Suddenly In Love

Suddenly In Love
Episode 15 Malam yang Menegangkan



Sore hari di waktu pulang kantor,


" Ma, sekalian pulang?? " tanya Khalis.


" Iya, nebeng ya Mas "


Sesampainya di rumah,


" Assalamu'alaikum " salam Rahma.


" Wa'alaikumsalam " jawab Dona.


" Mbak, aku langsung naik yaa "


" Sok lah "


Rahma menuju ke kamar lama Dona di lantai atas.


Ia pun menyalakan kipas angin lalu membuka jilbabnya.


" Ya Allah geraaaaah banget!! aku mandi aja lah"


Zalfa yang sedang bermain kemudian berlari masuk ke dalam kamar, mendengar tante favoritnya datang.


" Tante Rahma nginap kan?? "


" Iya Sayang, malam ini tante nginap disini "


" Asyiiiiikk "


" Tante mandi dulu yaa. Zalfa sudah mandi?? "


" Belum, gantian yaa Tan!! "


" Oke!! "


Setelah mandi, Rahma beristirahat di dalam kamar, ia pun tertidur sampai menjelang maghrib.


Selepas Isya, Dimas telah berbusana rapi untuk menghadiri undangan makan malam di rumah atasannya, Khalis.


Ia sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi bombardir dari pasangan suami istri tersebut, tentang dirinya menikahi Rahma.


" Bismillah!! "


Ia pun bergerak menuju rumah Khalis dengan mengendarai motor maticnya.


Di kediaman Khalis, Rahma berkumpul bersama keluarga Dona menikmati hidangan rumahan yang sering dirindukan oleh Rahma selama berada di kostan.


" Mbak, ayam goreng rempahnya ini memang the best!! pantesan jadi kembang setiap acara "


" Ih ngeri, ayamnya berubah jadi kembang kalau ada acara!!!??? Waaah dia pakai ilmu apa yaa?? Coba Ma, kamu tanyain!!"


" Maass!!! Ada yang kambuh!!! " teriak Rahma.


" Biarin, tandanya sehat " jawab Khalis santai.


" Ish, pasangan kompak bener!! "


Bel rumah pun berbunyi.


" Saya saja yang bukain pintunya " ucap Khalis sembari berjalan menuju ruang tamu.


Khalis kemudian membuka pintu rumah.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam. Masuk, kita makan malam dulu "


" Pak, ga usah deh, langsung aja "


" Ga, kita makan malam bareng dulu, sudah ditunggu di dalam, ayo!! "


Dengan setengah hati, Dimas mengikuti Khalis ke ruang makan.


Dilihatnya kedua orang tua Dona sedang makan malam bersama anggota keluarga yang lainnya.


" Assalamu'alaikum " salam Dimas.


" Wa'alaikumsalam. Ayo, silahkan makan dulu. Maaf saya duluan " ajak Ayah Dona.


" Iya, Pak. Terima kasih "


Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan malam, di ruang keluarga.


" Jadi ada apa Dimas kesini malam-malam?? " tanya ayah Dona.


" Mau saya jodohin sama Rahma, ini pertemuan yang ketiga dan masih belum ada jawaban jelas dari mereka berdua " jawab Khalis.


Dimas dan Rahma hanya pasrah mendengar kejujuran atasannya itu.


" Alhamdulillah, Ma!! buruan diiyain " ibu Dona menyetujui.


" Yaaa Budeee, ga gituuuu " protes Rahma.


" Lho kenapa?? Dimas ganteng juga, asistennya Khalis, trus... Bude ga tahu lagi, tapi nunggu apa?? usia Dimas berapa?? "


" 29 Bude " jawab Dimas.


" Nah kan, sudah pinter manggilnya, Bude "


" Ya Allah, ini gimana ceritanya, aku ditembak sekeluarga??!! " protes Rahma.


" Welcome Ma, kemarin aku pun begitu!! now you know how it feels "


" Ga enak ya mbak, kirain bakalan sparkling-sparkling apalah gitu, ternyata ga yaa??!! "


" Itu di komik, Ma. Aslinya ga kan?? "


" Iya, ga!! "


" Trus kenapa malah ngobrol berdua?? Dona bukannya ngebantuin malah ikutan Rahma " tegur ibunya.


" Eh iya, lupa. Nah, gimana Ma!! udah iyain aja"


" Wait!! Iyain apa?? Dimas kan belum ngelamar Rahma!! " ucap Khalis yang menyadarkan semuanya.


" Ooo iya, Dimas kamu kenapa diam aja sih!! " protes Dona.


" Laaa, dari tadi saya ga ditanya, yaa saya mau ngomong apa?? "


" Dim, gimana kalau kamu nikah sama Rahma?? saya ga mau ngulang berkali-kali lagi. Yes or no??!! " tanya Khalis sedikit kesal.


" Yes, I will " jawab Dimas tegas.


Rahma membelalakkan matanya,


" Serius Baaaang??? "


" Mbak!!! bantuin!!! " pinta Rahma ke Dona.


" Oooh, bantuin ya, baiklah. Dim, kapan rencana akadnya?? "


" Mbaaaaakkk!! ga gitu!!!! " protes Rahma.


