
Tap tap tap tap tap, sreeeek sreeeek ! Bunyi sentakan kaki dan benda yang diseret-seret menaiki tangga sangat memekakkan telinga sehingga membangunkan Clara. Clara melirik sahabat-sahabatnya yang masih tertidur pulas, Clara kembali menajamkan telinganya. Bunyi itu masih terdengar malah rasanya semakin dekat dengan kamar Clara, apa memang rumah ini berhantu ya? Clara berdoa memohon perlindungan, tapi bunyi itu semakin terdengar jelas. Clara memberanikan diri membuka pintu pelan-pelan bahkan sampai menahan napasnya sendiri agar tidak menghasilkan bunyi apapun, ada bayangan dalam kegelapan yang menghilang di ruang utama.
Clara menekan rasa penasarannya dengan kembali mengunci pintu rapat-rapat kemudian mencari handphonenya untuk menghubungi keyla, apa benar disini tidak ada sinyal? Tidak ada tanda-tanda jika ada sinyal sedikitpun. Clara menyimpan kembali handphonenya di atas nakas, besok Clara akan mencari cara untuk menghubungi Keyla karena mungkin Keyla bisa memberikan penjelasan kepada mereka.
Di kamar yang lain Arga terbangun dan merasa merinding mendengar anjing yang melolong panjang dan bersahut-sahutan, Arga merutuki dirinya yang disaat seperti ini malah kebelet ingin buang air kecil. Arga menendang selimutnya dan berlari ke kamar mandi, selama di kamar mandi bayangan film-film horor yang pernah dinontonnya menyeruak membuatnya semakin ketakutan. "Huh," desah Arga lega. Arga menaikkan resleting celananya, kemudian berbalik ke kamarnya. Kening Arga mengernyit melihat tirai yang melambai-lambai, ia melirik pintu yang terkunci. Karena ketakutan, Arga segera mencari sakelar lampu dan jantungnya hampir copot ketika lampu menyala di lihatnya Joshua yang langsung tiarap. Arga sudah akan menanyakan sesuatu, tetapi Joshua meletakkan tangan di bibirnya. Arga yang paham akhirnya menurut.
Seketika listrik padam, benar-benar padam. Rumah ini seperti rumah hantu benaran, hanya sedikit sinar bulan yang menjadi penerang di kamar tempat Joshua dan Arga menginap. Joshua berjalan dan naik ke atas ranjangnya. Joshua mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu dalam selimut.
"Gue tadi kebangun karena bunyi-bunyian yang sangat memekakkan telinga, seperti benda tajam yang diseret-seret dilantai. Bunyi itu memutari depan kamar cewek kemudian depan kamar Kita, kemudian hilang di pintu depan. Setelah aku intip dari jendela benar kalau diluar ada orang." Arga membaca tulisan itu dan merinding.
"Apa orang itu mengincar kita? Semacam psikopat?" Joshua mengerutkan alis, kemudian mengetik.
"Aku kurang tahu sih, yang jelas aku merasa itu seseorang." Arga merapatkan diri ke Joshua. Joshua menjauh, menatap Arga jijik. Nanti dikira gay gimana dong? Beberapa menit kemudian kedua pria itu hanya berguling-guling di atas kasur, karena tidak bisa tidur dengan pikiran yang berkecamuk.
Di kamar para cewek Clara juga tidak bisa tidur kembali, Clara menatap teman-temannya yang tertidur lelap gadis itu berjalan ke arah jendela. Tidak ada yang aneh, kecuali bau kemenyan yang menyeruak, Clara komat kamit membaca doa.
Livia tiba-tiba terbangun lalu berjalan keluar kamar. Livia keluar rumah dan berjalan ke arah samping rumah mengikuti sesuatu yang mengganggu tidurnya, dihadapannya berdiri banyak orang yang membaca doa-doa yang bahasanya tidak dikenal atau bahkan tidak pernah di dengarnya, merasa sedikit aneh Livia segera bersembunyi di pohon yang ada di halaman di rumah itu. Livia melihat orang-orang itu menanam sesuatu yang di bungkus kain putih dan masih mengeluarkan darah, karena kain putih itu mulai memerah. Livia merasa mual dan membekap mulutnya, gadis itu memaksa dirinya menyaksikan upacara itu sampai selesai.
Clara yang tadi mengikuti Livia yang keluar rumah tidak bisa menghentikan gadis itu. Clara malah menemukan anak kecil yang mengajaknya bermain dan membawanya keluar dari rumah Oma Darti.
"Kakak, orang baru di tempat ini?" Clara mengangguk dan mengelus rambut anak itu.
"Kamu kenapa keliaran, ini tengah malam lho dek" anak itu tertawa cekikikan, kemudian menatap Clara.
"Aku bukan manusia kak." Clara pucat dan menjauh tapi anak itu memegang tangan Clara, Clara berusaha melepaskannya.
"Aku tidak jahat kok, hihihi." Clara menormalkan jantungnya yang terus berdegup kencang.
"Aku kasian sama kakak, nanti kakak di bunuh mereka. Padahal kakak baik." Anak itu kembali cekikikan.
"Tapi kok aku bisa melihat kamu, padahal aku tidak pernah melihat sebelumnya." Anak itu cekikikan lagi.
"Karena aku ingin banget nolong kakak, hihihi." Clara menatap anak itu horor.
"Aku datang disini mau liburan, aku tidak akan macam-macam kok. Emang siapa yang niat jahat sama aku?" Anak itu menatap rumah Oma Darti.
