Rasuk

Rasuk
Pertengkaran



Setelah sarapan semuanya terdiam, masing-masing berat hati untuk membuka suara. Livia menatap teman-temannya, tapi lidahnya kembali kelu jika ingin bercerita. Akhirnya mereka masih terjebak dalam keterdiaman.


"Eh, gue mau balik duluan ya? Gue tidak enakan disini." Clara menatap teman-temannya yang terdiam, gadis itu menguatkan hatinya jika seandainya teman-temannya tidak setuju jika dia pulang, jika seandainya dikatakan tidak punya solidaritas.


"Gue ikut." Semua menatap Livia aneh, gadis itu yang dulu menggebu-gebu untuk liburan disini dan membujuk mereka semua kini malah menyuarakan ingin pulang. Keheningan kembali menghampiri mereka.


"Kalian itu apa-apaan? Childish benget tahu. Kita sudah sampai di tempat ini, sudah punya rencana matang. Sudah dapat izin, kok kalian malah mau pulang?" Reisha menatap mereka semua tajam. Sayangnya hanya keheningan yang terjadi, tidak ada yang menyahuti ucapan gadis itu.


"Nyesal aku ikut kesini, aku bela-belain buat kalian. Orang tua aku, ngajak aku ke Singapore tapi demi kalian aku tidak ikut mereka. Hey lihat aku? Apa maksud kalian?" Reisha mengelilingi dan menatap tajam teman-temannya.


"Gue bertanya, gue butuh tanggapan. Kalian tidak mendadak budek dan bisu kan?" Masih tidak ada sahutan, Reisha mulai menatap Ngalang teman-temannya. Joshu dan Arga hanya berpandangan saling menatap dalam diam. Clara juga diam, dan hanya melirik teman-temannya.


"Maaf Reisha, gue kelihatannya egois tapi gue serius ini demi kebaikan kita semua." Livia kembali mengatupkan bibir.


"Kebaikan kita semua? Kebaikan macam apa yang lo maksud? Lo pikir dong, hey gue mau liburan bukan mau menikmati drama konyol seperti ini. Lo semua paham gak?" Reisha mengambil kayu yang menjadi tiang bunga. Reisha menghentak-hentakan kayu itu dilantai. Semuanya kembali diam, Livia menggenggam tangan Joshua membuat Joshua menatap ke arahnya. Tolong jawab, itu yang Joshua bisa baca dari mata Livia.


"Paham, tapi hati kecil kami mau pulang jadi kami ingin pulang." Joshua menatap Reisha sekilas kemudian kembali menunduk.


"Pulang, sana pulang. Kalau gitu gue yang disini. Cukup tahu aja gue." Reisha berlari dan membanting kayu yang tadi dipegangnya.


"Tiiinggghhhhhhhhhh" Kayu itu berbunyi dilantai yang membuat semuanya saling menatap satu sama lain.


Ada apa dengan Reisha? Semuanya hanya bertanya dalam tatapan. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, menimbang-nimbang. Clara menatap mereka perlahan-lahan, dan menelan ludahnya kemudian memberanikan diri menatap mereka.


"Kalian sendiri bagaimana? Mau memilih disini atau pergi pulang ke kota.?" Mereka semua bertatapan, belum memberikan jawaban. Satu sisi hatimu menyuruhmu pulang tetapi disisi yang lain sahabat dekatmu tidak ingin pulang. Ego dan solidaritas menjadi taruhannya.


"Aku fix mau pulang, serah kalau kalian mau benci aku. Serah kalau kalian tidak menganggap aku teman. AKU MAU PULANG!!! Kemudian terdengar memilukan dari Livia.


Arga dan Joshua berpandangan sedetik kemudian menoleh pada Clara.


"Kita juga berdua mau pulang Clar, mungkin tempat ini bukan tempat yang cocok untuk kita." Clara mengangguk.


"Kalau seperti itu ambil semua barang-barang kalian, kita harus segera pergi." Joshua dan Arga terbelalak, secepat itu Clara mengambil keputusan?


" Lo yakin clar? Bagaimana dengan Reisha?" Clara terdiam, kemudian mengangkat kepalanya melihat mereka.


"Biar aku yang bujuk, tapi jika dia masih dengan keputusannya kita tetap harus pergi. Walau egois, ini tentang nyawa karena nyawa tidak dijual di toko ataupun online shop" Clara tersenyum kecil. Arga dan Joshua saling menatap kemudian berlari ke kamarnya untuk mengepak pakaian mereka.


Clara menghampiri Livia yang terduduk di lantai sambil meraung sedih. Clara memeluk temannya itu dan membawanya dalam pelukannya. Tangan Clara mengelus-elus rambut sahabatnya itu.


"Ini bukan salah lo, kan lo juga tidak tahu seperti apa situasi disini. Kita kan sama-sama baru datang di tempat ini. Lo tidak perlu nangis, kita bujuk Reisha biar pulang ya. Kamu juga harus siap-siap, kita tetap balik sekarang." Livia mengangguk, kemudian mulai menatap Clara.