" Laaa terus, gimana?? udah ah ribet. Ma, suka ga sama Dimas?? kepo kah dirimu akan dirinya?? "


" Mbak Donaaaa!!! you're not helping!!! "


" Ma, aku adalah bagian dari tim perjodohan ini. Dah lah Ma, nyari yang gimana sih?? Dimas ga bakalan macem-macem sama kamu. Kalau dia berani!! dia harus berhadapan sama aku dan mas Khalis!! kalau kata yang lagi viral tuh, panik ga !! panik ga!! yaa panik lah masa' ga!! yakin deh dia akan menjadi your dream husband!! "


" Mbaaaaaak!!!! "


" Apa sih teriak, aku disini kok!! "


" Ibu Dona Qanita, boleh saya minta waktunya sebentar?? "


" Owh, boleh Bapak Khalis Ghiban "


Khalis mengajak Dona ke teras belakang.


" Ada apakah?? "


" I don't think it's gonna work if you push her "


" Hmm iya sih, I'll talk to her privately then "


" That'll be better "


Keduanya pun kembali masuk ke ruang keluarga.


" Ma, bentar "


Dona mengajak Rahma ke teras belakang.


" Duduk sini dulu, pasti sumpek rasanya di dalam "


" Baaangeeeettt!!! Mbaaaaaak!!! "


" Apa sih Ma "


" Itu Bang Dimas serius?? "


" In syaa Allah dia serius, ga boleh bercanda dalam urusan seperti ini. Mas Khalis sempet bicara ke aku, dia bilang kalau Dimas sebetulnya beberapa bulan terakhir ini mulai merhatiin kamu, yaa setelah aku 'todong' kalian berdua. Jadi yaa dia sudah mulai 'berfeeling' ria ke kamu "


" Mbak, berfeeling ria yaa. Haadeee Mbaaak, aku tuh pingin buka kepala Mbak, trus ku lihat itu isi otaknya ada apa??!! "


" Waaah, apakah belah lah dadaku berubah menjadi belah lah otak ku?? kamu bagaikan dokter bedah syaraf yang mengulik isi otakku!! "


" Yowes back to lamaran, piye Ma?? wis lah mbok ya diiyain ngono lho, ndang beres. Aku yo seneng ne' koe nikah karo Dimas. Iki mengko judule dhadhi ' ketika atasan menjadi kakak sepupu ipar, ketika rekan kerja menjadi suami, disitu pertemuan keluarga rasa rapat di kantor "


" Aaaaa mbaaaaak!!! mboh lah!! "


" Dah gini deh, aku kasih kamu waktu 10 menit, untuk mempertimbangkan masalah kamu dan Dimas. Kalau sudah, langsung masuk. Kutunggu "


" Iya Mbak "


" Kalau bingung, sudah telpon ibu?? Ufi sama Bila?? "


" Belum Mbak, aku belum telpon ibu sama Mbak Ufi atau Mbak Bila "


" Coba lah kamu telpon, siapa tahu ada pencerahan dari kakak-kakakmu "


" Hmmm ntar ku pasang lampu biar cerah "


" Nah, pinter!! yowes buruan. Ta' tunggu di dalam "


Dona membiarkan Rahma menyendiri untuk memikirkan keputusan yang akan dibuatnya nanti.


" Gimana?? " tanya Khalis.


" Biar dia mikir sendiri dulu, aku kasih waktu 10 menit "


Di teras belakang, Rahma menghubungi kakak pertamanya, Ufi yang tinggal di Jakarta.


" Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumsalam "


" Ada apa Ma?? kamu sehat?? "


" Alhamdulillah Mbak "


" Ada apa?? kok suaramu kedengarannya ga enak "


" Mbaaaak, mbak Dona kekeuh ngejodohin aku sama Bang Dimas, malam ini aku harus buat keputusan, sekarang kita lagi ngumpul di rumah Pakde "


" Ooo Bang Dimas yang asisten itu?? Trus masalahmu apa?? "


" Yaaa aku bingung mau jawab apa. Kok rasanya aku belum siap untuk nikah "


" Ma, kalau dari cerita-ceritamu, mbak Ufi membaca kalau kamu tuh sebetulnya suka sama Dimas, apalagi kalian juga satu kantor, otomatis sering ketemu. Yowis tho, dihalalkan saja kan enak "


" Tapi mbak, aku belum siap untuk jadi istri, duh aku masih ngaco untuk urusan dapur, masih suka asal-asalan "


" Ma, no body's perfect, ga ada orang yang benar-benar siap 100% untuk memulai hidup baru, we all learning by doing, jalanin aja. Kesalahan di awal menikah itu bumbu pemanis yang akan menjadi pengikat rasa cinta kalian. Sekarang mungkin belum tumbuh rasa cinta, baru sekedar kagum ataupun rasa suka, but it'll grow. Mbak tahu kamu suka sama Bang Dimas, tapi kamu hanya ga yakin sama diri kamu sendiri. PD aja Ma, GR lah. Ternyata Bang Dimas juga suka, bahkan mau melamar, berarti kamu high quality woman "


Rahma tertawa mendengar nasihat kakak pertamanya itu.


" Makasih Mbak. Mbak Dona memang benar menyuruh aku nelpon mbak Ufi "


" Yowes Mbak, makasih yaa salam buat ibu. Assalamu'alaikum "


Dari dalam rumah, terdengar suara Khalis yang cukup keras.


" Bawa ke mobil, Ayah sama ibu ke rumah sakit sekarang "


Dona yang sedang mengandung merasakan kontraksi hebat, sehingga ia pun segera dilarikan ke RS.


Rahma yang mendengar dari belakang, segera masuk.


" Mas, aku ikut!!! " ucap Rahma yang segera membantu Dona berjalan.


" Ma, tolong yaa " pinta ibu Dona.


" Iya Bude "


Dimas pun segera beranjak,


" Pak, saya yang nyetir, Bapak temenin Ibu aja"


" Makasih, ayo segera ke UGD JIH ya "