
Semilir angin menembus kulit, membekukan aliran darah dalam tubuh. Warna merah alami pada dua belah bibir berganti biru kehitaman. Tampak gemetar karena sekujur tubuh menggigil kedinginan.
Tubuh kecil itu semakin meringkuk mencari kehangatan yang ditepis udara. Tangannya meraba mencari selimut, tapi tak kunjung menjeremba. Entah ke mana benda tipis itu di saat genting seperti ini?
Suara kokok ayam bersahut-sahutan menjadi pertanda waktu akan berganti. Seorang laki-laki tua dengan sebuah sarung yang dikalungkan di leher berjalan mengelilingi asrama. Rutin dilakukannya untuk mengawasi keadaan tempat itu.
Kulit dahinya yang keriput membentuk lipatan di antara kedua ujung alis dikala mata rabunnya menangkap sesosok aneh di bawah pohon beringin tua. Kaki tua itu semakin cepat mengayun mendekati sosok asing yang meringkuk di bawah dekapan dua akar beringin yang besar.
"Astaghfirullah! Siapa ini yang tidur di sini? Maa syaa Allah!" pekiknya terkejut.
Dia hampiri gadis itu, menelisik wajah baru yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Ia berjongkok di bawah kaki, memperhatikan tubuh kurus berbalut piyama merah muda itu.
"Neng, bangun! Neng kenapa tidur di sini?" gugahnya tanpa berani menyentuh bagian mana pun dari tubuh anak itu.
Tak ada respon, tubuh yang menggigil itu nampak lelap terlena dalam buai alam mimpi yang hanya dia sendiri saja yang tahu.
"Neng, bangun! Bangun, Neng!" Ia kembali membangunkan anak itu masih belum berani untuk mengguncang tubuhnya.
Bingung sekaligus cemas, laki-laki tua itu berpikir mencari cara bagaimana untuk membangunkan murid tersebut.
"Duh, Gusti! Hampura dosa jalmi hina ieu anu teu daya teu upaya (Ya, Tuhan! Ampuni dosa orang lemah ini yang tak memiliki daya dan upaya). Bismillaahirrahmaanirrahiim ...." Tangannya yang gemetar menyentuh lengan gadis itu, mengguncangnya dengan pelan.
"Neng, bangun! Udah mau subuh. Bangun, Neng!" Suaranya dipertegas untuk membuatnya cepat terbangun.
Alea melenguh, tubuhnya menggeliat aneh terdengar bunyi otot dan sendi-sendi yang kaku dikendurkan. Membuat bulu tengkuk si Kakek tua meremang. Ia mundur sambil berdiri, sedikit menjauh tatkala Alea beranjak duduk sambil membentang tangan lebar-lebar. Mulutnya tertarik ke atas dan ke bawah, mengeluarkan suara cukup mengganggu ketika menguap. Itu bukan diri Alea yang sebenarnya.
"Neng!" tegur laki-laki tua tadi mencondongkan tubuh melihat wajah Alea.
Kelopak mata remaja itu terpejam, beberapa saat tak ada yang dia lakukan selain duduk dengan kepala tertunduk sehingga rambut sebahunya menjuntai ke depan menutupi kepala.
Kayaknya ada jin yang menguasai jiwa anak ini. Kalo gak, gak mungkin tubuh saya merinding kaya sekarang ini. Ya Allah, bantulah hamba yang lemah ini!
Bibirnya komat-kamit membaca sesuatu, entah apa yang dibacanya. Kedua tangan menengadah ke atas selayaknya orang berdoa. Ia menyudahi bacaannya, beranjak mendekat dan menekan tengkuk Alea.
"Saha bae nu aya dina sukma ieu budak, kaluar! Kaluar, tong ngaganggu ieu budak. Balik! Balik ka asal maneh, sukma ieu lain boga maneh! (Siapa saja yang mengganggu sukma anak ini, keluar! Keluar, jangan mengganggu jiwanya. Pulang! Pulang ke tempat asalmu, sukma ini bukan milikku!) Bismillaahi allaahu Akbar!"
Ia menggerakkan tangan seolah-olah mencabut sesuatu. Alea menggelepar, kepalanya menengadah. Sosok yang mendiami jiwanya melawan tak ingin keluar. Terjadi tarik ulur antara laki-laki tua itu dengan jin yang bersemayam dalam tubuh Alea.
"Lawan, Neng! Jangan mau kalah sama makhluk lemah ini!"
Bibir Alea berdesis, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang tercekik. Tubuh Alea mengejang dalam posisi duduk. Kakinya tak henti menendang-nendang udara. Peluh membanjiri tubuh keduanya, tapi laki-laki tua itu tetap meneruskan apa yang sudah dia mulai.