"Clara makasih ya, lo sahabat terbaik yang gue punya." Clara mengangguk, Clara dan Livia memang bersahabat sejak TK jadi mereka sebenarnya yang paling lama saling mengenal.


"Lo juga sahabat terbaik gue." Clara tersenyum kemudian melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya membantu Livia berdiri.


Livia dan Clara memasuki kamar, Reisha terlihat duduk tanpa menggubris mereka berdua. Livia berdehem pelan dan mulai memasukan barang-barangnya.


"Reisha, gue minta maaf gara-gara gue lo tidak ikut orang tua lo. Tapi sekarang gue harus balik, lo ikut ya? Biar kita cari tempat liburan yang lain untuk menggantikan tempat ini. Reisha masih tidak menggubris, gadis itu malah mengutak-atik ponselnya. Clara menarik napas melihat tingkah Reisha yang seperti itu.


"Rei, kalau lo marah sama kita gak papa, tapi gue serius kita harus cepat pergi dari sini. Yuk, bajumu dirapihin!." Reisha masih tidak bergeming.


"Rei, aku minta maaf ya." Livia berjalan dan duduk di depan gadis itu. Reisha memalingkan wajahnya dan menatap Livia dan Clara.


"Lo semua aneh banget, tidak ada angin tidak ada hujan minta pulang? Coba Lo jelasin alasannya ke gue?" Reisha kembali menatap mereka berkilat-kilat. Livia dan Clara menunduk, tidak mempu menjelaskannya. Masa iya Reisha akan langsung percaya jika dia ingin pulang karena anak kecil itu menyuruhnya agar jangan datang di tempat ini. Pasti gadis itu akan menertawakannya, setelah Joshua sahabat mereka yang rasional adalah Reisha. Livia menekan ludah memikirkan jawaban yang tepat karena tidak mungkin dirinya akan mengatakan alasannya ingin pulang adalah karena semalam dia mimpi yang rasanya seperti kenyataan. Reisha pasti akan menertawakannya karena itu hanya mimpi buruk.


"Gini Rei, gue harus pulang karena semalam gue dapat SMS kak Galih akan pulang ke Indonesia." Clara menggigit bibirnya setelah menjelaskannya. Reisha tersenyum sinis.


"Lo nggak masuk akal banget alasannya, sejak kemarin disini tidak ada jaringan, benarkan Liv." Livia mengangguk pelan, Clara menahan napas. Reisha tertawa terbahak-bahak dan sesekali bertepuk tangan.


"Gue tidak menyuruh lo mengungkapkan alasan Liv, silahkan kalian pulang aku liburan disini saja." Livia dan Clara bertatapan.


"Lo jaga diri baik-baik, karena kita juga tidak bisa memaksa lo untuk pulang. Lo punya kemerdekaan untuk tetap disini itu hak Lo." Reisha mengangguk dan memeluk Clara dan Livia.


"Hati-hati ya lo berdua di jalan!" Clara dan Livia mengangguk, mereka bertiga kembali berpelukan sebelum akhirnya mengangkat ransel masing-masing. Reisha menatap kepergian sahabat-sahabatnya dengan pandangan kosong.


"Reisha benaran tidak mau pulang?" Joshua menatap mereka heran, karena tidak melihat kedatangan Reisha. Clara dan Livia menggeleng lesu.


"Kita harus bujuk dia, masa seperti ini sih? Kita kan datangnya bareng-bareng." Joshua terlihat panik.


"Kita berdua yang naik bujuk ya. Kalian berdua tunggu disini!" Clara mengangguk begitupun Livia. Clara dan Livia kembali tenggelam dalam pikiran mereka. Mereka kaget ketika Joshua dan Arga turun dengan kecewa.


"Nggak berhasil juga?" Mereka menggeleng lesu. Mereka berempat melangkah keluar dari rumah itu. Clara merasakan ada yang memerhatikan mereka, gadis itu tersenyum lega jika yang mengamati mereka adalah seorang ibu yang kemudian segera pergi.


Mungkin ibu itu kaget melihat mereka baru keluar dari rumah yang menurut rumornya berhantu.


"Yeeiij sinyalnya, ada sinyal." Livia berteriak kesenangan. Clara dan Joshua buru-buru mengeluarkan handphone mereka. Semuanya tersenyum senang.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa gue kabarin Keyla sekarang." Livia tersenyum dan mengetikan sesuatu segera dikirimkan pada Keyla. Arga tersenyum melihat teman-temannya kembali ceria.


"Dus" Mobil tiba-tiba berhenti. Semuanya menjadi panik. Arga keluar dan memeriksa mobil, pria itu mendengus kesal dan menendang ban mobil itu.


"Sorry, mobil gue kempes. Mungkin kita batal pulang hari ini." Semuanya menjadi tegang dan takut seketika.


"Kita cari bantuan dulu deh, siapa tahu ada yang lewat." Clara mendesah frustrasi.


