Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 47 Berpisah



Beberapa pekan berlalu, usia kandungan Rahma telah memasuki bulan ke-empat, rasa mual yang sering dirasakan ketika pagi hari itu pun perlahan mulai menghilang dan nafsu makannya pun kembali normal.


Rahma pun akhirnya berhenti bekerja dan ia mengikuti saran Dona untuk memperdalam kemampuan menjahitnya serta mempelajari teknik dasar mendesain pakaian secara online.


Sesuai janji Dona, ia membelikan Rahma mesin jahit keluaran terbaru, yang dapat mengobras, neci dan bordir hanya dengan menggunakan 1 mesin. Mata Rahma pun berbinar bahagia, ketika ia membuka box mesin jahit dari Dona. Ia pun segera menghubungi Dona melalui panggilan video.


"Mbaaaak, makasiiiiiih banget!! I love you to the moon and back!! jangan dijawab capek, kurang kerjaan, ngapain ke bulan trus balik lagi!! I know you so well!!" ucap Rahma yang membuat Dona tertawa geli.


"You do know me so well, good lah. So now, it's time for you untuk berlatih skill menjahit, sebelum berani terima orderan. Just like yang terakhir kita bahas, tolong jahitin gamis untuk Icha yaa, modelnya yang A, dia suka roknya lebar, bahannya nanti aku kirim," pinta Dona.


"Nanti kalau sudah jadi, kita posting di medsos untuk iklan. So kamu nerima orderan jahitan, but sambil jalan juga untuk bikin baju untuk dijual di butik, yaaa sementara jualan online dulu, sampai nanti terkumpul modalnya," lanjut Dona memberikan saran.


Rahma pun mengikuti saran Dona, karena ia bertekad untuk dapat memiliki bisnis yang dapat ia kerjakan tanpa meninggalkan kewajibannya di dalam rumah. Untuk itu, ia mulai mengasah kemampuan menjahitnya dengan membuat beberapa jenis model pakaian, dari kain-kain yang dikirim oleh Dona.


Memasuki bulan ke-lima kehamilannya, ia harus rela berpisah dengan Dona, yang akan pindah mengikuti suaminya ke Doha, Qatar.


"Hiks kok pindah siii? ikuuuut," rengek Rahma.


"Mbaaak, aku ikut seneng, tapi aku jadi sendirian dong," lanjut Rahma.


"Ma, kamu kan dah ada Dimas, memangnya masih butuh aku??" tanya Dona.


"Ih, Mbaaak!! girls talk, Mbak!!!"


"Ntar aku VC aja, ya," jawab Dona.


"Beda atuuuuuh, Mbak!!!" protes Rahma.


"Laaa piye, aku kan harus ngikut suami. Manja ih, bawaan orok yaa. Eh kapan melahirkan??" tanya Dona.


"Oktober, nanti kirimin kado yak!" pinta Rahma.


"Hmmm sudah nodong kado aja!! tak patut!!" protes Dona.


"Hihihi biarin!! kado impor dari Timur Tengah nan mihil, siap menunggu!!"


"Ish ish ish.... kenapa aku punya adek sepupu gini amat yak!!??"


"Kalau nggak gini, nggak seru, Mbak," jawab Rahma.


"Oiya Mbak, liburan sekolah atau lebaran, mudik kan??" tanya Rahma.


"In syaaAllah, diusahakan pulang, mana yang lebih lama liburnya, biar ga rugi bandar," jawab Dona.


"Kudu Ma, ilmu kudu itu wajib digunakan selalu dalam setiap kesempatan," ucap Dona.


" Hmm, jadi besok jadwal pesawat jam berapa??" tanya Rahma.


"Jam 9 pagi, trus lusa pagi ke Bandung, sekitar jam 6, sorenya langsung balik ke Jakarta lagi, ga nginep," jawab Dona.


"Salam-salam aja ya, Mbak," pesan Rahma.


"Hoke!! lengkuas, sereh?? ga pakai??" canda Dona.


"Terseraaaaaah!!! sebel deh ih!!!" protes Rahma lagi yang diiringi derai tawa Dona.


"Hahaha.... biar tambah kangen, ga ada duplikat diriku ini kan ??!!" canda Dona lagi.


"Emang!!"


"I'm gonna miss you much, Mbak," lanjut Rahma sambil memeluk Dona.


"Me too. Nggak bakalan ada kedatangan tiba-tiba minta lauk atau galaunya hanya masalah milih baju. Adekku satu ini, memang cewek asli!!" canda Dona sambil melepaskan pelukannya dan mencium pipi Rahma.


"Memangnya Mbak Dona nggak asli?" balas Rahma yang mendapatkan lirikan tajam dari sang kakak sepupu ipar.


"Kalau nggak asli, nggak mungkin anaknya sampai 4, Ma," sahut Khalis.


"Lagian kalau nggak asli, mana mungkin aku nikahin. Betul bukan, begitu?" tambah Khalis.


"Begitu!" sahut Dona sambil mengajak suaminya bersalaman.


"Pasangan yang aneh. Mimpi apa sih, sampai bisa punya pasangan yang sama-sama error!! kalian berdua memang nggak ada obatnya!" ucap Rahma yang gemas melihat tingkah Dona dan Khalis jika sedang bersama.


"Mimpi apa ya, Mas? Hmmm emangnya Mas mimpiin aku? GR dong aku," balas Dona yang diikuti oleh tawa Khalis dan Dimas.


"Sudah, kasian Rahmanya jangan digodain terus. Oiya Dim, saya titip bengkelnya yaa. Laporan tiap bulan jangan lupa, kirim ke e-mail," pesan Khalis.


"Oiya, satu lagi, semoga nanti kamu cocok sama Manajer yang baru," ucap Khalis.


"Manajernya orang mana sih, Mas?" tanya Dimas.


"Orang Bandung, sedikit lebih tua dari saya. Saya nggak kenal dekat, tapi beberapa kali sempat ketemu kalau ada rapat di pusat. He's nice, kali ini kamu akan dapat Bos yang melted, nggak kulkas," canda Khalis sambil mengingat kenangan panggilan Pak Bos Kulkas yang ditujukan untuk dirinya ketika diawal masuk sebagai manajer.


"Semoga lebih bersahabat dari Mas Khalis," sindir Dimas.