Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 39 Akhir Pekan yang Membosankan



Di akhir tahun, Dimas menghabiskan waktu di depan laptopnya untuk menyelesaikan tesisnya, karena jadwal pengumpulannya tinggal tersisa 2 pekan lagi.


Rahma pun menyibukkan dirinya dengan mencoba berbagai resep masakan.


" Bang, mau makan tema Jepang, Korea, Eropa, India atau lokal?? " tanya Rahma kepada Dimas yang nampak serius di depan laptopnya.


Saking seriusnya hingga ia tidak mendengar pertanyaan Rahma.


Rahma kemudian bertanya kembali, dengan cara yang sama.


Baaang?? mau makan apa??? tema asia timur, western, persia atau lokal?? "


Dimas kembali tidak meresponnya. Akhirnya Rahma memutuskan untuk bertanya kembali


tetapi dengan cara yang diajarkan Dona.


Kakak sepupunya ini telah membekali dengan berbagai ilmu yang pada awalnya Rahma anggap tidak penting, tetapi setelah beberapa pekan menikah, ia menyadari bahwa yang semua Dona ajarkan memang dibutuhkan.


Rahma kemudian mendekati Dimas dan duduk di depannya. Perlahan ia menarik laptop milik Dimas sambil berkata,


" Bang, istrimu yang cantik, manis, cerdas dan menggemaskan ini mau masak, tapi bingung mau masak apa. Jadi tolong pilih tema menunya, Asia Timur yang meliputi Cina, Korea dan Jepang. Atau lokal yang menandakan cinta tanah air dan bangsa. Atau kita beralih ke daerah penjajah di negara Barat sana "


Bibir Dimas pun melengkung membuat senyuman,


" Hmmmm lokal aja deh, kan cita tanah air dan bangsa "


" Ok, aku masak pecel sama tempe kemul. Mau pakai telur ga Bang?? "


" Hmmm boleh deh, diceplok aja yaa "


" Ok!! silahkan dilanjutkan pekerjaannya, aku kembali setelah pesan-pesan berikutnya. Ciaaooo!! "


Rahma pun kembali menuju dapur, tetapi ada yang menarik tangannya.


" Mau kemana sih buru-buru?? " tanya Dimas.


" Laaa masak kan, Bang. Sudah jam 10 lho, aku belum masak "


Dimas menarik badan Rahma kemudian ia mulai ******* bibir istrinya itu.


Refleks Rahma mendorong badan Dimas untuk menjauh, tetapi pelukan lah yang ia dapatkan.


Setelah beberapa saat,


" Iseng!! " ucap Rahma dengan wajah yang memerah dan nafas terengah-engah.


" To be continue nanti malam yaa " ucap Dimas dengan mengedipkan satu matanya.


" Hiii centil.... serem " jawab Rahma pura-pura bergidik sambil kembali ke dapur sedangkan Dimas kembali fokus pada tesisnya.


Dengan kesibukan Dimas mengerjakan tesisnya, membuat Rahma merasa bosan.


Membaca novel online, mencoba aneka resep pun dilakukannya untuk mengusir kebosanannya, tetapi tidak juga berhasil.


Dimas sebagai seorang dengan tipe karakter pekerja keras dan sangat fokus, membuat dirinya tidak peka terhadap hal-hal seperti itu.


Rahma pun memutuskan untuk menghubungi Dona untuk meluapkan rasa di hatinya.


" Napa Ma?? "


" Ketika bosan menerjang " jawab Rahma singkat.


" Hoooo, menesiskan diri yaa "


" Iyes, berjam-jam di depan laptopnya, nengok juga ga, waaaakuuu dicuekin !! "


" Dirimu bagaikan istri tak kasat mata kah?? "


" Betul sekali!! "


" Ga papa Ma, kan masih tak kasat mata, daripada kusut atau keset?? " canda Dona.


" Oooo sungguh percakapan yang kurindukan menjadi mood booster kuuu!! "


" Kita tatap muka aja gimana?? "


" Aku ke sana, ke rumah Bude?? " tanya Rahma.


" Video call aja, ngapain kamu kesini, suamimu aja di rumah "


" Baiklah, hayuuk video call, mbak yang vc-in aku yaaa, kutunggu!! " jawab Rahma yang kemudian segera mematikan sambungan teleponnya.