"Kita ke pak RT dulu gimana? Mungkin beliau bisa membantu kita?" Livia memberikan cadangan.


"Boleh juga, yuk turun kita kesana. Untuk sementara mobil ini gue kunci disini saja." Mereka mengambil tas dan mulai berjalan.


"Untung kita belum jauh dengan perkampungan, kalau tidak kita bisa ******." Livia menghembuskan napas lega.


"Benar banget, apapun yang terjadi kita jangan balik lagi ya ke rumah itu. Kalian gimana pendapatnya?" Semuanya mengangguk.


"Iya, pokoknya kita harus hati-hati." Mereka mengangguk.


"Bagaimana dengan Reisha?" Arga jadi kepikiran Reisha.


"Kan bisa kita ajak ikut kita." Livia tersenyum cerah.


Mereka berjalan dengan santainya dan melemparkan senyum ramah ketika melewati warga-warga yang sedang beraktivitas.


Seorang warga menghentikan mereka dengan mengajak mereka mampir. Joshua dan teman-temannya saling menatap kemudian mengangguk, memutuskan untuk mampir. Kakek itu terlihat menikmati kopinya dibawah sinar matahari pagi dan tersenyum melihat mereka yang menghampirinya.


"Anak-anak dari mana? Wajah-wajah yang baru pertama Abah lihat." Livia dan kawan-kawannya tersenyum kecil kemudian mengangguk.


"Dari kota kami kesini mau liburan, tapi mau balik ban mobil kami kempes, kek." Abah tersenyum dan kembali menyesap kopinya.


"Panggil aku Abah, seperti orang-orang kampung sini memanggilku. Kalian usahakan pergi dari kampung ini karena disini kalian hanya diincar orang jahat." Abah terlihat menerawang kemudian tertunduk sedih.


" Abah sudah kehilangan semua keluarga Abah karena orang itu, tapi tidak ada yang percaya jika orang itu jahat." Abah kemudian mengelap air matanya. Livia tertegun melihatnya, gadis itu memberikan tisunya.


"Mungkin kalian pun tidak akan percaya, karena orang dikampung ini menganggap kakek gila." Clara terkesiap, semoga Abah tidak benaran gila.


"Kalian menjadi target orang yang berbahaya, kalian pulang saja ke kota. Walaupun nanti perjalanan kalian sulit, atau mungkin tidak bisa pulang ke kota waspadalah. Orang jahat itu dekat dengan kalian, yang harus kalian ingat jangan pernah berpisah. Karena mungkin kalian lah yang bisa membongkar kedok orang itu." Abah kembali menyesap kopinya. Clara memberanikan diri menatap kakek itu.


"Siapa orang jahat itu kek?" Sang kakek menegang, kemudian tersenyum sayu.


"Kalian sudah melihatnya nak, itulah orang yang jahat itu." Arga dan Joshua kembali berpandangan.


"Apa cuma kakek yang tahu orangnya?" Abah mengangguk sedih mengiyakan.


"Cuma Abah, karena orangnya cerdas." Mereka tertegun.


"Kenapa kakek memberitahu kami tidak memberi tahu orang lain juga?" Abah kambali sedih.


"Tidak ada yang benar-benar percaya Abah, mungkin kalian pun tidak akan percaya." Mereka berempat terdiam tidak mengiyakan ataupun menggeleng.


"Jangan kembali ke rumah Oma Darti, karena disamakan petaka kalian dimulai. Jika kalian tidak punya tempat datanglah ke rumah kakek." Mereka mengangguk. Clara dan Livia menurunkan ransel mencari kue-kue yang mereka bawa dari kota.


"Semoga bisa menemani minum kopi, Abah." Abah tersenyum malu.


"Maaf tidak menjamu kalian." Livia dan Clara menggeleng mengatakan jika mereka memaklumi keadaan si Abah.


"Jangan beritahu siapapun jika aku memberi tahu kalian rahasia ini, sahabat dekat kalian pun." Mereka mengangguk dan berjanji untuk tidak membocorkannya.


"Kami permisi dulu, Abah." Abah tersenyum mengangguk, berpesan pada mereka agar mereka selalu hati-hati. Mereka berempat mengangguk.


Sepanjang jalan semuanya kembali diam, tidak membicarakan apapun lagi. Mereka memproses semuanya. Jika benar mereka diincar, semoga mereka masih bisa pergi dalam keadaan hidup bisik mereka masing-masing.


Bunyi gagak yang bernyanyi membuat mereka berempat merinding saling menatap kemudian berusaha mempercepat langkah mereka, di film horor bunyi gagak menandakan adanya kematian. Maka siapakah diantara mereka berempat yang mati?


***********


Semoga Happy setelah membaca ini, jangan lupa like, vote dan komentar 🤗 dukung terus karya ini biar aku jadi berani untuk melanjutkannya.😎😎


Pantau setiap malam Jumat ya, aku pikir kalau update malam Jumat lebih dapat feel-nya🤭


Semangat terus ya, jangan lupa jaga kesehatan 😇