Rasuk

Rasuk
Kedatangan Keyla



Keyla menghela napas, gadis itu masuk ke rumah omanya. Rasanya kaki Keyla ingin berbalik memutar Arah, hawa disekitarnya berubah menjadi dingin. Gadis itu meraba tengkuknya, mengabaikan perasaan tidak enak dan ingin kaburnya, Keyla dengan was-was mendorong pintu. Huh, ternyata tidak terkunci. Keyla mengelah peluh yang ada di dahinya, gadis itu masuk dan mendongakkan kepalanya.


"Eh, lo sendiri?" Keyla kaget melihat Reisha yang menikmati semangka sendirian, tidak ada ketakutan yang tergambar diwajah gadis itu.


"Eh, ngapain lo nyusul?" Keyla mengerutkan alis, bukannya harusnya Reisha senang dia nyusul. Keyla menghela napas, mencari alasan yang tepat.


"Gue sih sudah dapat ijin dari nyokap sayang kan kalau gue tidak datang? Lagian kapan lagi kita menghabiskan liburan bareng? Tahun depan kita kan mau ngurus masuk PTN jadi tidak mungkin akan ada waktu lagi." Reisha terlihat menatapku datar, dan memasukkan semangka kedalam mulutnya dengan rakus dan mengunyahnya dengan kuat sehingga airnya merembes keluar.


"Heheheh, iya juga sih." Aku masih mencari-cari keberadaan Livia dan Clara.


" Mereka sudah balik ke kota" aku menatap Reisha kaget, tahu darimana dia isi pikiranku? Aku tersenyum canggung padanya.


"Nggak usah canggung, aku tahulah kamu cariin teman-teman. Gerakan kamu terbaca." Reisha membersihkan bekas-bekas air semangka yang ada di wajahnya.


"Oh, hehehe. Kalau gitu mereka kemana?" Reisha menatapku dengan pandangan yang sangat sulit aku baca. Aku berusaha menghilangkan rasa tegang yang ada dalam diriku, entah karena takut atau karena mimpi-mimpi buruk yang pernah hadir sebelum aku kesini, aku melihat Reisha berbeda dari biasanya.


" Mereka balik ke kota dengan alasan yang tidak masuk akal banget, jadi aku disini saja." Aku mengangguk, aku menatap Reisha hati-hati.


"Lo mau tidur sini? Aku mau cari tidur di rumah warga." Reisha terlihat marah tapi sedetik kemudian amarah itu hilang dari matanya. Gadis itu menatapku lembut, dan memegang lenganku.


"Lo temanin gue disini saja kok, lagi pula inikan rumah Oma lo sendiri. Oma Lo pasti sedih kalau tahu lo tidak mau menginap di rumah ini." Aku menggigit bibir dan tertawa yang dibuat-buat, janjiku pada ibuku adalah aku tidak tidur di rumah ini. Itulah salah satu syarat yang kuajuka sehingga aku dapat menyusul di desa ini.


"Gue tahu, tapi kalau pun Oma gue masih ada gue pasti bisa kok menginap di rumah warga. Mendingan kita sama-sama pergi dari rumah ini, nanti besok deh baru gue datang lagi disini." Reisha terlihat berpikir, gadis itu memainkan handphonenya untuk beberapa saat kemudian kembali menatapku dan mengangguk.


"Gue tungguin deh, lo ambil barang bawaan lo." Reisha mengangguk dan mengambil tasnya ke atas. Tidak ada yang berubah dari rumah ini. Aku berjalan keluar rumah, taman-tamannya pun masih indah. Aku teringat pesanan ibuku. Aku berjalan pelan menghampiri seorang pria yang mungkin berusia 40 tahunan. Pria itu terlihat menerawang, aku menepuk pundaknya.


"Ini ada titipan dari ibu, makasih ya pak sudah merawat dan menjaga rumah ini." Pria itu tersenyum, akupun ikut tersenyum.


"Aku balik dulu ya pak, permisi." Aku membalik badan berjalan kembali untuk menemui Reisha.


"Neng Keyla." Aku berbalik pria itu mengucapkan terimakasih, aku mengancungkan jempolku. Sepertinya ada yang aneh dengan orang itu, tapi aku tidak tahu dimana letak keanehannya. Pakaiannya atau wajahnya? Aku menggelengkan kepala tidak mau terlalu memikirkannya.


"Eh, darimana lo? Gue kira lo sudah pergi duluan?" Aku tersenyum dan menggeleng pada Reisha.


"Dari ketemu tukang kebun, aku berikan titipan mama. Kamu sudah kenal dengan tukang kebunku?" Reisha menggeleng.


"Yuk, jalan." Reisha menahanku, aku mengangkat alis menatapnya.


"Kita mau menginap di rumah siapa?" Aku tersenyum.


"Kita ke pak RT dulu," Reisha terlihat ragu kemudian mengikuti berjalan tanpa mengeluarkan protes atau apapun.


******


jangan lupa like, vote dan komentar biar aku makin semangat💃


Happy reading 📖