
Nola lekas menarik tangan Al untuk bergegas pergi menuju gerbong sebelumnya. Tanpa menunggu jawaban dari pemuda tanggung itu, Nola terus saja berjalan tergesa.
Al mengernyit saat merasakan sesuatu melingkar di pergelangan tangan gadis itu. Dilepaskannya cekalan Nola dan berganti tangannya yang mencekal.
"Tunggu, La!"
Nola menjeda langkah, berbalik ke belakang dengan sedikit kerutan di dahi.
"Kenapa?" tanyanya bingung. Keinginan hati terus lanjut agar cepat tiba di tempat yang dimaksud, tapi begitu melihat garis tegang di wajah Al, ia memilih berhenti dan menunggu apa yang akan dilakukan pemuda tanggung itu.
Tanpa menjawab pertanyaan darinya, Al menggulung lengan jaket sebelah kanan Nola. Penasaran dengan apa dirasakan tangannya tadi, ada benda melingkar di sana.
Keduanya membeliak begitu melihat sebuah gelang yang terbuat dari bola-bola kayu kecil melingkari pergelangan tangan Nola.
"Apa ini?" Nola mengangkat tangannya tepat di depan wajah. Memperhatikan lilitan gelang tersebut dengan saksama. Memeriksanya dengan teliti, membolak-balik agar dapat menemukan petunjuk.
"Kamu pakai ini dari rumah?" Al bertanya heran.
Nola tak pernah memakai sembarang perhiasan. Apalagi itu hanya terbuat dari kayu biasa yang jika ditaksir tak ada harganya sama sekali. Nola sendiri tidak tahu dan tidak sadar kapan dia memakainya.
"Aku nggak tahu, perasaan aku nggak punya gelang kayak gini. Ini dari kayu, 'kan? Kapan aku pakai ini, ya?" ucap Nola terheran-heran sendiri sambil memandangi gelang tasbih di tangan.
Al terbelalak seperti menyadari sesuatu. Pandangannya terangkat menatap Nola yang masih sibuk berpikir tentang gelang di tangannya.
"La, kayaknya aku tahu dari mana gelang itu berasal," celetuk Al teringat pada laki-laki tua yang menolong mereka tadi.
Nola mengangkat wajahnya dari tangan, memandang bingung pada teman laki-laki di depannya itu.
"Dari mana?" Bertanya bingung.
"Kalo aku nggak salah nebak, mungkin Bapak tua itu yang kasih. Aku nggak tahu dan emang nggak liat kapan dia pasangnya, tapi kayaknya emang dia yang pasang. Ayo, kita harus cepat!" ucap Al lagi seraya menarik tangan Nola untuk bergegas menemui pak tua itu.
Namun, belum sampai pada gerbong selanjutnya, kereta kembali berhenti. Mereka harus menyingkir terlebih dahulu untuk memberi jalan pada penumpang yang naik dan turun.
Beruntung, kereta listrik tak berhenti lama. Dengan cepat kembali melaju setelah pintu tertutup. Al dan Nola melanjutkan langkah menuju gerbong di mana laki-laki tadi berada. Pintu dibukanya dengan segera, langkah mereka bahkan lebar-lebar dan cepat teringin segara menemuinya.
Namun, setelah berada di gerbong selanjutnya, tak ada apapun yang mereka lihat. Tak satu pun penumpang di dalam gerbong tersebut. Kosong, dan sepi.
"Mungkin kita salah gerbong," celetuk Al dengan cepat menarik Nola kembali ke gerbong berikutnya.
Mereka melihat satu per satu wajah penumpang yang ada di dalam gerbong. Berharap dapat bertemu dengan salah satu penumpang yang sempat satu ruang dengannya. Namun, hasilnya, nihil.
Al terus melanjutkan pencarian, ke gerbong berikutnya. Kembali melihat-lihat wajah penumpang dengan jeli. Lagi-lagi tak satu pun mereka dapati sampai berada di gerbong tempat mereka melarikan diri.
Keduanya kembali duduk dengan lesu. Bahu mereka jatuh ke bawah, lelah dan putus asa mencari bapak penolong itu.