" Eh sopan tuh bocah!! "


Tak lama kemudian,


" Pinter yaaa, main matiin telpon!! "


" Kan mau VC yaaa aku matiin aja. Eh lagi ngapain mbak?? "


" Video call "


Keheningan sesaat pun terjadi. Dengan menarik nafasnya Rahma melanjutkan.


" Ooo I see "


" Mbaaak, aku lagi ga mood bercanda niii "


" Ouh, baiklah. Aku serius, wait aku Dona kok serius. Oiya, gimana-gimana ?? ada yang bisa diriku bantu?? "


" Aku bosaaaaaaann!!! super!!! super to the max!! "


" Hooo, emangnya si Abang kemana?? " tanya Dona.


Rahma pun mengarahkan kamera handphonenya ke arah Dimas yang sedang fokus mengetik tesisnya.


" Oooke, jadi Rahma cantik dicuekin Abang sayang yang lagi fokus ngetik. Kamu ga masak?? "


" Sudah "


" Bikin kue apa gitu?? cemilan??? "


" Sudah "


" Kamu the flash?? kok semuanya sudah?? "


" Kan cuma berdua, yang dimasak sedikit, yang dicuci juga sedikit "


" Yaa segera produksi lah kalau gitu "


" Produksi apaan?? " tanya Rahma tidak mengerti akan maksud Dona.


" Anak "


Keheningan kembali terjadi.


" Mbaaaak, udah deh aku skip aja "


" Skip?? baiklah "


" Ma, sorry, my baby's crying "


" Oh, iya deh Mbak, salam buat krucil yaa "


" Iya, yuk assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam "


Setelah menutup sambungannya, Rahma memilih untuk tiduran di sofa sambil menonton film komedi dari hpnya.


Tetapi kebosanan tak kunjung hilang juga, Dimas pun tetap pada posisinya di depan laptop.


" Heran, punya laki gini amat sih!!! mbok yao aku dilirik dikit, istirahat bentar ngobrol apa kek!! stretching apa gitu??!! woiii!!! Baaang your cutie wife is here and she's hopelessly feel bored!! help!!! " ucap Rahma dengan berbisik dari atas sofa.


Tak lama kemudian Rahma pun tertidur di sofa, kebosanan benar-benar membuatnya stress.


Dimas pun mulai menyadari jika suara Rahma tak terdengar, ia pun bangkit dari kursinya dan melihat sekitarnya untuk mencari keberadaan Rahma.


" Hmmm, ternyata ketiduran di sofa "


Dimas dengan perlahan mengangkat Rahma untuk dibawa ke kamar, tetapi ekspektasi terkadang tidak sesuai dengan realita.


Alih-alih ingin romantis menggendong sang istri untuk tidur di kamar, tetapi ternyata ia tidak kuat mengangkat badan Rahma, malahan ia pun terjatuh dan menimpa badan Rahma, yang membuat Rahma terbangun.


Rahma terbangun karena terkejut, matanya pun mendelik begitu juga dengan Dimas. Tiba-tiba waktu terhenti untuk sesaat. Lalu,


" Abang ngapain?? " tanya Rahma sambil tertawa.


Dimas yang malu dan salah tingkah membuatnya tidak menjawab pertanyaan Rahma, segera bangkit dan kembali ke kursinya.


Rahma pun tertawa semakin keras melihat Dimas yang salah tingkah.


Lalu ia berjalan mendekati Dimas.


" Tadi Abang ngapain?? kok kayaknya seperti mau nggendong?? "


Dimas pura-pura tidak mendengar dan sibuk dengan ketikannya.


" Hmmm mau romantis tapi salah perkiraan nih kayaknya " gumam Rahma dalam hati.


" Bang, berat ku 58 kg, Abang berapa?? "


" Kenapa kok tanya berat?? " tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Rahma.


" Penasaran aja. Jadi berapa, Bang?? "


" Sekitar 70 kg, kenapa?? "


" Berarti kita beda 12 kg??!! "


" Kalau aku hamil, beratku bisa lebih berat dari Abang!! "


" Ya wajarlah De, kalau hamil kan beda. Eh mau bikin anak sekarang...??? "


Pukulan bantal pun dilayangkan oleh Rahma yang membuat Dimas tertawa.


" Laaa kan nanya dulu. Yowes, Abang mau siap-siap ke masjid, hampir adzan dzuhur "


Sementara Dimas bersiap, Rahma kembali menuju dapur untuk menyiapkan makan siang mereka nanti.