"Kamu serius? Rumahnya kosong loh, cucunya juga baik." Anak itu menatap Clara sebentar. Kemudian mendekati dan membisikkan sesuatu pada Clara.
"Janji ya, ini rahasia kita. Kakak pulang saja ke kota." Clara menatap anak kecil itu sungguh-sungguh.
"Tapi disini masih ada teman-teman kakak, kakak tidak boleh egois kan?" Anak itu cekikikan dan mengangguk.
Joshua menatap Arga yang juga terlihat gelisah, keduanya menatap langit-langit.
"Arga, apa kita balik saja ke kota? Ini sudah tidak lucu, kita bisa mati konyol di tempat ini." Arga mendengus.
"Iya ga, kita usahakan besok benaran balik ke kota. Tidak perlu ada tawar menawar, pokoknya kita harus bisa pulang." Sahut Joshua.
"Tapi gimana cara bilangnya ke cewek-cewek sih? Nanti mereka curiga lagi pada kita?" Joshua menaikkan selimut menutupi wajahnya untuk kembali tertidur.
" Tanpa perlu dibilang alasannya, kita langsung pulang saja ke kota. Aku ngantuk mau tidur" Arga diam dan ikut memejamkan matanya. Sekarang sudah pukul tiga dinihari, pantas jika pada akhirnya mereka mengantuk.
Setelah tukang kebun itu pergi, Livia mencari jejak untuk membuktikan semalam mimpi atau nyata. Gadis itu melihat benar ada bekas-bekas galian yang masih baru, namun sepertinya di kubur dengan sangat rapi semalam. Livia menggelengkan kepalanya mendadak rasa mual menghampirinya. Gadis itu segera mencari jalan lain untuk masuk ke rumah Oma Darti, takut juga dia kalau di ketahui oleh teman-temannya dan diintrogasi oleh mereka.
Clara yang tadi bersama anak kecil menjadi lega karena mulai pagi, anak itu juga pamit dengan pesan yang sama menyuruh Clara kembali ke rumahnya yang ada di kota. Clara menyusuri jalan setapak untuk kembali ke rumah Oma Darti.
Reisha yang bangun mengernyit heran ketika merasakan tidak ada sahabat-sahabatnya disampingnya. Tidak berpikiran yang jauh gadis itu bangun dan segera mencuci muka kemudian keluar menyediakan sarapan untuk teman-temannya.
Joshua yang bangun duluan kembali ke arah jendela mengintip seperti semalam. Tidak ada yang menarik, Joshua menimbang-nimbang apakah dia perlu keluar untuk mencari tahu? Tetapi itu akan lebih beresiko, karena bagaimanapun jika yang semalam itu benaran orang, orang itu pasti sudah mengetahui seluk beluk yang ada di rumah bahkan sekitar rumah ini. Joshua bergidik ngeri jika seandainya orang itu mengawasi mereka.
Joshua menghela nafas dan merapikan pakaiannya bersiap untuk pulang. Begitu pula dengan Arga yang terbangun langsung merapikan pakaiannya, kemudian keluar dan duduk di ruang tamu untuk sarapan dan membicarakan kepulangannya pada teman-temannya.
Clara memasuki ruang tamu dengan bawah mata yang mulai kehitaman, seperti orang kurang tidur.
" Darimana Clar?" Clara tersenyum menatap Joshua.
"Aku dari cari angin, disini udaranya segar benar kalau pagi!" Joshua mengangguk dan menatap Clara lama. Arga segera menendang tulang kering Joshua.
"Akhhhh. kamu kenapa sih?" Joshua menatap Arga kesal. Arga malah membuat bahasa isyarat yang membuat Clara pusing.
"Aneh banget, kalian berdua." Arga hanya tersenyum canggung. Clara meninggalkan Arga dan Joshu menuju dapur untuk membantu Reisha menyiapkan sarapan.
"Kamu juga dari cari angin?" Joshua menatap Livia yang baru masuk.
"Eh? cari angin? Iya habis cari angin. Hehehehe," Livia tertawa canggung menatap Joshua dan Arga.
"Clara dan Reisha sudah bangun?" Joshua dan Arga mengangguk.
"Kamu tidak sama-sama Clara ya? tadi juga Clara habis dari cari angin kok." Livia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sepertinya kami beda jalur. Hehehe, iya beda jalur." Joshua menaikan alis merasa aneh dengan Livia yang seperti itu. Livia segera berlalu ke arah dapur.
"Kalian darimana sih? Kok saat aku bangun kalian tidak ada?" Clara tersenyum, membantu Raisa menyajikan bubur instan.
"Aku habis cari angin, kalau Livia,..." Clara teringat kejadian semalam tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk diceritakan kepada Reisha.
"Masak apa, kok serius benar mukanya?" Clara dan Reisha menoleh pada Livia yang memasuki dapur.
"Ini masak bubur, kamu juga habis cari angin?" Livia mengangguk.
Clara menatap Livia penuh selidik, Clara sebenarnya sangat ingin tahu apa yang terjadi pada Livia semalam.
"Kok kalian berdua rada aneh sih?" Reisha tidak mengerti dengan kedua sahabatnya ini.
"itu cuma perasaan kamu kok" Clara melanjutkan kegiatannya.
"Iya itu cuma perasaanmu." Livia berujar dengan gugup.
Hening, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan. Ketiga gadis itu terdiam dengan jalan pikiran masing-masing, mereka hanya fokus pada sarapan yang mereka buat untuk sarapan pagi ini.