
Bu Ayu yang sepintas lalu mendengarkan percakapan para karyawati itu pun tidak bisa tinggal diam.
Ia pun berjalan mendekati, yang membuat para karyawati terdiam.
" Sudah selesai ghibahin Rahma?? " tegur Bu Ayu.
Semuanya menunduk terdiam membisu.
" Asal kalian tahu, kalian yang berdosa, Rahma dan Dimas panen pahala, karena dosa mereka ditransfer ke kalian, tetapi pahala kalian ditransfer ke mereka. Ya itulah hukum ghibah, apa kalian senang, bahagia sudah mengghibahi Rahma?? Jadi siapa yang double jackpot??!! "
" Mereka nikah, terlepas itu nikah siri atau resmi, yang penting mereka sudah sah di mata Allah. Nikah siri itu hanya belum tercatat di KUA, belum tercatat secara kenegaraan, tetapi di mata Allah tetap sah. Sesuatu hal yang baik, untuk menghindari fitnah diantara mereka, kenapa dipermasalahkan dan difitnah yang tidak-tidak??!! "
" Dimas menikahi Rahma untuk memuliakannya, menghindari fitnah di antara keduanya. Kenapa menjadi masalah untuk kalian?? kalian rugi apa?? kan tidak ada?? "
" Sekali lagi saya dengar ada pembicaraan 'miring' tentang siapa saja di kantor ini!! saya tidak akan tinggal diam!! "
" Oiya, jangan setelah ini kalian semakin mengghibahi Rahma karena saya membela dia!! siapa pun yang dighibahi, siapa pun!! saya tidak akan tinggal diam, ingat itu!! " ucap Bu Ayu penuh kemarahan kemudian kembali ke ruangannya.