Tangannya terus mengudara menarik sesuatu yang tak kasat mata. Dia membuang makhluk gaib itu ke langit, gumpalan asap hitam memekik samar. Tubuh Alea ambruk di tanah, tak berapa lama ia terbangun.
"Alhamdulillah, wa syukrulillaah!" Ia mengusap wajah sekaligus menyusut keringat menggunakan sarungnya.
"Eh? Kenapa aku ada di sini?" Alea menatap sekeliling, keadaan langit masih remang-remang subuh. Sang fajar di ufuk timur sana bahkan belum menunjukkan dirinya.
"Neng, gak apa-apa?"
"Si-siapa ... ka-kamu?" tanya Alea terbata.
Kedua maniknya memancarkan ketakutan yang kentara, tubuhnya tegang waspada. Namun, laki-laki tua tersenyum ramah padanya, Alea tidak melihatnya seperti orang jahat.
"Saya Selamet, saya cuma tukang bersih-bersih di asrama ini. Saya gak sengaja lihat Neng tidur di bawah pohon ini, terus saya bangunin karena Neng kaya kedinginan," jawabnya dengan nada lemah lembut dan terdengar ramah.
Merasa tak ada ancaman yang berbahaya, Alea menurunkan kewaspadaan. Ia beranjak dari atas tanah, menepuk-nepuk piyamanya yang kotor sambil menatap sekeliling.
"Aku gak tahu, Pak. Seingatku, aku tidur di kamar, tapi kenapa bisa ada di sini?" Alea nampak bingung.
Apakah dia mengalami gangguan somnabulisme atau keadaan di mana dia berjalan sambil tertidur? Entahlah, Alea sendiri sulit mencernanya.
"Mungkin Neng berjalan sambil tidur. Itu emang biasa dan ada banyak orang yang juga ngalamin," ucap laki-laki tua yang mengaku bernama Selamet itu.
Alea berpikir, membandingkan dirinya ketika masih berada di rumah. Tak sekalipun ia mengalami gangguan dalam tidur. Ini untuk pertama kalinya ia alami.
"Iya, mungkin Bapak bener. Kalo gitu makasih udah Bapak bangunin, aku mau ke kamar lagi," pamitnya kikuk.
Pak Selamet menganggukkan kepala sambil tersenyum, ia masih berdiri di sana memperhatikan punggung Alea yang menjauh. Melihat wajahnya saja, pak Selamet sudah dapat menebak seperti apa keadaan jiwa remaja itu. Sangat rapuh sehingga menarik makhluk yang bernama jin untuk mendiami tubuhnya.
"Kasihan kamu, Neng. Masih muda udah banyak beban pikiran. Semoga Allah memberi kamu kekuatan," gumamnya sambil menatap iba sosok yang mulai menghilang di pintu asrama. Ia berbalik melanjutkan kegiatan kelilingnya.
Sementara di dalam kamar, Firda menggeliat. Tangannya menepuk-nepuk tempat Alea, tetapi kosong. Ia membuka mata, tak ada gadis itu di sana. Sontak Firda bangun membuka selimut dengan cepat. Ia membangunkan Sofi dan Lina untuk membantunya mencari Alea.
"Sofi, Lina, bangun! Lea hilang!"
Suaranya yang setengah berbisik cukup mengusik ketenangan dua remaja itu. Mereka terbangun, mengucek mata sambil menguap. Melihat wajah Firda yang panik.
"Kenapa, sih, Fir? Ini, 'kan, belum pagi."
Sofi menjatuhkan dirinya lagi pada kasur, malas untuk bangun lebih awal.
"Lea hilang! Dia gak ada di kamar, kita harus cari Lea!" pekik Firda.
"Mungkin dia di kamar mandi, Fir. Udahlah, kamu parnoan tahu gak? Nanti juga Lea balik lagi ke kamar. Aku masih ngantuk," ucap Lina seraya menarik selimut lagi berbaring bersama Sofi.
Firda gelisah, ia menggigiti kukunya berpikir.
"Duh, gimana ini? Apa aku cari sendiri aja, ya? Tapi ke mana?" gumamnya cemas. Firda menyambar kerudung instannya, memakainya sambil berjalan ke arah pintu, bertekad untuk mencari Alea sendirian.
Namun, langkahnya terhenti, suara langkah di luar asrama terdengar nyaring dan berat. Dibarengi dengan suara sesuatu yang terseret, cukup membuat tubuh Firda merinding. Ia perlahan menjauh, berdiri di antara dua ranjang dalam kamarnya. Firda meneguk ludah takut saat suara-suara itu hilang di depan pintu kamar. Lalu ....
Brak!
Angin berhembus kencang tatkala pintu itu terbuka.