"Kalo aku nggak salah denger, dia bilang mau turun di Rangkasbitung juga. Harusnya bisa masih ada di kereta, dong. Terus di mana?" Al berpikir keras.
Sudah hampir semua gerbong mereka susuri satu per satu, tapi wajah tua itu tak mereka dapati. Mungkin belum jodohnya.
"Terus gimana? Aku ngerasa bersalah banget sama Bapak itu," ucap Nola sedih.
Hari ini Al merasa Nola berbeda, dia memiliki sisi lain selain angkuh dan sombong. Peduli juga empati, dan rasa bersalah yang sebelumnya tak pernah nampak di wajah cantik itu.
"Aku nggak tahu, mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi di Rangkasbitung nanti," ucap Al pada akhirnya.
Untuk mencari lagi, rasanya tidak mungkin karena selain lelah, mereka juga tidak tahu di mana laki-laki tua itu. Kemudian, keadaan Nola juga lemah, wajahnya yang pucat berkeringat. Tak akan mungkin memaksanya untuk kembali berjalan menyusuri setiap gerbong kereta.
Jadilah mereka memutuskan untuk duduk beristirahat sambil berharap akan bertemu dengan sosoknya di stasiun terakhir nanti.
"Kalo kamu ngantuk dan capek, tidur aja. Mumpung nggak ada orang. Tenang aja, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Muka kamu pucet banget," ucap Al menatap Nola dengan cemas.
"Makasih, ya, kamu udah ngertiin aku," katanya, seraya merebahkan diri di kursi penumpang.
Tanpa sadar sebelah tangannya mengusap gelang tasbih tersebut dan menggenggamnya. Ada rasa aman dan nyaman mengalir ke dalam tubuhnya disaat ia melakukan itu. Mungkin benda itu berfungsi sebagai pelindung dirinya dari gangguan segala makhluk yang tak dapat dilihat dengan mata tel*nja*ng.
Al memandang di kejauhan, pikirannya masih berkecamuk pada laki-laki tua yang menolong mereka. Ia menjatuhkan kepala pada jendela, bersandar sambil menatap langit-langit ruangan.
"Aku butuh penjelasan dari ini semua, tapi siapa yang bisa jelasin? Bapak tau satu-satunya orang yang ngerti soal beginian, dia juga pasti tahu kenapa Nola bisa kayak gitu tadi," gumam Al sambil terus berpikir keras.
Kesadarannya hilang terbawa pikiran. Angin berhembus lembut menyapa kulit pipinya. Seperti sebuah belaian yang hangat dan menenangkan. Lambat laun kelopak matanya mulai terpejam, terbuai dalam angan sebuah sentuhan.
"Di sini cuma ada kalian berdua saja, bukannya udah lama kamu suka sama dia? Sekarang kesempatan kamu buat dapetin dia. Jangan tidur, bangun! Lihat, dia sedang tidur."
Sebuah bisikan sampai di telinga Al, halus dan mendayu. Merayu dengan mesra agar ia melakukan apa mau hatinya.
"Buka mata kamu, Al. Lihat gadis itu, menunggu buat kamu sentuh," ucap suara hatinya lagi semakin gencar menggoda.
"Nggak! Pergi! Jangan ganggu aku!" Batin Al berontak.
"Kamu pengecut, Al. Disaat kayak ada kesempatan kayak gini, kamu malah menolak. Aku tahu, jiwa kelelakian kamu mau kamu melakukan itu. Aku juga tahu kamu sering cemburu kalo dia lagi dengan sama laki-laki. Sekarang, waktu buat kamu, Al. Buktikan kalo kamu emang suka sama dia," ucap suara itu lagi semakin gencar menggoda sisi rapuh Al.
Al mereguk ludah, peluh berkumpul di kedua pelipis perlahan mulai turun membasahi pipi dan leher. Jakunnya naik dan turun terbawa arus renjana yang memabukkan. Sebuah rasa teringin menjeremba segala nikmat yang ditawarkan surga dunia.
