
Kediaman orang tua Rahma telah ramai sedari pagi. Ibu-ibu tetangga sekitar rumah ikut sibuk menyiapkan hidangan untuk acara akad nikah Rahma dan Dimas.
Tenda putih telah terpasang apik di halaman hingga jalan depan rumah orang tua Rahma.
Waktu telah menunjukkan pukul 09.00, Rahma tampak gugup di dalam kamarnya. Tasya dan Lia telah selesai mendandaninya.
Upi dan Bila duduk menemani Rahma di dalam kamar.
" Ibu tadi bilang, Dimas sudah dalam perjalanan ke sini " ucap Upi.
Tiba-tiba terdengar keramaian di luar.
" Eh ada apa?? kok tiba-tiba ramai?? " tanya Rahma.
" Aku cek keluar dulu yaa " ucap Bila sembari berjalan membuka pintu.
Tetapi ketika pintu dibuka,
" Assalamu'alaikum adeeeek !!! " sapa Dona dengan senyum cerianya.
" Wa'alaikumsalam Mbaaaaaakk!!! huaaa mbak bikin aku nangiiiiisss!!! kok mbak datang??!!! kapan sampai??? nginep dimana??? " ucap Rahma sambil memeluk Dona.
" Eee calon pengantin ga boleh nangis, ntar luntur lho make-upnya. Eh pakai waterproof ga nih?? " canda Dona.
" Tenang Don, gw pakein waterproof terhits deh!! ga bakalan luntur walau mbrebes mili kayak gini " jawab Lia.
" Waaa sangkyu so may my friends!! "
" Batagor " jawab Tasya dan Lia yang telah hafal dengan jokes Dona yang tak biasa.
" Aaahh Mbak Dona sukses bikin aku nangis trus ketawa kan !!! "
" Alhamdulillah.... bilang terima kasih ke Mas Khalis, kemarin tetiba beli tiket ke Jakarta. Alhamdulillah dapat penerbangan sore, trus semalam yaa nginap di Menteng. Nah, nanti kita balik ke Jogja barengan. Uhuk uhuk bareng sama pengantin baru " canda Dona lagi.
" Al ikut?? " tanya Rahma.
" Ikutlah. Bayik ga mungkin ditinggal, pabrik susunya kan disini. Tuh lagi dikerubuti sama tetamu "
" Haadeee semuuut kaaliii yaa Mbaaaak "
" Yowes, diriku nunggu di luar yaa "
" Iya, Mbak. Makasih ya Mbak "
Dona pun kembali ke ruang keluarga .
Waktu telah menunjukkan pukul 09.45, rombongan keluarga Dimas telah datang dan segera dilaksanakan prosesi penyambutan calon mempelai pria.
Lik Rosyid, adik kandung ayah Rahma menyambut kedatangannya dan mengalungkan rangkaian bunga melati ke leher Dimas.
Setelah itu, Dimas berjalan menuju meja akad yang telah disiapkan di ruang keluarga.
Dimas tampak gugup, terlihat keringat mengalir di pelipisnya. Kegugupannya membuat ia tidak melihat kehadiran Khalis di antara tamu undangan.
Prosesi akad pun dimulai setelah rangkaian sambutan dari 2 belah pihak keluarga.
Penghulu yang ditunjuk adalah imam masjid komplek rumah orang tua Rahma, Ustadz Abdurrahman, meminta Dimas untuk menjabat tangan Lik Rosyid, wali nikah Rahma.
" Saya nikahkan dan kawinkan kamu, Dimas Nugroho bin Adi Santoso dengan keponakan saya, Rahma Adinda binti Ali Baharuddin dengan mas kawin cincin emas putih 24 karat dan berat 2,8 gram dibayar tunai "
" Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Adinda binti Ali Baharuddin dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai!! "
Dimas dengan lantang dan lancar dalam satu tarikan nafas, berhasil mengucapkan kalimat akad, yang membuatnya berganti status menjadi seorang suami dari seorang wanita bernama Rahma Adinda.
Seluruh keluarga dan tamu undangan mengucapkan hamdalah atas pernikahan Dimas dan Rahma.
Do'a dipanjatkan oleh penghulu untuk kelangsungan pernikahan keduanya.
