Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 48 New Manager



Sebelum keberangkatan Khalis menuju Doha, ia telah memberikan referensi calon-calon asisten yang sekiranya akan menjadi pertimbangan penggantinya. Tentu saja nama Dimas berada pada daftar teratas, sebagai calon asisten manajer yang baru.


Di Senin pagi, hari pertama Dimas dengan manajer baru. Seperti biasa, Dimas akan tiba 15 menit lebih awal, untuk mempersiapkan laporan yang akan ia berikan kepada manajernya. Sesaat setelah memakirkan motornya, ia segera menuju kantor manajer untuk meletakkan berkas-berkas penjualan dan perawatan pekan sebelumnya. Setelah itu, seperti biasa Dimas akan segera berada di meja kerjanya.


Tepat pukul 8 pagi, pintu ruang manajer pun dibuka. Seorang pria yang tampak sedikit lebih tua dari Khalis memasuki ruangan. Dimas pun menyusulnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Pak," sapa Dimas.


"Wa'alaikumsalam, pagi. Oiya, saya minta kopi yaa. Selain air mineral, tolong selalu sediakan kopi di meja saya," pinta sang manajer.


"Baik Pak," jawab Dimas.


"Oiya, berkas calon asisten yang baru ini, kamu kembalikan ke HRD, saya malas cari orang baru, kamu sudah pengalaman 5 tahun, sudah pasti paham seluk beluk pekerjaan ini, jadi kamu akan tetap menjadi asisten," lanjut Arfan sang manajer baru.


"Jadi tidak ada pemilihan ulang, Pak?" tanya Dimas.


"Tidak perlu, saya percaya penilaian Khalis, dia bilang kamu the best assistant, so let's do the work!" jawab Arfan.


"Terima kasih, Pak!" ucap Dimas penuh rasa syukur.


Setelah melaporkan semua kegiatan bengkel dan marketing, Dimas pun kembali ke mejanya dengan hati berseri-seri. Ia pun segera menghubungi Rahma untuk memberitahukan berita baik itu.


"Assalamu'alaikum, De. Alhamdulillah Abang tetap jadi asisten manajer, nggak ada pemilihan ulang," ucap Dimas.


"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah, Bang. Aku seneng banget dengarnya. Oiya, nanti kita rayain ya, Bang. Aku masakin ayam geprek yang pedesnya nampol, ya!" jawab Rahma penuh semangat.


"Eeee jangan yang pedes-pedes, kasihan ntar bayinya kepedesan lho," ucap Dimas mengingatkan.


"Oiya, baiklah aku bikinnya pedes sopan aja deh," jawab Rahma.


Kabar baik akan statusnya pun segera ia sampaikan kepada Khalis, yang saat itu masih berada di Jakarta sebelum bertolak menuju Qatar.


"Selamat kalau begitu. Dim, kalau nantinya kamu ada kesulitan, kapan saja kamu bisa hubungi saya," ucap Khalis.


"Makasih, Mas."


Kebahagiaan Dimas dikarenakan ia masih dipercaya untuk berada pada posisinya, sebagai asisten manajer pun membuat beberapa karyawan lain merasa iri. Selain usia Dimas yang masih sangat muda ketika pertama kali terpilih menjadi asisten, minim pengalaman kerja menjadi alasan utama atas ketidaksukaan mereka.


Walaupun setelah itu, Dimas dapat membuktikan kinerjanya, rasa iri itu semakin terlihat setiap Dimas dipercayai untuk memimpin rapat dan beberapa kali training.


Kabar berita akan posisinya yang tidak bergeser, membuat beberapa pesaing Dimas yang menginginkan posisinya pun merasa kecewa dan merasa tidak diperlakukan dengan adil, karena Arfan tidak mempertimbangkan kinerja mereka, tetapi hanya memilih berdasarkan rekomendasi Khalis.


Setelah 1 bulan bekerja menjadi asisten manajer yang baru, Dimas mulai merasakan perbedaan cara kerja Arfan dengan Khalis, yang menurut Dimas tidak efisien dan terlalu santai.


Bahkan terkadang ia yang harus meng-cover semua pekerjaan Arfan, sehingga ia pun merasa kewalahan dan menghubungi Khalis untuk meminta pendapat.


"Gimana Mas, aku capek banget ngadepin Pak Arfan, masa' hampir semua urusan aku yang handle, dia cuma tinggal tanda tangan?"


"Mau kamu gimana? hmmm coba kamu tunggu sampai 2-3 bulan, siapa tahu dia cuma ngetes kalian di bulan pertamanya dia kerja, untuk melihat kinerja anak buahnya. Siapa yang bisa diandalkan dan yang tidak," jawab Khalis.


"Kamu tunggu saja, kerja sebaik mungkin, tunjukkan prestasimu," lanjut Khalis.


"Baik, Mas," jawab Dimas dengan malas.


"Dim, semangat!! jangan kendor!! kalau kamu berprestasi, kamu bisa dapat promosi. Look, kamu sudah 2 kali mengalahkan para pesaing kamu, jangan buat mereka berfikir bahwa posisi yang kamu dapatkan sekarang hanya karena saya yang merekomendasikannya semata, tetapi memang prestasimu yang cemerlang, show them that you are the capable assistant!!" ucap Khalis menyemangati Dimas.


"Iya, Mas, terima kasih. Yaaah belum apa-apa, aku sudah kangen sama omelan Pak Bos di pagi hari kalau lihat laporan kacau balau," ucap Dimas mengingat masa kerjanya ia dengan Khalis, yang membuat Khalis tertawa.


"Waah ternyata aku ngangenin juga yaa?" canda Khalis.


"Udah deh, Mas, don't be so GR!!" ucap Dimas ketus.


"Heeiii, that's my wife language kibd of style!! how dare you copied her!!" canda Khalis.


"Hadeee capek yaa, Mas!!" protes Dimas.


"Yoweslah, just do your best and hope for the best, don't give up!!" nasihat Khalis sekaligus memberikan semangat untuk Dimas.


Setelah mengakhiri hubungan telepon dengan Khalis, Dimas mendapatkan sedikit pencerahan dan semangat baru.


Keesokan harinya, ia kembali menjalani perannya sebagai asisten yang kali ini, dirasakan lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya bersama Khalis.


"Pak, ini laporan dari bengkel. Kemarin baru saja purchase order suku cadang dan ini kendaraan-kendaraan yang sedang dalam perbaikan dan yang sudah selesai," ucap Dimas sambil menyerahkan map-map berisi laporan-laporan yang ia sebutkan.


Arfan pun membukanya satu persatu tanpa suara, tetapi ia terlihat hanya membacanya sepintas.


"Kamu bacain kendalanya aja, kalau tidak ada masalah yaa dilewati saja," ucap Arfan.


"Hmm nggak ada sih, Pak. Ooo cuma itu sih, dari tim marketing yang mau membuat promosi pertengahan tahun, dengan memberikan potongan DP sebanyak 5% khusus di bulan Juni dan Juli. Lalu tim marketing juga sedang mempersiapkan beberapa merchandise untuk customer," jelas Dimas sambil menunjuk contoh merchandise yang dimaksud.


"Payung dan T-shirt, itu sudah terlalu sering, tambahkan tissue box, gantungan kunci eksklusif dan binder, semuanya dilapis dengan cover jok mobil, kulit sintetis warna hitam dan beige seperti ini," ucap Arfan sambil menunjukkan warna dan bentuk yang dimaksud.