Kelopak mata itu perlahan terbuka, maniknya turun terpatri pada sesosok tubuh yang tertidur menekuk tubuh sendiri. Nola tampak menggoda, apatah lagi disaat kedua kakinya saling bergesekan.
Tubuhnya menggeliat dalam tidur, mengundang sesuatu yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Lagi-lagi ia meneguk ludah, godaan yang dihantarkan bisikan itu benar-benar membuatnya hanyut bukan kepalang.
Al beranjak, pandang matanya tak lepas dari gadis yang tak berdaya di sana. Dari ujung rambut hingga ujung kaki ditatapnya dengan penuh hasr*t. Al termakan godaannya. Kedua kaki mulai menapak perlahan, suara dukungan terus menjejali telinganya.
"Iya, begitu. Kalo kayak gini, baru kamu disebut jantan."
"Coba lihat baik-baik, dia cantik, 'kan? Seksi, banyak laki-laki yang mau sama dia. Mau sama tubuhnya juga. Kamu mau tahu? Dia masih perawan. Belum ada yang nyentuh."
"Iya, kamu akan jadi laki-laki paling beruntung. Coba aja, pasti rasanya legit kayak kue lapis. Kamu akan lupa daratan, terus melayang tinggi ke angkasa."
"Nggak, Al. Berhenti, Al. Jangan turutin omongan mereka. Inget, Al, dia temen kamu! Dia pasti kecewa kalo kamu lakuin itu! Lawan, Al!"
Sisi lain dari dirinya memperingatkan. Menciptakan gejolak antara ingin dan tidak. Langkah Al terhenti, keragu-raguan sedikit timbul dalam benak.
"Jangan dengerin dia! Itu sisi naif kamu yang ngomong. Bagian dalam diri kamu yang disebut pengecut. Kamu tahu pengecut, 'kan? Rendahan. Jangan dengerin dia, lakukan saja apa yang kamu mau," bisik yang lain tak mau kalah.
Al dalam dilema, kakinya terpaku di lantai dekat Nola terbaring. Tubuhnya tetap saja menggoda meski telah dibalut dengan jaket tebal dan menyembunyikan setiap lekuknya. Padahal, Al sama sekali tidak pernah melihatnya dalam keadaan terbuka, tapi membayangkan kulit putih mulus tanpa cacat itu sudah membuatnya mabuk kepayang.
Tangannya terjulur hendak menggapai tubuh gadis itu, bergetar seluruh rasa hingga jemarinya ikut meneteskan keringat. Mungkin sudah puluhan kali ludah diteguknya, tapi tetap saja tak mampu menghilangkan dahaga yang terus bergolak dalam dada.
"Hentikan, Al! Jangan lakuin itu. Ingat, kamu itu laki-laki yang punya harga diri, Al. Kamu adalah laki-laki bermartabat, bertanggungjawab juga dapat dipercaya. Berhenti di sana dan kembali ke tempat duduk kamu, Al!" tegas sisi yang lain menolak ajakan kelam di bagian jiwa Al.
Pemuda tanggung itu menurunkan kembali tangannya. Pelan-pelan, tapi pasti. Ia kepalkan jemari, kepala tertunduk, rahang mengeras, demi melawan keinginan yang seharusnya tak pernah muncul dalam hatinya.
"Kenapa? Kenapa berhenti? Apa kamu mau jadi pengecut selamanya? Sembunyi dibalik kata teman juga kasihan? Cih ... lemah! Ingat, orang lemah nggak akan pernah bertahan sampai akhir!" cibir sisi lain Al semakin membuatnya menggeram.
Kepalan tangannya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Daging telapak tangan bahkan sobek akibat hantaman kuku-kukunya. Semua itu ia lakukan demi menjaga kesadaran.
"Aku nggak lemah! Aku bukan pengecut. Aku nggak lemah. Aku bukan laki-laki lemah! AKU BUKAN PENGECUT!" Al berteriak di ujung kalimat.
Rongga dadanya menyempit, napasnya memburu, peluh semakin deras mengucur di wajah hingga ke seluruh tubuhnya. Semua bisikan itu hilang dengan sendirinya.
"Al, kenapa kamu di sini?"