Dengan diapit kedua kakaknya, Upi dan Bila, Rahma berjalan dengan anggun menuju meja akad nikah.
Senyum merekah dari keluarga dan tamu undangan menyambut pernikahan Rahma dan Dimas.
Sesampainya di meja akad, Dimas menyambut kedatangan Rahma dengan senyuman lembut.
Rahma tampak gugup, hingga ia tidak berani untuk menatap wajah Dimas, yang saat ini telah sah menjadi suaminya.
Keduanya kemudian bersalaman untuk yang pertama kalinya. Kejutan dilakukan oleh Dimas dengan mencium punggung tangan Rahma, setelah Rahma melakukan hal yang sama kepada Dimas.
Wajah Rahma pun bersemu merah, tangannya pun bergetar menahan gemuruh di dalam dadanya.
Penandatanganan surat nikah keduanya berlangsung lancar, hanya saja terdapat sedikit 'kecelakaan' di saat Rahma membubuhkan tanda tangannya.
Tangannya yang masih gemetar tetap harus menandatangani surat nikah, membuat tanda tangannya tidak berbentuk sebagai mana mestinya.
Melihat hasil tanda tangannya yang keriting, membuat Rahma menundukkan kepalanya lebih dalam karena menahan malu. Hal itu membuat Dimas menahan tawanya hingga membuat wajahnya memerah.
Momen tersebut dapat dirasakan oleh Dona, yang mengalami hal yang sama, yaitu tanda tangan keriting di surat nikah, membuat Dona tertawa kecil melihat mimik wajah Rahma setelah penandatanganan surat nikahnya.
Acara pun dilanjutkan kembali hingga tiba saatnya untuk mendatangi kedua orang tua mereka. Peluk dan cium diberikan kepada putra dan putri baru mereka. Tangis bahagia mengisi acara tersebut, tak terkecuali 2 kakak Rahma pun menitikkan air mata, menyaksikan adik bungsu mereka telah menikah.
Serangkaian acara pun telah dilaksanakan dengan lancar. Tibalah sesi foto pengantin yang ditunggu-tunggu.
Dengan segala kekikukannya, Rahma dan Dimas berusaha tampil tanpa memperlihatkan kekakuan yang terjadi diantara mereka berdua.
Tetapi hal itu malah membuat gaya mereka terlihat kikuk dan lucu, sehingga mengundang gelak tawa tamu undangan yang menyaksikan sesi foto tersebut.
Teriakan bersahutan memanasi kedua pengantin baru, membuat suasana semakin meriah.
Upi dan Bila pun ikut tertawa menyaksikan adik bungsu mereka.
Bila pun membantu mengarahkan gaya pada sesi pemotretan itu. Akhirnya setelah beberapa pose berdua, acara dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat dan makan siang.
Beberapa teman sekolah Rahma dan Dimas terlihat hadir diantara para tamu. Keseruan acara pun dimulai dengan pertemuan tersebut. Kawan lama yang lama tak bersua, menjadikan acara pernikahan Rahma dan Dimas bagaikan reuni dadakan.
Godaan dari teman-teman mereka pun mulai dilontarkan di saat sesi foto bersama. Menjadikan momen foto bersama tersebut penuh tawa.
Khalis berjalan mendekati kameramen acara,
" Mas, saya Khalis, kakak sepupu iparnya Rahma, boleh saya minta dokumentasi akadnya?? "
" Wah maaf Pak, kami tidak berhak memberikan kepada selain permintaan pengantin " tolak halus kameramen.
" Ooo gitu yaa. Maaf ya Mas "
Khalis kemudian berjalan menuju Dimas.
" Dim, saya minta dokumentasi ijab kabul kamu, tapi ga dikasih, kamu yang mintain untuk saya yaa "
" Buat apa Mas "
" Buat pengumuman, kalau kalian sudah sah, biar ga ada komen negatif nantinya "
" Ooo, Ok "
Dimas pun menemui kameramen acaranya untuk mengizinkan Khalis mendapatkan potongan dokumentasi ijab kabul yang baru ia laksanakan.
Setelah Khalis mendapatkan kiriman video yang ia minta, ia segera memasangnya di status jejaring sosialnya, dengan caption,
" Baarakallahu laka wa baaraka alaika wa jaamma bainakuma fii khair "
" Welcoming new family member of our huge big family "