
Kedua sosok yang berjongkok itu menoleh sempurna, seringai tercetak di bibir mereka yang dipenuhi cairan hitam berbau busuk. Binatang kecil-kecil menyerupai belatung bermunculan dari ke tujuh lubang di kepala mereka. Membuat siapa saja pasti akan merasa mual saat melihat.
Kedua mata mereka kosong, tak ada bola mata yang terlihat. Hanya ada binatang kecil-kecil itu yang menjejali lubang mata, nampak banyak dan sesak. Menjijikkan, bergerak-gerak menggeliat, melompat dan merayap keluar.
Huwek!
Asri memuntahkan isi perutnya, tak tahan dengan bau busuk juga pemandangan yang menjijikkan dari geliat binatang-binatang kecil di wajah dua orang yang baru saja mereka bully. Diikuti dua orang lainnya juga menyemburkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perut mereka.
Hanya satu orang yang tahan, tapi wajahnya sudah terlihat membiru. Buru-buru dia berlari mendahului sambil menarik tangan Asri untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Asri menarik tangan salah satu teman, tapi sayang salah seorang di antara mereka tertinggal.
"Aaarrrgghh!" teriaknya dengan air mata berderai.
Tak hanya ditinggal sendirian, tubuhnya tak dapat bergerak menjauh meskipun kaki terus mengayuh berlari. Jeritannya semakin kuat tatkala dua sosok itu berdiri di belakangnya.
Bunyi patahan tulang terdengar saat kepala dua sosok itu digerakkan, terus melangkah seperti robot yang digerakkan menggunakan remote control.
Asri dan kedua temannya terus saja berlari menuju lorong asrama mereka.
"Tunggu!"
"Ada apa?" jeritnya panik dikala salah satu teman meminta mereka untuk berhenti.
"Chia! Dia nggak ada!" pekiknya memberitahu sembari memastikan jumlah mereka.
Asri dan yang lain menoleh menatap satu sama lain, memastikan salah seorang di antara mereka memang menghilang.
"Terus gimana? Aku nggak mau balik lagi, aku takut," ucap teman Asri sambil menangis ketakutan.
"Terus mau gimana lagi? Biarin aja dia ama makhluk bau itu? Kalian nggak setia kawan, ya. Kita balik lagi!" tegas Asri seraya menarik salah satu tangan temannya untuk menjemput Chia yang tertinggal.
"Aku nggak ikut, aku mau di sini aja. Kalau kamu mau balik lagi, ya udah sana. Aku mau di sini aja," ucapnya sambil merapat ke dinding asrama.
Ada yang aneh, asrama terasa sepi dan sunyi meskipun mereka tahu ada banyak murid yang tertidur di dalam kamar-kamar mereka. Keadaan tak seperti biasa, kamar-kamar asrama terasa hampa seolah-olah tak satu pun berpenghuni.
Asri dan satu teman meninggalkannya sendirian di lorong asrama, berlari kembali ke tempat tadi meskipun harus menghadapi ketakutan mereka sendiri. Namun, mereka berdua tercengang, ketika sampai di tempat temannya tertinggal. Chia sedang melakukan sebuah tarian.
Tangannya digerakkan dengan gemulai, meliuk-liukkan tubuh dengan lemas. Selayaknya seorang penari jaipong senior. Asri dan temannya tertegun di ujung lorong, mulut mereka menganga, genggaman tangan yang saling bertaut mengerat saling menguatkan dan menyalurkan keberanian.
"Chi-chia kenapa?" tanya teman Asri gemetaran.
Mereka tidak berani melangkah sedikitpun, tetap berdiri di tempat mengawasi Chia yang sedang asik sendiri dengan tariannya. Keduanya tersentak, disaat wajah gadis itu menoleh dengan senyum lebar dan mata melotot tajam.
"Sri, aku takut," lirihnya semakin mengeratkan genggaman di tangan Asri.
"Tenang, aku juga takut, tapi kita nggak bisa tinggalin Chia," sahut Asri tak kalah gemetar melihat Chia yang kembali larut dalam tariannya.
Tak ada musik yang mengiringi, tak ada penonton yang bersorak, tapi Chia melakukan hormat menghadap pohon beringin tua yang berdiri tegak. Lalu, tiba-tiba ....
Brugh!
Tubuh Chia ambruk jatuh di tanah, tak sadarkan diri. Dua orang itu terus berlari mendekati, menepuk-nepuk pipi gadis itu agar tersadar.
"Chia, bangun. Bangun, Chia!"
"Ayo, bangun! Aku takut nih."
"Kenapa nggak mau bangun, sih?"
"Chia bangun!"
"Syukurlah, kamu udah bangun. Ayo, pergi!"
Asri menarik tangannya dengan kuat hingga mau tidak mau ia bangun dari duduk dan mengikut langkah kedua temannya yang berlari meskipun masih linglung. Seolah-olah lupa apa yang terjadi sebelumnya.
"Di mana Lita?" tanya Chia saat tak mendapati salah satu temannya.
"Dia nunggu kita di depan asrama," jawab Asri tak menjeda langkahnya.
Sementara gadis di depan asrama yang menunggu sendirian, mulai merasakan keanehan. Ia mengusap tengkuknya yang meremang, pandanganya mengedar ke langit-langit memastikan tak ada apapun di sana.
Memang tak ada, suara binatang malam pun tak terdengar di telinganya. Sunyi sesunyi-sunyinya.
"Duh, Asri lama banget, sih. Ngapain aja coba? Aku takut sendirian," gerutunya dengan pelan.
Kepalanya tak henti berputar menatap sekitar, terlebih saat ia mendengar sesuatu diseret dari ujung lorong yang lain. Tubuhnya beranjak tegang, berdiri menghadap ujung asrama yang memperdengarkan suara gesekan benda di lantai.
Ia terhenyak, napasnya tercekat dikala sesosok bayangan mulai muncul sedikit demi sedikit. Sebuah bayangan hitam yang semakin lama semakin membumbung tinggi dan menyentuh langit-langit mengikuti tatapan mata Lita.
Ingin menjerit, tapi ia kesulitan bernapas. Bayangan itu terus meninggi dan membesar. Lita terjatuh, kepalanya terus saja mendongak. Mulutnya megap-megap, bergetar dan berkedut-kedut ingin mengucapkan sesuatu, tapi kesulitan.
Asri yang baru datang mengernyitkan dahi bingung melihat keadaan Lita yang terduduk di lantai dengan kepala mendongak.
"Lita!" tegurnya dengan suara lantang.
Gadis itu menoleh, raut ketakutan jelas terlihat di wajah yang pucat pasih itu.
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Asri dengan nada panik yang tak ditutupi.
"I-itu ... i-itu ... a-ada-"
"Ada apa? Nggak ada apa-apa, ayo bangun. Cepetan, kita ke kamar!" ucapnya seraya mengangkat tubuh Lita agar segera terbangun dari duduknya.
Tanpa menunggu, Asri menyeret tangannya menuju kamar mereka. Terus masuk dan mengunci pintu setelah mereka semua berada di dalamnya. Tubuhnya lemas, luruh di lantai bersandar pada daun pintu.
Ketiga temannya pun ikut terduduk dengan napas tersengal-sengal. Peluh membanjiri wajah mereka, merembes hingga membasahi pakaian yang membalut tubuh.
"Asri!"
Sebuah suara lirih terdengar di luar asrama. Asri menegang, wajahnya kembali memucat. Bernapas saja tidak. Ia merangkak menjauhi pintu dan bergabung dengan temannya.
"Asri! Lita! Chia! Main, yuk!"
Sebuah ajakan dari suara banyak orang di luar kamar mereka. Asri dan ketiga temannya berdiri, saling berpegangan dengan napas memburu tak karuan. Pandangan mereka awas pada pintu yang kini diketuk beberapa kali sambil nama mereka disebut.
"Sri, siapa mereka?" Lita berbisik di telinga Asri.
"Aku nggak tahu, udahlah diem aja. Nggak usah ke mana-mana," ucap Asri juga ketakutan.
"Tapi mereka terus ketuk-ketuk pintu, Sri. Gimana kalo pintu tiba-tiba kebuka? Aku takut, Sri." Chia ikut bersuara lirih.
"Udah, diem-"
Brak!
"ARRGGHH!"